Update  

Warga Banjardowo Genuk Deklarasikan Gerakan Kampung Ngaji dan Literasi

lukni maulana
kampung ngaji dan literasi
Kumpulan warga Banjardowo Rt2/VI Genuk-Semarang/Foto: Imam Darojo

Kegiatan ini mendorong warga untuk mengarahkan anak-anak agar tidak menonton TV atau bermain HP pada pukul 18.00 –19.00 WIB, melainkan mengaji atau membaca buku.

ZONASI.ID (Semarang) – Warga RT 2 RW 6 Kelurahan Banjardowo, Kecamatan Genuk, Kota Semarang, mendeklarasikan gerakan Kampung Ngaji dan Literasi, Sabtu (2/08/2025) malam.

Kegiatan ini berlangsung di rumah salah satu warga, Bapak Hermawan, sebagai wujud komitmen masyarakat dalam mendukung budaya belajar dan membangun ekosistem positif bagi anak-anak di lingkungan tersebut.

Deklarasi tersebut berisi seruan moral dan ajakan kolektif kepada seluruh warga agar kembali menanamkan semangat mengaji dan membaca dalam kehidupan sehari-hari, terutama di kalangan anak-anak.

Dalam sambutannya, Ketua RT 2, Muhammad Arif Fauzan, menekankan bahwa kebiasaan positif harus dimulai dari rumah.

“Mulai malam ini, kami mengajak seluruh warga untuk tidak membiarkan anak-anak menonton televisi atau bermain handphone antara pukul 18.00 hingga 19.00 WIB. Waktu ini kami khususkan untuk kegiatan ngaji atau membaca, sebagai bagian dari gerakan Kampung Ngaji dan Literasi,” tegas Arif Fauzan.

Menurutnya, langkah tersebut diambil untuk menghadirkan kembali ruang-ruang pendidikan nonformal yang bermakna, sekaligus merespons kekhawatiran masyarakat terhadap kecanduan gawai dan minimnya minat baca anak-anak.

Arif juga mengajak para orang tua agar aktif mendampingi dan memberikan contoh kepada anak-anak dalam membangun kebiasaan belajar di rumah.

“Bagi anak-anak yang masih aktif mengaji, kami harap tetap dilanjutkan. Bagi yang sudah tidak mengaji di TPQ, bisa tetap mengaji di rumah atau menggantinya dengan kegiatan membaca buku,” imbuhnya.

Gerakan ini juga diperkuat oleh keberadaan dua fasilitas pendidikan nonformal di lingkungan RT 2 RW 6, yakni TPQ Suluh Nusantara dan Taman Baca Suluh Ar-Rosyid. Keduanya berada dalam pengasuhan Ninik Ambarwati, seorang pegiat pendidikan anak yang telah lama aktif membina kegiatan belajar anak-anak di kampung tersebut.

TPQ Suluh Nusantara selama ini menjadi pusat kegiatan mengaji dan belajar keagamaan anak-anak dari usia dini hingga remaja.

Sementara itu, Taman Baca Suluh Ar-Rosyid menyediakan berbagai koleksi buku bacaan, dari buku cerita anak, buku pengetahuan umum, hingga ensiklopedia sederhana yang bisa diakses secara gratis.

“Setiap sore dan malam, anak-anak datang ke sini untuk mengaji. Ada pula yang datang hanya untuk membaca buku. Itu sudah berlangsung bertahun-tahun.

Tapi dengan deklarasi ini, semoga semangatnya makin tumbuh,” kata Ninik Ambarwati saat ditemui di lokasi kegiatan.

Menariknya, pada malam deklarasi tersebut, ruang taman baca juga digunakan untuk kegiatan latihan menari, yang telah berlangsung hampir satu minggu terakhir. Kegiatan ini diikuti anak-anak usia TK hingga SD.

Rencananya, penampilan tari ini akan menjadi salah satu hiburan dalam gelaran malam tasyakuran peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-80 yang akan datang.

“Latihan tari ini bagian dari pengembangan minat bakat anak. Mereka antusias sekali. Kita fasilitasi supaya semangat belajar dan kegiatan positif itu berimbang,” tambah Ninik.

Warga menyambut baik inisiatif ini. Selain memperkuat identitas kampung yang berbasis pendidikan dan keagamaan, gerakan ini juga diharapkan mampu membentengi anak-anak dari pengaruh negatif media digital, sekaligus menumbuhkan budaya membaca sejak dini.

Salah satu orang tua, Ibu Zum, mengatakan bahwa ia merasa terbantu dengan adanya gerakan ini.

“Kadang anak-anak sulit lepas dari HP. Tapi karena sekarang ramai-ramai ngaji atau baca buku jam 6 sampai 7 malam, mereka jadi semangat ikut teman-temannya,” ujar dia.

Deklarasi Gerakan Kampung Ngaji dan Literasi ini menjadi contoh nyata peran masyarakat dalam membangun pendidikan dari bawah, dimulai dari keluarga dan lingkungan terdekat.

Warga berharap, gerakan ini bisa terus berjalan dan didukung penuh oleh pemerintah setempat, baik dari sisi pendampingan maupun pengembangan fasilitas belajar yang memadai. []