Kolom  

Analisis Strategis Istighosah Kemanusiaan Penanganan ROB Demak, 15 Juni 2025: Sebuah Perspektif Teori Permainan

icon zonasi
Istighosah Kemanusiaan Penanganan ROB Demak
Istighosah dan Aksi Kemanusiaan warga Demak selamatkan Kota Semak dari Rob dan Banjir, Minggu (15/06/2025)/Foto: Lukni

Aksi Istighosah bukan sekadar lantunan zikir, ia adalah manuver cerdas dalam permainan berisiko tinggi demi menyelamatkan Demak.

Oleh: Muhammad Nur Ihsan
(Personal Desk Research Analysis with Game Theory)

KEGIATAN “Aksi Istighosah Kemanusiaan Penanganan ROB Demak” yang diselenggarakan pada siang hari ini, 15 Juni 2025, di depan PT. Hartono Istana Teknologi (Polytron) di Sayung, Demak, menampilkan dinamika sosial-lingkungan yang kompleks.

Melalui lensa Teori Permainan (Game Theory), peristiwa ini bukan sekadar unjuk rasa spiritual, melainkan sebuah manuver strategis dalam permainan kompleks yang melibatkan banyak aktor.

Di dalamnya terdapat masyarakat terdampak, korporasi, pemerintah daerah, dan pemerintah pusat yang saling memantau, bernegosiasi, bahkan berhadapan dalam dinamika yang penuh kalkulasi.

Taruhan dari permainan ini sangat tinggi menyangkut keberlanjutan lingkungan, tanggung jawab sosial, dan stabilitas ekonomi regional.

Setiap langkah yang diambil oleh satu pihak akan memengaruhi pilihan dan respons pihak lain, membentuk keseimbangan baru yang bisa bersifat kooperatif atau konfrontatif tergantung persepsi, insentif, dan tekanan publik yang berkembang.

Konteksnya adalah krisis rob (banjir air laut) yang semakin parah di pesisir Demak, khususnya di Sayung, yang telah mencapai tingkat kerusakan ekologis dan sosial-ekonomi yang mengkhawatirkan.

Data terkini dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Demak mencatat luasan genangan permanen pada Juni 2025 mencapai 3.872 hektar, meningkat 17% dibandingkan Juni 2024, dengan 12 desa terendam parah dan mengakibatkan lebih dari 8.500 jiwa mengungsi atau hidup dalam kondisi darurat.

Kerugian ekonomi langsung diperkirakan telah melampaui Rp 1,2 triliun sejak 2020, terutama pada sektor perikanan tambak, pertanian, dan UMKM lokal.

Permainan ini dapat dimodelkan sebagai Dynamic Game of Incomplete Information dengan Pemain Utama:

(1) Masyarakat Terdampak (M), diwakili oleh koalisi warga, nelayan, petambak, dan LSM lingkungan (seperti WALHI Jateng dan Tim SAR Demak);

(2) PT. Hartono Istana Teknologi/Polytron representasi dari Korporasi di lingkungan Kawasan Industri (K), sebagai entitas korporasi besar dengan aset signifikan di wilayah tersebut;

(3) Pemerintah Daerah (Pemda), khususnya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Demak; dan

(4) Pemerintah Pusat (Pempus), melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), serta Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Objek Permainan adalah alokasi sumber daya dan tanggung jawab untuk penanganan rob secara komprehensif, termasuk mitigasi jangka pendek (seperti tanggul darurat dan pompa), relokasi, restorasi ekosistem mangrove, dan infrastruktur pencegah rob jangka panjang (tanggul permanen atau sistem polder).

Payoff yang diinginkan setiap pemain berbeda:

  • Masyarakat menginginkan keamanan, pemulihan mata pencaharian, dan keadilan lingkungan;
  • Korporasi menginginkan kelancaran operasi, reputasi positif, dan minimalisasi biaya tambahan;
  • Pemda menginginkan stabilitas sosial, pertumbuhan ekonomi, dan legitimasi politik;
  • Pempus menginginkan penanganan krisis nasional, kepatuhan terhadap regulasi lingkungan, dan iklim investasi yang stabil.

