Update  

32 Tangki Air Bersih Digelontorkan ke Warga Terdampak Kekeringan di Kendal

Kandungan Al-A’raf Ayat 179

Sebanyak 32 tangki atau sekitar 260.000 liter air bersih telah digelontorkan kepada warga di lima desa di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, yang mulai kesulitan mendapatkan air akibat kekeringan.

Zonasi .id (Kendal)– Kekeringan mulai melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Hingga Senin (31/8/2026), sebanyak 32 tangki atau sekitar 260.000 liter air bersih telah didistribusikan kepada warga.
Air bersih tersebut disalurkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari warga yang mulai kesulitan mendapatkan air selama musim kemarau.
Kepala Seksi Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kendal Iwan Sulistyo mengatakan, distribusi air bersih telah menjangkau lima desa di empat kecamatan.
“Total sampai kemarin sudah 32 tangki, sekitar 260.000 liter air bersih yang kami distribusikan,” kata Iwan, Selasa (1/9/2026).
Lima desa tersebut yakni Desa Sidomakmur, Kecamatan Kaliwungu Selatan; Desa Sidokumpul dan Sidodadi, Kecamatan Patean; Desa Kedungsari, Kecamatan Ringinarum; serta Desa Wonodadi, Kecamatan Plantungan.
Distribusi dilakukan bersama sejumlah pihak, yakni Pemkab Kendal, Kodim 0715/Kendal, Polres Kendal, dan Palang Merah Indonesia (PMI).
PMI menjadi salah satu pihak yang paling banyak mengerahkan armada dengan menyumbangkan 18 tangki untuk membantu memenuhi kebutuhan air warga.

Warga Wonodadi Kekurangan Air Selama Sepekan

Salah satu wilayah yang kini membutuhkan pasokan air bersih adalah Desa Wonodadi, Kecamatan Plantungan.
Warga di desa tersebut telah mengalami kesulitan mendapatkan air selama sekitar satu pekan.
“Di Wonodadi sudah sekitar satu minggu mengalami kekeringan. Mereka membutuhkan suplai air untuk kebutuhan sehari-hari,” ujar Iwan.
Kondisi tersebut membuat distribusi air dilakukan secara bertahap dan menyesuaikan kebutuhan warga di setiap wilayah.
Sebelumnya, hingga Agustus 2026, BPBD Kendal mencatat ratusan keluarga di sejumlah desa telah membutuhkan bantuan air bersih akibat kekeringan.

Satu Tangki Disiagakan untuk Kebakaran

Di tengah penyaluran air bersih, BPBD Kendal juga mulai mengantisipasi ancaman lain selama musim kemarau, yakni kebakaran rumah dan lahan.
BPBD menyiapkan satu unit mobil tangki khusus untuk mendukung pemadaman kebakaran.
Armada tersebut tidak digunakan untuk distribusi air bersih sehingga dapat segera dikerahkan apabila terjadi kebakaran.
Selain itu, BPBD Kendal menyiapkan pompa bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang dapat digunakan untuk menyemprotkan air dalam proses pemadaman.
Jika mobil pemadam membutuhkan tambahan air, petugas akan mengambil pasokan dari sumber air terdekat, seperti sungai maupun sumber air lainnya.

Belum Separah Kekeringan 2023

Meski distribusi air bersih terus dilakukan, Iwan menyebut kondisi kekeringan tahun ini belum separah yang terjadi pada 2023.
Saat itu, distribusi air bersih berlangsung lebih lama, yakni sejak sekitar Mei hingga November. Jumlah desa yang terdampak juga jauh lebih banyak dibandingkan tahun ini.
“Kalau dibandingkan dengan 2023, tahun ini belum separah itu. Dulu distribusinya bisa dari Mei sampai November karena desa yang terdampak jauh lebih banyak,” kata Iwan.
BPBD Kendal tetap melakukan mitigasi dengan menyiapkan sejumlah sumber air alternatif, antara lain melalui program pompanisasi dan pembangunan sumur dalam.
Program tersebut telah diterapkan di sejumlah wilayah, termasuk Desa Sido Makmur Kecamatan Kaliwungu Selatan.

Warga Diminta Tak Hanya Mengandalkan Bantuan Air

Selain distribusi air bersih, BPBD Kendal mendorong masyarakat melakukan upaya jangka panjang untuk menjaga ketersediaan air tanah.
Salah satunya dengan membangun sumur resapan di sekitar permukiman maupun sumber air yang digunakan warga.
Iwan mengatakan sosialisasi konservasi air telah dilakukan BPBD bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kendal.
Namun, penerapannya di tingkat masyarakat masih menjadi tantangan.
Menurut dia, sebagian masyarakat masih mengandalkan sumber air yang tersedia tanpa dibarengi upaya menjaga cadangan air tanah.
Padahal, sumur resapan dapat dibuat secara sederhana dan tidak selalu membutuhkan biaya besar.
“Warga yang tinggal di sekitar satu sumber air bisa bersama-sama membuat sumur resapan. Jadi ketika hujan, air tidak langsung terbuang ke saluran, tetapi bisa meresap kembali ke tanah,” ujarnya.
Upaya tersebut dinilai penting agar air hujan dapat tersimpan di dalam tanah dan menjadi cadangan ketika musim kemarau tiba.
Pemerintah desa pun diharapkan aktif mengajak masyarakat melakukan mitigasi sebelum kekeringan semakin parah.
Dengan demikian, warga tidak hanya mengandalkan bantuan air bersih ketika kemarau, tetapi juga memiliki upaya mandiri untuk menjaga ketersediaan sumber air dalam jangka panjang. (Oasis)