Update  

Hari Kemenangan (?)

icon zonasi
Hari Kemenangan
Ilustrasi

Kita merayakan kemenangan… atau hanya mengulang kebiasaan tanpa makna?

Oleh: Beno Siang Pamungkas

KALI ini saya merasa ada sesuatu yang ganjil setiap kali gema takbir menggetarkan langit. Ia sekilas terdengar seperti pekik kemenangan, tetapi juga seperti ada sesuatu yang tertahan dan belum tuntas terkatakan.

Seolah-olah kita sedang merayakan sesuatu yang belum sepenuhnya kita menangi. Di jalan-jalan rombongan pemudik bergerak dengan lambat, lampu-lampu berkelip, dan beberapa di antaranya telah mengenakan pakaian baru.

Di sejumlah rumah, hidangan lebaran juga telah disusun dengan penuh kebanggaan. Namun di sudut batin masih tersisa sejumlah pertanyaan yang mengganjal dan diam-diam menunggu untuk dijawab. Apa sebenarnya yang kita rayakan?

Kita hidup dalam ukuran waktu yang berbeda. Harga-harga naik tanpa permisi, keadilan berjalan pincang, dan dunia seakan digerakkan oleh tangan-tangan yang tidak kita kenal.

Di tingkat lokal, kita melihat wajah-wajah lelah yang tetap tersenyum karena terpaksa atau terbiasa. Di tingkat nasional, kita menyaksikan janji-janji yang sering kali lebih cepat lapuk daripada baliho kampanye.

Dan di tingkat global, perang, krisis, dan ketidakpastian menjadi latar belakang yang nyaris permanen. Dalam lanskap seperti ini, gegap gempita terasa seperti kain perban yang menutupi luka yang belum sembuh.

Lalu Idul Fitri datang, seperti biasa, dengan segala kemeriahannya. Namun mungkin justru karena itulah kita lupa bertanya apakah kemenangan ini masih kita pahami maknanya, atau sekadar kita ulangi saja?

Bukankah selama sebulan penuh kita dilatih untuk mengendalikan diri dari merasa lapar. Bukan sekadar lapar perut, tetapi lapar akan makna?

Kita diajari menahan diri, bukan hanya dari makan dan minum, tetapi dari segala bentuk kelebihan yang membuat kita lupa batas diri.

Kita dibimbing untuk kembali bergantung, bukan kepada sistem, bukan kepada manusia, tetapi kepada Allah semata.

Jika demikian, mengapa setelahnya kita tergesa-gesa kembali pada keramaian yang sama yang sebelumnya kita coba redam?

Mungkin masalahnya bukan pada perayaan itu sendiri, tetapi pada cara kita memaknainya.

Kemenangan yang sejati tidak pernah berteriak dan berisik. Ia tidak membutuhkan pengeras suara untuk mengumumkan dirinya. Ia hadir dalam bentuknya yang kukuh dan pasti.

Yaitu kemampuan untuk menahan diri ketika bisa melampaui batas, keikhlasan untuk memberi tanpa ingin dilihat, dan kesadaran bahwa hidup ini rapuh. Dan karena itu harus dijalani dengan hati-hati.

Idul Fitri, jika ditarik ke akar terdalamnya, bukanlah perayaan keluar dari kesulitan, melainkan pengakuan bahwa kita tidak pernah benar-benar keluar dari “situasi darurat.”

Bahwa hidup ini, dalam segala ketidakpastiannya, selalu meminta kita untuk waspada. Bahwa ketergantungan kepada Allah bukanlah pilihan musiman, tetapi kebutuhan eksistensial yang tidak pernah selesai.

Maka menjadi janggal ketika kemenangan itu diterjemahkan sebagai kelonggaran total, seolah-olah kita telah aman.

Padahal justru sebaliknya, setelah Ramadhan, ujian itu berubah bentuk, menjadi lebih halus, lebih samar, dan sering kali lebih berbahaya karena kita merasa sudah selesai.

Barangkali kita tidak perlu meniadakan gegap gempita. Manusia memang membutuhkan simbol, membutuhkan momen untuk merayakan.

Namun yang perlu kita curigai adalah ketika simbol menggantikan substansi. Ketika baju baru lebih penting daripada hati yang diperbarui.

Ketika meja makan yang penuh justru membuat kita lupa pada lapar yang pernah kita rasakan dan yang masih dirasakan oleh banyak orang.

Idul Fitri seharusnya bukan tentang kembali ke titik nol dalam arti yang dangkal, melainkan kembali ke kesadaran bahwa kita ini makhluk yang terbatas, yang hanya bisa bertahan jika tahu diri, sadar diri, dan paham batas diri. Kemenangan bukanlah tentang mengalahkan dunia, tetapi tentang tidak lagi diperbudak olehnya.

Dan mungkin, bentuk perayaan yang paling jujur justru adalah kesederhanaan. Duduk sejenak, menatap diri sendiri, dan bertanya dengan pelan. Apakah aku benar-benar lebih dekat kepada-Nya dibandingkan sebulan yang lalu?

Jika jawabannya masih samar, maka Idul Fitri belum selesai. Ia belum menjadi perayaan, ia masih menjadi perjalanan. Setidaknya itulah yang saya yakini. Selamat berlebaran, Saudaraku. Mohon maaf lahir dan batin. []