Aksi Istighosah pada hari ini merupakan strategi sinyal (signaling strategy) yang canggih yang dilakukan oleh Masyarakat Terdampak (M).

Dalam game theory, sinyal adalah tindakan yang dilakukan oleh satu pemain (dengan biaya tertentu) untuk mengungkapkan informasi pribadi (seperti tingkat komitmen, keputusasaan, atau kekuatan koalisi) kepada pemain lain, sehingga dapat mempengaruhi keyakinan dan tindakan mereka.

Memilih bentuk “Istighosah” – sebuah doa bersama yang bersifat spiritual namun juga politis dalam konteks Indonesia – membawa beberapa keunggulan strategis.

Pertama, ini adalah sinyal kredibel (credible signal). Mengumpulkan massa di tengah kondisi rob yang parah pada hari Minggu siang, dengan risiko gangguan aktivitas dan potensi konfrontasi, menunjukkan tingkat komitmen tinggi (high commitment) dan keputusasaan (desperation) masyarakat.

Biaya partisipasi (waktu, tenaga, potensi risiko) membuat sinyal ini sulit ditiru oleh kelompok dengan motivasi rendah (separating equilibrium).

Kedua, bentuk istighosah memanfaatkan nilai kultural dan religius yang kuat di Demak dan Indonesia umumnya, meningkatkan legitimasi moral aksi dan mempersulit korporasi atau pemerintah untuk memberikan respon yang dianggap menafikan nilai-nilai tersebut.

Ketiga, ini berfungsi sebagai focal point untuk mengkristalkan dan memobilisasi dukungan publik yang lebih luas, baik lokal maupun nasional, melalui liputan media yang sudah diprediksi akan intensif.

Informasi yang belum banyak dipublikasikan ke publik, berdasarkan sumber internal koalisi masyarakat, adalah alasan strategis di balik pemilihan lokasi aksi tepat di depan gerbang utama Polytron.

Lokasi ini dipilih bukan semata karena visibilitas tinggi dan akses media, tetapi juga karena berbasis data yang cukup kuat.

Citra satelit dan pengukuran independen dari akademisi UGM dan UNDIP menunjukkan adanya dugaan kontribusi signifikan dari operasional industri di kawasan tersebut terhadap percepatan subsiden atau penurunan tanah lokal.

Faktor utama yang disorot adalah penggunaan air tanah dalam skala besar oleh pihak industri, serta modifikasi lahan untuk ekspansi pabrik dalam beberapa tahun terakhir.

Aktivitas ini diduga memperparah kondisi tanah yang sudah rentan, sehingga mempercepat intrusi air laut ke wilayah daratan.

Dengan menempatkan aksi di titik ini, koalisi masyarakat ingin mengirimkan pesan tegas berbasis bukti ilmiah bahwa korporasi tak bisa lepas dari tanggung jawab dalam krisis rob yang terjadi.

Data ini menjadi informasi pribadi (private information) masyarakat yang coba “dilelang” melalui aksi ini untuk memaksa transparansi.

Respon Korporasi/Industri (K) terhadap aksi ini menjadi langkah kritis dalam permainan. Perusahaan memiliki beberapa strategi murni (pure strategies):

(1) Ignoring/Stonewalling
Mengabaikan aksi, melanjutkan operasi seperti biasa, mungkin dengan meningkatkan keamanan. Ini berisiko tinggi memperparah reputasi, memicu eskalasi aksi (potensi mogok kerja atau boikot produk), dan mengundang intervensi regulator yang lebih keras.

Payoff jangka pendek mungkin stabil (tidak ada biaya langsung), tetapi payoff jangka panjang sangat negatif.

(2) Symbolic Gesture
Mengeluarkan pernyataan simpati, mungkin menawarkan bantuan kemanusiaan terbatas (sembako, tenda) tanpa mengakui tanggung jawab atau berkomitmen pada solusi struktural.

