“Kok Menstruasiku Gak Teratur?” Mungkinkah Kamu Stres

lukni maulana
Menstruasi
Ilustrasi Ai ChatGbt

Oleh: Faustina Angesti Gading Winarto
(Fakultas Psikologi Universitas Airlangga)

ZONASI.ID – Pernah gak sih kita teman-teman denger kalau lifestyle kita bisa menentukan kesehatan area reproduksi? Ternyata omongan ini gak salah lo.

Beberapa penelitian telah membuktikan kalau gaya hidup yang gak dijaga berpengaruh banget pada kesehatan area reproduksi.

Contohnya kaya kebiasaan konsumsi makanan berlemak berlebihan, konsumsi makanan dengan kadar minyak yang tinggi, konsumsi alkohol berlebihan, menjadi perokok aktif, kelebihan berat badan atau obesitas, bahkan hal sederhana seperti tidur hingga larut malam.

Gaya hidup seperti ini yang sering kali jadi faktor risiko gak cuma menstruasi yang gak teratur, tapi juga berbagai permasalahan siklus menstruasi lainnya.

Mulai dari premenstrual dysphoric disorder (PMDD) yang biasanya terjadi satu minggu sebelum menstruasi berupa perubahan mood yang tidak menentu, mudah lelah, sakit pada beberapa bagian tubuh, dsb.

Volume darah yang sangat besar atau lamanya fase menstruasi dengan masa menstruasi yang bisa lebih dari 7 hari atau biasa disebut hypermenorrhea maupun hypomenorrhea yang merupakan kebalikannya, di mana volume darah sangat rendah atau fase menstruasi yang kurang dari 3 hari.

Amenorrhea di mana tidak mengalami fase menstruasi lebih selama tiga bulan dan rasa sakit yang sangat kuat (kram perut) yang sering disebut dysmenorrhea.

Kita udah menjaga pola hidup kita sebaik mungkin, cuma masih sering punya masalah terkait siklus menstruasi?

Menjaga pola hidup sehat secara jasmani saja gak cukup. Ada faktor risiko lain yang kerap kali kita abai akan hal tersebut, yaitu faktor kesehatan jiwa.

Sering kali kita memandang kesehatan area reproduksi hanya dipengaruhi faktor fisik, namun melupakan pengaruh psikologis yang ternyata berperan memengaruhi siklus menstruasi.

Beberapa penelitian baik di Indonesia maupun di luar negeri banyak membuktikan kalau stres menjadi faktor risiko yang memengaruhi siklus menstruasi.

Siklus menstruasi yang normal itu terjadi ketika sistem hypothalamic-pituitary-ovarium (HPO) yang mengontrol siklus menstruasi bisa memberi perintah kepada hormon tertentu yang akan bertugas membentuk dinding rahim secara normal atau biasa disebut fase luteal.

Kemudian akan berlanjut ke fase folikular atau pematangan sel telur dan berlanjut pada fase ovulasi, fase di mana sel telur dilepas. Ketika tidak terjadi pembuahan, maka dinding rahim meluruh dengan normal atau biasa disebut fase menstruasi.

Berbeda ketika kita mengalami stres. Hal yang terjadi adalah kelenjar adrenal yang bertugas memproduksi kortisol akan memproduksi kortisol lebih banyak dari biasanya.

Hal ini yang kemudian dapat mengganggu fungsi gonadotropin-releasing hormone (GnRH). Di mana GnRH bertugas memberi perintah terkait produksi hormon luteinizing hormone (LH) dan hormon follicle-stimulating hormone (FSH) yang berfungsi sebagai hormon yang membantu proses pembentukan sel telur.

Hambatan ini yang kemudian dapat mengganggu fungsi ovarium. Pada intinya, stres dapat mendorong tubuh memproduksi kortisol dalam jumlah yang tidak normal dan menghambat hormon tertentu yang pada akhirnya memengaruhi fungsi kerja ovarium sehingga membuat siklus menstruasi berjalan dengan tidak normal.

Menurut Folkman dan Lazarus, satu pengalaman tidak langsung membuat kita mengalami stres, namun ada proses di mana kita menentukan apakah peristiwa kita adalah pengalaman yang mengancam, menakutkan, dan menyakitkan atau tidak.

