Berlatar dekade 1990-an, serial ini mengungkap sisi kelam Tokyo lewat intrik Yakuza, krisis ekonomi, dan korupsi birokrasi.
Oleh: Beno Siang Pamungkas
SAYA tertarik menonton serial “Tokyo Vice” yang diangkat dari buku memoir dengan judul yang sama karya Jake Adelstein, seorang jurnalis gaijin (orang luar Jepang) di salah satu surat kabar terbesar Jepang, Yomiori Shimbun. Di dalam serial tersebut nama surat kabarnya diubah menjadi Meicho Shimbun.
Ada dialog menarik yang menceritakan mengapa Jake tertarik menjadi wartawan. Dengan berbagai penemuan dan kemajuan sains serta ilmu pengetahuan umat manusia sedikit demi sedikit meraih kemajuan demi kehidupan yang lebih baik dan kemajuan tersebut setiap hari dicatat serta diterbitkan dalam koran.
Serial yang berlatar di Tokyo, Jepang pada tahun 1990-an, menceritakan kisah Jake Adelstein, seorang jurnalis muda Amerika yang bekerja untuk koran Meicho Shimbun di Tokyo dan mencoba membangun karir sebagai jurnalis investigasi.
Serial ini menggambarkan dunia bayang-bayang Jepang yang fokus mengungkap sisi gelap Tokyo dengan adanya intrik politik, konflik antar geng Yakuza dan bisnis ilegal yang mereka jalankan.
Dekade terakhir abad ke-20 hingga awal abad ke-21 masih menjadi era kejayaan koran (media cetak) yang kemudian disusul oleh televisi. Jurnalis masih dianggap sebagai profesi yang mulia dan pers dapat berdiri sebagai kekuatan kontrol terhadap berbagai penyimpangan yang terjadi di masyarakat.
Sosok Jake sebagai orang Amerika pertama yang bisa bekerja di koran besar Jepang tersebut dengan jeli memotret sentimen rasial terhadap orang asing yang masih cukup tinggi di negara tersebut, terlebih lagi cerita ini diangkat pada masa baburu keiki atau bubble economy yang juga dikenal sebagai The Lost Decade.
Frustrasi nasional karena inflasi menyebabkan tingkat kemiskinan, pengangguran, dan kejahatan meningkat. Harga properti melambung dan pasar ekonomi Jepang mengalami stagnansi. Hal itu pula yang menyebabkan sentimen rasial terjadi, karena para penganggur menganggap lapangan pekerjaan mereka dicuri oleh para pendatang seperti Jake.
“Tokyo Vice” memaparkan kisah yang berkelindan di kota metropolitan yang gemerlap penuh mimpi, lengkap dengan segala sisi gelapnya, termasuk kolusi dan konspirasi pejabat pemerintah dengan Yakuza. Lewat memoir Jake sebagai orang luar (gaijin) potret Tokyo yang mewakili Jepang secara keseluruhan bisa dilihat dengan lebih jernih dan utuh.
Ketika serial ini ditayangkan mendapat respon dengan ulasan positif dari sejumlah kritikus, baik untuk musim pertama mau pun musim kedua. Sayangnya pada Juni 2024 untuk musim selanjutnya, serial ini dibatalkan tanpa alasan yang jelas. []