Ini adalah strategi cheap talk yang berisiko terlihat tidak tulus dan gagal memuaskan masyarakat atau meredakan tekanan.

(3) Negotiation & Commitment
Berdialog serius dengan perwakilan masyarakat dan pemda, mengakui sebagian masalah (bahkan tanpa menerima sepenuhnya), dan berkomitmen pada kontribusi nyata (pendanaan tanggul darurat, studi bersama, program CSR besar-besaran untuk relokasi/adaptasi).

Ini memerlukan biaya tinggi tetapi berpotensi memulihkan reputasi dan menstabilkan operasi. Berdasarkan informasi internal perusahaan yang belum tersiar luas, manajemen senior Polytron sebenarnya telah melakukan kajian risiko reputasi intensif dalam sepekan terakhir.

Terdapat perdebatan internal antara fokus jangka pendek (meminimalkan biaya) dan fokus jangka panjang (menyelamatkan brand dan hubungan masyarakat).

Keputusan akhir kemungkinan akan berupa strategi hibrida: respon awal simbolis diikuti oleh pembukaan ruang dialog terbatas, mencoba menggeser fokus tanggung jawab ke pemda dan pempus (strategi buck-passing).

Antara Rob dan Pemkab Demak: Mediator yang Terkepung Kepentingan

Peran Pemkab Demak (Pemda) dalam permainan ini adalah sebagai mediator sekaligus pemain dengan kepentingan sendiri. Pemda memiliki insentif kuat untuk meredakan ketegangan dan mencegah aksi eskalasi yang dapat mengganggu “iklim investasi”.

Namun, Pemda juga menghadapi kendala anggaran dan kapasitas teknis yang parah untuk menangani rob sekala besar. Strategi Pemda cenderung berupa mengalihkan tekanan (deflection):

Pertama, Menekan korporasi/industri ex: Polytron untuk memberikan kontribusi CSR lebih besar sebagai solusi parsial.

Kedua, Memperbesar tuntutan kepada Pempus untuk percepatan proyek strategis nasional seperti Tanggul Laut Demak (TLD) Tahap III-IV atau program restorasi mangrove besar-besaran

Aksi Istighosah ini, ditujukan ke Pempus, juga merupakan sinyal kuat bagi Pemda tentang ketidakpuasan masyarakat terhadap kecepatan dan efektivitas penanganan selama ini.

Data anggaran penanganan rob Pemkab Demak tahun 2025 (sekitar Rp 85 miliar) secara gamblang tidak memadai untuk skala bencana, dan realisasinya hingga Juni hanya mencapai 42%, sebagian besar untuk bantuan darurat, bukan solusi infrastruktur.

Ketiga, Pemerintah Pusat (Pempus) bertindak sebagai pemain dengan kekuatan koersif dan anggaran terbesar, namun seringkali menjadi pemain yang jauh (distant player).

Pempus memiliki alat seperti audit lingkungan oleh KLHK, pengetatan izin lingkungan, atau percepatan proyek infrastruktur nasional. Aksi massa yang viral dan bernuansa kemanusiaan ini meningkatkan visibilitas nasional (national spotlight) krisis Demak, yang meningkatkan biaya politik bagi Pempus untuk terus dianggap lamban.

Ini memaksa Pempus untuk lebih aktif berperan, mungkin dengan menekan Pemda dan Korporasi/Industri secara lebih terbuka, atau mempercepat realisasi proyek TLD yang telah mengalami keterlambatan bertahun-tahun akibat masalah anggaran dan lelang.

Namun, Pempus juga harus mempertimbangkan kepentingan investasi nasional dan hubungan dengan komunitas bisnis.

Strategi optimal Pempus mungkin adalah intervensi selektif: mengirimkan pejabat senior untuk menunjukkan perhatian, menjanjikan percepatan proyek nasional (menciptakan harapan rasional/rational expectation), sekaligus secara halus mendorong Korporasi/Industri untuk berbuat lebih banyak melalui jalur non-formal, memanfaatkan jaringan bisnis-politik yang kuat dari masing-masing grup usaha tersebut.

