Halal bihalal PCI NU Amerika-Kanada dan IMSA bahas tantangan menjaga iman Muslim Indonesia di perantauan.
ZONASI.ID – Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCI NU) Amerika Serikat–Kanada bekerja sama dengan Indonesian Muslim Society of America (IMSA) menggelar kegiatan halal bihalal secara daring pada Minggu (5/4/2026) malam.
Acara ini mengusung tema “Muslim di Perantauan: Menjaga Iman, Merawat Kebersamaan” dan menghadirkan penceramah KH. M. Abdurrahman Al-Kautsar atau yang akrab disapa Gus Kautsar dari Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri. Diskusi tersebut dimoderatori oleh Ulfah Faiqotul Himmah.
Kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus refleksi bagi diaspora Muslim Indonesia yang tinggal di Amerika Serikat dan Kanada, terutama dalam menghadapi tantangan menjaga keimanan di lingkungan non-Muslim.
Dalam sambutannya, Ketua IMSA, Eko Prasetiawan, menyoroti realitas kehidupan Muslim Indonesia di luar negeri yang memiliki tantangan berbeda dibandingkan di tanah air.
Ia menyebut bahwa menjaga keimanan di negara non-Muslim merupakan tantangan yang tidak hanya bersifat personal, tetapi juga menyangkut kehidupan keluarga.
“Muslim Indonesia yang tinggal di luar negeri, di mana kita hidup di negara non-Muslim, menjaga keimanan itu menjadi sesuatu yang menantang, baik secara pribadi maupun dalam keluarga,” ujar Eko.
Ia menjelaskan bahwa lingkungan sosial di Indonesia yang mendukung praktik keagamaan, seperti kemudahan akses ke masjid dan pengingat waktu salat, tidak selalu tersedia di luar negeri.
Oleh karena itu, menurutnya, diperlukan upaya aktif untuk menciptakan lingkungan religius di lingkup keluarga dan komunitas.
“Berbeda dengan di Indonesia, anak-anak bisa dengan mudah datang ke masjid dan selalu diingatkan waktu salat. Di sini, kita tidak memiliki iklim yang kondusif seperti itu. Maka kita perlu menciptakan iklim tersebut di keluarga maupun komunitas kita,” tambahnya.
Eko juga mengajak peserta untuk mempertahankan kebiasaan baik yang telah dilatih selama bulan Ramadan.
Ia menekankan pentingnya konsistensi dalam ibadah, meskipun dengan porsi yang lebih ringan.
“Alhamdulillah kita sudah ditempa di bulan Ramadan dengan berbagai kebiasaan baik. Mudah-mudahan kebiasaan itu bisa terus dijaga. Jika terbiasa membaca Al-Qur’an satu juz sehari, maka tetaplah membaca meskipun tidak sampai satu juz,” ujarnya.
Selain itu, ia juga menyinggung kondisi dunia Islam yang menurutnya masih menghadapi berbagai konflik.
Eko mengungkapkan keprihatinannya terhadap posisi umat Muslim yang kerap menjadi objek dalam perebutan kepentingan global.
“Kemarin ketika Ramadan hampir selesai, terjadi konflik yang membuat kita prihatin. Saya merasa umat Muslim sering menjadi objek perebutan kekuasaan dunia, hanya dijadikan pion untuk kepentingan mereka,” katanya.
Meski demikian, ia mengajak umat Muslim untuk tetap memiliki harapan dan berkontribusi dalam upaya kebaikan.
“Kita sebagai Muslim harus terus berusaha membantu kemenangan itu. Suatu hari nanti, insyaallah akan datang waktunya,” imbuhnya.
Ia juga menegaskan bahwa kolaborasi antara PCI NU Amerika-Kanada dan IMSA merupakan peluang strategis untuk memperkuat sinergi antar komunitas Muslim Indonesia di perantauan.
Sementara itu, dalam tausiyahnya, Gus Kautsar menyampaikan pentingnya pengalaman hidup, khususnya bagi mereka yang merantau ke luar negeri.
Ia mengutip pandangan ulama terdahulu yang menilai bahwa perjalanan jauh dapat menjadi sarana untuk mencapai kemuliaan.
“Para ulama dahulu sudah memberikan isyarat bahwa jika ingin mulia, maka carilah pengalaman, dan pengalaman itu seringkali didapat dari tempat yang jauh,” ujarnya.
Menurutnya, terdapat setidaknya lima manfaat yang bisa diperoleh dari perjalanan jauh. Di antaranya adalah menemukan lingkungan baru yang memberikan ketenangan, peluang mendapatkan rezeki yang lebih baik, peningkatan kualitas keilmuan, serta kesempatan bertemu dengan beragam budaya dan orang-orang dengan semangat perjuangan tinggi.
“Ketika kamu meninggalkan rumah, tanpa disadari kamu bisa menemukan tempat baru yang membuatmu tenang, nyaman, dan bahagia. Bahkan bisa jadi mendapatkan rezeki yang lebih baik. Yang terpenting, jangan sampai tidak ada peningkatan kualitas ilmu dan pengalaman,” jelasnya.
Gus Kautsar juga mengutip pandangan Imam Syafi’i mengenai perjuangan di perantauan. Ia mengatakan bahwa tekad yang kuat sangat diperlukan, terutama ketika menghadapi keraguan atau komentar negatif dari orang sekitar.
“Ada kalanya orang bertanya, ‘mengapa harus jauh-jauh jika tidak mendapatkan kenyamanan?’ Namun Imam Syafi’i mengajarkan bahwa bagi para pejuang di negeri jauh, bahkan wafat dalam perjuangan itu lebih baik daripada hidup tanpa arah di tengah orang-orang yang merendahkan dan dipenuhi iri dengki,” tuturnya. []











