Raedu Basha membedah antologi cerpen terbarunya yang mengangkat nilai pesantren, spiritualitas, dan filosofi Toko Kelontong Madura.
ZONASI.ID (Kendal) – Sastrawan asal Madura, Raedu Basha, membedah kumpulan cerita pendek (cerpen) terbarunya berjudul Sepucuk Surat pada Selembar Daun Talas dalam forum diskusi NgopiSastra#31 yang digelar Pelataran Sastra Kaliwungu (PSK) di KopiSufi, Kecamatan Brangsong, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Senin (13/7/2026) malam.
Diskusi yang dipandu Sekretaris Jenderal PSK, Lukluk Atsmara Anjaina, itu berlangsung mulai pukul 21.00 WIB. Forum membahas secara mendalam isi 11 cerpen dalam antologi tersebut, mulai dari latar cerita, karakter, hingga gagasan yang diangkat penulis.
Raedu Basha, yang memiliki nama asli Muhammad Badrus Shaleh Sibqi atau akrab disapa Lora Badrus, menjelaskan bahwa buku tersebut lahir dari pengalaman dan pengamatannya terhadap kehidupan pesantren.
Alumnus Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-guluk Sumenep dan Pondok Pesantren Sarang Rembang itu mengatakan, karya-karyanya merupakan potret keseharian dunia pesantren yang ingin menghadirkan kembali nilai-nilai ketulusan, tradisi keilmuan, dan budaya literasi.
“Melalui buku antologi ini, saya ingin mengingatkan publik pada sosok ‘kiai yang sebenarnya kiai’, menyoroti pergeseran nilai tabiat orang pesantren saat ini, sekaligus membudayakan tradisi menulis di kalangan santri,” ujar Raedu.
Dalam diskusi tersebut, pembahasan juga berkembang ke fenomena menjamurnya Toko Kelontong Madura yang dinilai mampu bersaing dengan jaringan ritel modern.
Menurut Raedu, keberadaan toko kelontong tersebut mencerminkan keyakinan masyarakat Madura bahwa rezeki sepenuhnya berada dalam kuasa Tuhan, bukan semata-mata ditentukan oleh perhitungan bisnis.
Diskusi menghadirkan dua pemantik, yakni akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang dan Universitas Terbuka (UT), Zulfa Fahmy, serta penulis dan pegiat literasi Widyanuari Eko Putra.
Zulfa Fahmy menilai cerpen “Ruang Tamu Kyai Dahol” menjadi salah satu karya yang paling banyak dibahas mahasiswa pada Mata Kuliah Cerita Rekaan di Universitas Terbuka.
Menurutnya, mahasiswa UT yang sebagian besar berasal dari daerah pedesaan mampu menemukan refleksi kehidupan mereka dalam cerpen tersebut, terutama mengenai hubungan antara kiai dan masyarakat desa yang dilandasi ketulusan.
“Raedu sedang melakukan pembelaan estetik terhadap para kiai yang sunyi. Di luar lingkaran elit yang korup, masih ada kiai yang didasari kemurnian ilmu dan ketulusan spiritual, bukan syahwat politik atau materi,” kata Zulfa.
Ia juga menambahkan bahwa tidak semua persoalan kemanusiaan dapat diselesaikan melalui pendekatan rasional semata karena terdapat dimensi transenden yang turut memengaruhi kehidupan manusia.
Sementara itu, Widyanuari Eko Putra menilai benang merah dalam antologi cerpen tersebut berkaitan dengan persoalan kekuasaan yang kerap bersinggungan dengan institusi keagamaan dan para tokohnya.
“Meski demikian, saya memilih fokus pada substansi kritik kekuasaan itu sendiri,” ujar Widyanuari.
Menutup diskusi, Zulfa Fahmy mengibaratkan karya Raedu Basha sebagai “sepucuk surat” yang disampaikan melalui simbol daun talas. Menurutnya, antologi tersebut menghadirkan pesan kemanusiaan yang relevan di tengah dinamika sosial dan keagamaan saat ini.
Raedu Basha sendiri dikenal sebagai sastrawan sekaligus antropolog lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia pernah menjadi penulis terpilih Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2015, serta menerima Nusantara Academic Award 2019 dan Anugerah Sutasoma 2020. []











