Bedhaya Puspitasari: Harmoni Tari dan Filosofi yang Menyemarakkan Perhelatan Ngunduh Mantu di Semarang
Oleh: Agus Budi Santoso
ADA yang berbeda ketika seorang Budayawan kota Semarang Bambang Budiono yangg akrab disapa Budi Lee, ketua Komunitas Tirang Community ketika mengadakan perhelatan Ngunduh mantu, putra sulungnya di Gedung pertemuan Museum Ronggowarsito, Sabtu (11/2025).
Para tamu undangan disuguhi sebuah persembahan Prosesi mengiringi masuknya rombongan mempelai dan kedua orang tua kepelaminan dengan suguhan tari Bedhayan.
Tari ini diciptakan berdasarkan inspirasi nama pengantin wanita Intan Desy Puspitasari, yang diterjemahkan oleh koreografer Sri Paminto dan penata gending Githung Sugiyanto menjadi sebuah garap karya tari baru yang sangat indah dan agung.
Diawali sembilan penari Wanita yang membawa bunga Melati memasuki Gedung berjalan lemah gemulai mengiringi kedua mempelai dan orang tua pengantin sekalian hingga pelaminan, kemudian kesembilan penari dari Komunitas Tirang Community mulai membentuk formasi dan Gending Puspitasari ditabuh, terdengar lembut mengalun mengiringi tarian yang berdurasi sekitar 15 menit.
Menurut Sri Paminto sang Koreografer Tari ini mengandung makna filosofi perlambang kuntum bunga yang harum mewangi, walaupun kelopak bunga tercerai berai, asalkan pancer utama tetap tegak dan utuh harumnya akan langgeng.
Tampak dalam gerakan seorang penari menjadi pusat dan penari lain melakukan gerak menyembah. Ketika diterjemahkan kedalam filosofi rumah tangga tampak beberapa godaan dan ujian keimanan yang harus senantiasa diperangi agar keutuhan rumah tangga tetap utuh terjaga.
Sementara penata Gending Githung menciptakan Gending garap baru dengan notasi Gending Puspitasari. Laras Pelog Pathet Barang.
Ketika dikonfirmasi tentang ide dan filosofi penciptaan gendhing Puspitasari, disebutkan bahwa Gending ini terjemahan dari bunga sedang mekar berkembang, bersinar, beraroma wangi dengan warnanya yang beraneka ragam di sebuah taman, yang selalu membuat terpesona siapa saja yang memandangnya.
Dianalogikan seorang wanita yang sangat cantik, pandangannya tajam nan menawan yang menggugah rasa yg terpendam dalam hati.
Seorang wanita yang anggun dalam berbusana, serta lembut dalam berbicara. Tingkah lakunya selalu menyenangkan, ibarat bidadari sebagai terbangnya malam, yang selalu menjadi pujaan, diharapkan langgeng menyinari dunia.
“Sungguh sebuah karya dari Seniman kota Semarang, Tari klasik baru yang sangat layak diapresiasi” ujar Christian Saputro pemerhati budaya Lampung salah satu tamu undangan yang menyaksikan prosesi pagelaran tari ini. [Luk]

