Dalam jangka panjang, interaksi ini menggambarkan Permainan Berulang (Repeated Game). Hasil dari Aksi Istighosah 15 Juni ini akan menentukan titik keseimbangan (equilibrium) selanjutnya.

Jika respon Korporasi/Industri dan Pemda dipersepsikan sebagai cheap talk atau stonewalling, masyarakat akan memperbarui keyakinan mereka bahwa strategi konfrontasi lebih diperlukan, meningkatkan kemungkinan aksi yang lebih besar, lebih disruptif, atau gugatan hukum di masa depan (escalation). Hal ini akan meningkatkan biaya bagi semua pemain.

Sebaliknya, jika aksi ini berhasil memicu komitmen nyata (dana tanggul darurat dari Polytron, percepatan proyek TLD oleh Pempus, transparansi data oleh Pemda), maka ini dapat membangun kepercayaan (trust) yang rapuh dan membuka jalan bagi kerjasama (cooperation) dalam bentuk forum multi-pihak untuk penanganan rob jangka panjang.

Kerjasama semacam itu adalah Nash Equilibrium yang lebih stabil dan diinginkan secara sosial, tetapi sulit dicapai karena memerlukan pengorbanan sumber daya jangka pendek dari semua pihak dan mekanisme enforcement yang kredibel.

Ancaman titik balik (trigger strategy) dari masyarakat (misalnya, kembali ke aksi jika komitmen dilanggar) diperlukan untuk mempertahankan keseimbangan kerjasama ini.

Faktor penting lain adalah peran media dan publik nasional sebagai “pemain tambahan” (external audience).

Liputan media yang intensif tentang aksi istighosah di tengah genangan rob memperbesar bayangan masa depan (shadow of the future) bagi Korporasi/Inudstri dan Pemda.

Kerusakan reputasi di tingkat nasional merupakan biaya yang sangat tinggi bagi korporasi yang bergantung pada citra konsumen dan bagi pemerintah daerah/pusat yang peka terhadap opini publik.

Publikasi data dan tuntutan masyarakat selama aksi berpotensi mengubah keyakinan (beliefs) publik dan investor tentang peran Korporasi/Industri dalam krisis ini, yang pada gilirannya mempengaruhi payoff Korporasi secara signifikan. Pemilihan hari Minggu siang juga strategis untuk memaksimalkan partisipasi warga dan potensi liputan.

Dengan demikian, Aksi Istighosah Kemanusiaan di Demak pada 15 Juni 2025 atas bencana rob dan banjir siang ini jauh lebih dari sekadar ritual keagamaan.

  • Ia merupakan langkah kalkulatif dalam permainan strategis berisiko tinggi.
  • Ia adalah instrumen untuk mengungkap informasi pribadi (kekuatan koalisi masyarakat, data dugaan kontribusi subsiden), mengirim sinyal kredibel tentang komitmen dan keputusasaan, meningkatkan biaya kelambanan bagi korporasi dan pemerintah, serta mencoba memaksa pergeseran permainan dari zero-sum (dimana keuntungan satu pihak adalah kerugian pihak lain) menuju positive-sum (dimana kerjasama dapat menghasilkan solusi yang lebih baik bagi semua, meskipun tidak sempurna).
  • Keberhasilannya tidak diukur pada hari ini semata, tetapi pada bagaimana ia mengubah struktur insentif dan keyakinan semua pemain, mendorong tindakan nyata dalam minggu dan bulan mendatang.
  • Titik keseimbangan baru yang tercipta pasca-aksi ini akan menentukan apakah siklus konfrontasi berlanjut atau pintu menuju kolaborasi yang lebih konstruktif untuk menyelamatkan Demak dari rob akhirnya terbuka.

Dalam permainan melawan kenaikan air laut (rob) Demak dan land subsidence/amblesan tanah, waktu adalah sumber daya yang paling langka, dan aksi hari ini adalah upaya strategis untuk memanipulasi garis waktu tersebut demi kepentingan mereka yang paling terdampak. [Luk]