Update  

Bupati Kendal Ikut Tradisi Weh -wehan

Muzayyin Mahbub
Weh – wehan , atau saling memberi, adalah salah satu tradisi yang dimiliki oleh masyarakat Kaliwungu Kabupaten Kendal. Tradisi peninggalan nenek moyang itu, hingga kini masih lestari dan selalu dilakukan oleh masyarakat Kaliwungu, dalam rangka memperingati lahirnya nabi Muhammad SAW.

Zonasi.id (Kendal) – Di Kaliwungu Kabupaten Kendal, ada tradisi, yang bernama Weh-wehan atau saling memberi. Tradisi ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari, tak hanya menyaksikan, tapi juga turut melakukannya, tradisi tersebut, di RW 08 Kampung Anyar Desa Krajankulon Kecamatan Kaliwungu, Kamis (4/9).
Dengan membawa makanan dalam kardus, Bupati menyerahkannya kepada warga yang sudah siap melaksanakan tradisi unik tersebut sambil menerima makanan pemberian warga.
“Kita sengaja hadir untuk melihat secara langsung dan turut nguri-uri tradisi yang sudah hidup turun-menurun di tengah masyarakat Kaliwungu ini,” kata Mbak Tika, sapaan akrab Bupati.
Mbak Tika juga mengaku sangat mendukung tradisi tersebut sebagai upaya menghormati kelahiran Nabi Muhammad Saw.
Selain saling berbagi, tradisi tersebut juga menjadi ajang silaturahmi antarwarga, sekaligus sebagai ekspresi rasa syukur dan bahagia atas limpahan rezeki.
“Saya berharap, ke depan tradisi ini tetap lestari bahkan makin berkembang sehingga bisa menjadi salah satu daya tarik wisata, khusunya wisata religi,” ungkapnya.
Tradisi weh-wehan adalah tradisi saling berbagi makanan yang hanya dilakukan pada saat menjelang malam Maulud Nabi Muhammad Saw.
Kepala Desa Krajankulon Kecamatan Kaliwungu, Abdul Latif menuturkan, pada mulanya, tradisi unik ini hanya hidup di wilayah Desa Krajankulon.
Namun kini, tradisi khusus untuk menyambut kelahiran Nabi Agung Muhammad Saw itu telah berkembang di semua desa yang ada di Kecamatan Kaliwungu.
“Beberapa desa di Kecamatan Brangsong yang berbatasan dengan Kaliwungu juga ada yang turut serta menghidupkan tradisi ini,” ujar Kepala Desa Krajankulon Abdul Latif.
Bahkan, lanjutnya, ada warga dari daerah lain yang sambul membawa makanan dalam mobil, turut melakukan tradisi ini di tepi jalan raya Kaliwungu.
Latif mengungkapkan, menurut sejarahnya, konon tradisi ini diinisiasi oleh ulama besar di Kaliwungu, yakni KH Asy’ari znagvdikenal sebagai Mbah Kiai Guru.
Weh-wehan adalah wujud rasa syukur atas karunia besar berupa kelahiran Nabi Muhammad Saw sekaligus keberlimpahan rezeki. Artinya, lanjut Latuf, karena telah diberi kemakmuran dan keberlimpahan rezeki, jangan lupa untuk berbagi.
“Makanya ada makanan khas berupa sumpil, yaitu nasi yang dibungkus dengan daun bambu dengan cocolan sambal kelapa. Zaman dulu nasi, bambu, dan kelapa adalah sesuatu yang sangat dekat dengan masyarakat, dan itu sebagai lambang kemakmuran,” jelasnya.