Kafilah Jawa Tengah peraih prestasi pada MTQ Nasional XXXI 2026 mendapat bonus uang pembinaan hingga hadiah umrah dari Pemprov Jateng.
ZONASI.ID (Semarang) – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memberikan apresiasi kepada kafilah Jateng yang meraih 36 gelar pada Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI 2026. Apresiasi tersebut berupa uang pembinaan hingga hadiah umrah bagi peraih juara pertama.
Penghargaan diserahkan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dalam acara Jateng Bersholawat untuk tasyakuran MTQ Nasional XXXI di Lapangan Pancasila Simpang Lima, Kota Semarang, Rabu (23/9/2026).
Untuk peraih juara pertama, Pemprov Jateng memberikan uang pembinaan Rp50 juta dan hadiah umrah senilai Rp50 juta. Juara kedua mendapat Rp40 juta, sedangkan juara ketiga memperoleh Rp30 juta.
Sementara itu, juara harapan pertama mendapat Rp20 juta, harapan kedua Rp15 juta, dan harapan ketiga Rp10 juta.
Selain dari Pemprov Jateng, Baznas Jawa Tengah memberikan bonus tambahan senilai Rp282 juta. Apresiasi tersebut juga diberikan kepada peserta yang belum berhasil meraih gelar juara.
Pada MTQ Nasional XXXI, kafilah Jawa Tengah meraih 36 gelar yang terdiri atas delapan terbaik pertama, tujuh terbaik kedua, 15 terbaik ketiga, dua juara harapan pertama, dua juara harapan kedua, dan dua juara harapan ketiga.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan pencapaian tersebut menjadi bagian dari sejarah MTQ di Jawa Tengah.
“Saya sendiri bersyukur menjadi saksi sejarah bahwa MTQ pernah berkibar di Jawa Tengah,” kata Luthfi.
Salah satu penerima apresiasi adalah Muhammad Abdul Faqih dari Kota Semarang. Ia meraih terbaik pertama cabang Tafsir Bahasa Indonesia pada MTQ Nasional XXXI.
Bagi Faqih, penghargaan tersebut terasa istimewa karena MTQ kali ini menjadi kesempatan terakhirnya mengikuti kompetisi sebagai peserta.
“Alhamdulillah sangat bersyukur tentunya kami dari peserta sangat haturkan terima kasih kepada Bapak Gubernur, Bapak Wakil Gubernur, Pemprov Jateng, dan seluruh pejabat pemerintahan Jawa Tengah yang telah mendukung dan mensukseskan kami sebagai kafilah Jawa Tengah tercinta ini,” ujarnya.
Faqih sebelumnya pernah mewakili Jawa Tengah pada cabang hafalan 30 juz dan meraih juara pertama nasional. Pada MTQ XXXI, ia mencoba cabang Tafsir Bahasa Indonesia dan kembali meraih posisi pertama.
“Alhamdulillah sangat bersyukur kali ini saya pindah cabang ke cabang tafsir dan alhamdulillah diberi penghargaan juara satu,” katanya.
Menurut Faqih, hadiah umrah bagi juara pertama menjadi bentuk perhatian yang mendorong peserta untuk semakin mendalami Al-Qur’an.
“Kalau dulu kami yang juara itu hanya diberi uang pembinaan. Alhamdulillah sekarang diberi penambahan yaitu hadiah umrah untuk yang juara satu,” ujarnya.
Apresiasi serupa dirasakan Zumrotul Luthfiyyah, kafilah asal Kabupaten Rembang yang meraih terbaik pertama cabang Tafsir Bahasa Inggris Putri.
Zumrotul mengapresiasi penghargaan yang diberikan Pemprov Jateng, termasuk kepada peserta yang belum meraih juara.
“Alhamdulillah, bersyukur senang banget atas apresiasi yang sudah diberikan oleh Bapak Gubernur,” tuturnya.
Sebelumnya, Zumrotul pernah mengikuti cabang tahfiz 10 juz dan 20 juz. Pada MTQ Nasional 2024, ia mengikuti cabang Tafsir Bahasa Inggris dan meraih juara harapan ketiga.
Dua tahun kemudian, ia kembali mengikuti cabang yang sama dan berhasil menjadi terbaik pertama.
“Ini menurut saya cabang yang paling sulit yang pernah saya ikuti,” katanya.
Zumrotul mengatakan prestasi di MTQ membutuhkan persiapan sejak jauh sebelum perlombaan. Ia berharap pembinaan peserta berikutnya dilakukan lebih awal, termasuk dalam aspek kenyamanan dan ketenangan peserta menjelang tampil.
“Kalau untuk teman-teman yang lain mungkin disiapkan dari sekarang karena kan kebanyakan yang juara-juara itu mulainya enggak secara mendadak, belajarnya enggak secara mendadak,” ujarnya.
Acara tasyakuran MTQ Nasional XXXI dikemas dalam Jateng Bersholawat. Kafilah dan masyarakat yang hadir mengikuti lantunan sholawat yang diiringi Majelis Sholawat Azzahir Pekalongan bersama Habib Ali Zaenal Abidin Assegaf.
Mauidzoh hasanah dalam acara tersebut disampaikan KH Ahmad Anwar Zahid dari Bojonegoro, Jawa Timur. []