Dari membuat keputusan tersebut kita akan membentuk upaya pertahanan diri. Di mana keputusan inilah yang kemudian menentukan produksi hormon kortisol di kelenjar adrenal dapat meningkat.

Stres tentunya tidak datang begitu saja. Masih dari pendapat Folkman dan Lazarus, ketika kita stres maka kita akan membentuk upaya pertahanan diri.

Bentuk pertahanan diri menurut Folkman dan Lazarus terbagi menjadi dua, yaitu emotion-focused coping dan problem-focused coping. Bentuk-bentuk upaya pertahanan diri inilah yang dapat kita gunakan sebagai rambu-rambu pertanda kamu sedang mengalami stres. Serta bisa juga menjadi cara kita untuk mengatasi stres. Mari kita bedah.

Apa yang bisa kita lakukan untuk mengurangi stres?

Emotion-focused coping, di mana kita berfokus menekan perasaan batin atau pada rasa tertekan karena stres, yaitu dengan mengabaikan peristiwa yang menjadi penyebab stres, menghindari atau kabur dari penyebab stres seperti mengalihkan diri dengan mengonsumsi alkohol, rokok atau zat adiktif lainnya dalam batas tidak normal, menyalahkan orang lain, mengasingkan diri dari lingkup sosial.

Bentuk upaya pertahanan diri secara emosional di atas dapat menjadi beberapa rambu-rambu yang menunjukkan bahwa kita mungkin sedang mengalami stres.

Meski demikian, emotion-focused coping juga bisa berbentuk upaya lain seperti dengan meditasi, atau menceritakan pengalaman stres kepada orang yang tepat.

Upaya pertahanan diri yang kedua adalah problem-focused coping, di mana kita fokus pada menyelesaikan masalah yang kita hadapi seperti menghadapi dengan mengambil aksi nyata untuk menyelesaikan masalah, mencari solusi untuk menyelesaikan masalah sehingga dapat meminimalkan sumber stres.

Berbeda dengan paragraf sebelumnya, upaya pertahanan diri pada paragraf ini bisa menjadi solusi yang kita ambil untuk mengurangi stres secara lebih positif.

Beberapa orang mungkin merasa bahwa langkah-langkah sebelumnya kerap kali berat untuk dilakukan. Maka dari itu, saya menyajikan langkah sederhana lain yang dapat kita lakukan yaitu melatih mindfulness.

Langkah-langkah mindfulness menurut Kabat-Zinn terdiri dari 5 aspek. Langkah pertama adalah berhenti sejenak dan berpikir lalu kembali melakukan observasi kepada diri sendiri.

Sering kali kita tidak sadar bahwa sebenarnya kita sedang mengalami stres. Maka melakukan observasi kepada diri sendiri menjadi langkah pertama.

Contohnya adalah dengan bertanya pada diri sendiri, “Apa yang membuatku akhir-akhir ini merasakan emosi negatif? Pengalaman apa yang membuatku merasa khawatir atau takut atau marah?” Langkah berikutnya setelah berhasil mengidentifikasi pengalaman yang mungkin membuat stres.

Kita bisa mulai dari mendeskripsikan atau mengungkapkan perasaan dari pengalaman tersebut dengan kata-kata. Bisa secara lisan maupun tertulis.

Langkah berikutnya adalah memberikan fokus perhatian atau secara sadar, hadir penuh pada satu aktivitas tertentu. Bagian ini dapat dilakukan dengan melakukan meditasi seperti grounding 5-4-3-2-1 atau deep breathing.

Pada tahap keempat adalah melibatkan penerimaan atas suatu pikiran atau emosi yang membuat kita stres. Pada tahap ini kita bisa mengungkapkan kepada diri sendiri, “Oh iya benar aku merasa sedih karena hal ini, oh memang benar aku marah karena hal ini, hal ini membuat aku takut,” dan lain sebagainya dengan tidak memberikan penilaian tambahan (judging) pada diri sendiri. Langkah terakhir adalah mulai melepaskan pikiran dan emosi tersebut.

Selain dengan cara mindfulness, ada beberapa cara lain yang telah terbukti dapat mengurangi stres yaitu dengan melakukan olahraga rutin serta tidur yang cukup dan berkualitas. Perlu menjadi landasan apabila siklus menstruasi yang tidak teratur masih terus berulang untuk jangka waktu yang lebih lama, baik kemudian memeriksakan diri ke dokter kandungan. []