9 Pitutur Jawa di Bulan Suro yang Sering Dilupakan, Penuh Nasihat Kehidupan dan Makna Mendalam

lukni maulana
pitutur Jawa di bulan Suro
Ilustrasi AI Gemini

9 pitutur Jawa di bulan Suro yang penuh makna dan masih relevan sebagai pedoman hidup hingga sekarang

ZONASI.ID – Pitutur Jawa di bulan Suro merupakan warisan leluhur yang hingga kini masih relevan sebagai pedoman hidup. Masyarakat Jawa dikenal memiliki banyak petuah dan ajaran yang diwariskan secara turun-temurun melalui cerita, peribahasa, hingga ungkapan bijak yang sarat makna.

Dalam tradisi Jawa, bulan Suro dianggap sebagai bulan yang sakral. Bulan ini bertepatan dengan Muharram dalam kalender Islam dan menjadi momentum untuk melakukan introspeksi diri, mendekatkan diri kepada Tuhan, serta memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.

Karena dianggap sebagai bulan yang istimewa, masyarakat Jawa memiliki berbagai tradisi Suronan, seperti pagelaran wayang kulit, kirab budaya, jamasan pusaka, tirakatan, hingga ziarah ke makam leluhur. Namun di balik berbagai ritual tersebut, terdapat nilai yang jauh lebih penting, yaitu menghayati pitutur Jawa yang diwariskan para leluhur.

9 Pitutur Jawa di Bulan Suro yang Sarat Makna

1. Urip Iku Urup

“Urip iku urup” berarti hidup itu menyala.

Maknanya, manusia hendaknya menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain. Seperti api yang memberikan cahaya dan kehangatan, kehidupan seseorang akan lebih bermakna ketika mampu membantu dan memberi manfaat kepada lingkungan sekitarnya.

2. Memayu Hayuning Bawana

Pitutur ini mengajarkan bahwa manusia memiliki tugas untuk menjaga keharmonisan dunia.

Maknanya adalah berusaha menciptakan keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan bersama. Selain itu, manusia juga harus mengendalikan sifat buruk seperti keserakahan, kebencian, dan angkara murka yang dapat merusak kehidupan bermasyarakat.

3. Suro Diro Joyo Jayadiningrat, Lebur Dening Pangastuti

Ungkapan ini termasuk pitutur Jawa yang sangat populer.

Artinya, segala bentuk kekerasan, kesombongan, dan kemarahan pada akhirnya akan luluh oleh kelembutan hati, kasih sayang, dan kebijaksanaan. Nasihat ini mengajarkan pentingnya kesabaran dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.

4. Ngluruk Tanpo Bolo, Menang Tanpo Ngasorake, Sekti Tanpo Aji-Aji, Sugih Tanpo Bondho

Petuah ini mengandung filosofi kepemimpinan yang sangat dalam.

Maknanya, seseorang dapat berjuang tanpa harus mengandalkan banyak pengikut, menang tanpa merendahkan orang lain, memiliki kewibawaan tanpa kesaktian, dan kaya tanpa bergantung pada harta benda. Nilai ini mengajarkan kerendahan hati dan kekuatan batin.

5. Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan

Pitutur ini mengajarkan keikhlasan dalam menghadapi kehidupan.

Seseorang tidak boleh mudah sakit hati ketika tertimpa musibah dan tidak berlebihan dalam bersedih ketika kehilangan sesuatu. Kehidupan selalu berubah dan manusia harus belajar menerima setiap takdir dengan lapang dada.

6. Ojo Gumunan, Ojo Getunan, Ojo Kagetan, Ojo Aleman

Nasihat ini sangat relevan di era modern.

Artinya, jangan mudah kagum, jangan mudah menyesal, jangan mudah terkejut, dan jangan bersikap manja. Seseorang yang matang secara mental akan mampu menghadapi berbagai situasi dengan tenang dan bijaksana.

7. Ojo Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman

Pitutur ini mengingatkan manusia agar tidak terlalu terobsesi pada jabatan, kekayaan, dan kenikmatan dunia.

Kedudukan dan harta hanyalah titipan yang sifatnya sementara. Oleh karena itu, manusia perlu menjaga keseimbangan antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat.

8. Ajining Diri Saka Lathi, Ajining Raga Saka Busana

Artinya, harga diri seseorang terlihat dari tutur katanya, sedangkan kehormatan fisiknya tercermin dari cara berpakaian.

Petuah ini mengajarkan pentingnya menjaga ucapan dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata yang baik akan mencerminkan kepribadian yang baik pula.

9. Alon-Alon Waton Kelakon

Pitutur Jawa ini sering disalahartikan sebagai ajakan untuk bekerja lambat.

Padahal maknanya adalah melakukan segala sesuatu dengan hati-hati, penuh pertimbangan, dan tidak tergesa-gesa agar tujuan dapat tercapai dengan baik. Ketelitian sering kali lebih penting daripada kecepatan yang berujung pada kesalahan.

Bulan Suro bukan hanya tentang tradisi dan ritual budaya, tetapi juga menjadi momen untuk merenungkan kembali nilai-nilai kehidupan yang diwariskan oleh para leluhur. Melalui pitutur Jawa, masyarakat diajak untuk hidup dengan bijaksana, rendah hati, sabar, dan selalu menjaga hubungan baik dengan sesama.

Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, pesan-pesan luhur dalam pitutur Jawa tetap relevan untuk diterapkan. Nilai-nilai tersebut dapat menjadi pegangan agar manusia tidak kehilangan arah dalam menjalani kehidupan yang penuh tantangan. []