Produk Artificial Intelligence masih mengundang perdebatan, menjadi sebuah karya hasil kreatifitas, atau hanya alat yang tidak bisa diklaim hak ciptanya. Perdebatan etis, etik menjadi panduan bahwa karya AI tidak diakui sebagai karya orisinil seseorang
ZONASI.ID (SEMARANG) Diskusi tentang kecerdasan buatan hingga kini masih layak diteruskan untuk menguji alat tersebut diterima khalayak sebagai produk atau karya intelektual.
Komunitas Santri Bajingan bersama Pondok Pesantren Al-Itqon, Bugen, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, menggelar acara Suluk Senin Pahingan dengan tema “Artificial Intelligence, Masa Depan?” pada Senin malam (10/11/2024).
Dipandu oleh moderator Fathul Munib, acara ini mengundang sejumlah pembicara untuk membahas dampak kecerdasan buatan (AI) di masa mendatang. Abdul Karim, penggiat AI, dan Gunawan Budi Susanto , penulis.
Menurut Abdul Karim, Meski teknologi AI semakin canggih, sering kali hasil yang diberikan perlu diperiksa ulang.
“AI memerlukan penggunaan prompt yang tepat agar dapat berfungsi sesuai tujuan,” jelasnya.
Pembicara lain, Gunawan Budi Susanto, lebih menyoroti aspek moral yang tak dapat dimiliki oleh AI. Ia menekankan bahwa kecerdasan buatan tidak mampu menggantikan empati dan pemahaman moral yang melekat pada manusia.
Di sesi terakhir, budayawan Timur Sinar Suprabana, membacakan puisi karyanya. Di acara tersebut, Timur membagikan buku berjudul IMAN.
Buku ini unik, karena diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Usman Arrumy, seorang penyair, sastrawan lulusan Al Azhar. Buku tersebut dibagikan kepada 50 pendatang pertama, peserta diskusi suluk pahingan. (Ok)







