Di tengah pergulatan politik dan perbedaan ideologi, sosok Gus Dur hadir sebagai jembatan yang menghubungkan keberagaman. Pemikirannya yang inklusif dan kebijaksanaannya yang mendalam menjadikannya simbol toleransi dan keadilan.”
Oleh: KH Ubaidullah Shodaqoh
(Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah)
DALAM berbagai kesempatan, saya sering bertanya kepada teman-teman yang mengaku sebagai Gusdurian: “Sejauh mana Anda telah meneladani Gus Dur?” Apakah mereka benar-benar mampu meniru, meski hanya sebagian kecil dari pemikiran dan akhlaknya?
Gus Dur bukan sekadar tokoh besar dalam sejarah Indonesia, tetapi juga seorang insan yang begitu dekat dengan nilai-nilai sufisme dan demokrasi sejati.
Gus Dur, dalam pandangan saya, adalah representasi dari konsep Al-Insanul Kamil yang dikemukakan oleh Abdul Karim Al-Jilli. Sosok manusia yang mendekati kesempurnaan.
Keunikan Gus Dur bukan hanya terletak pada pemikirannya yang luas dan keberaniannya dalam membela yang lemah, tetapi juga pada sikapnya yang selalu pasrah kepada Allah.
Filosofi hidupnya yang terkenal, “Gitu aja kok repot,” mencerminkan tingkat spiritualitas yang amat tinggi. Ungkapan itu bukan sekadar lelucon, tetapi manifestasi dari jiwa yang telah mencapai ketenangan hakiki, melepaskan diri dari belenggu duniawi, dan menyerahkan segala urusan kepada kehendak Ilahi.
Sebagai seorang sufi, Gus Dur membaca realitas bukan hanya melalui teks yang tertulis, tetapi juga melalui kehidupan itu sendiri. Baginya, teks tidak hanya sekadar kumpulan kata-kata mati, melainkan sesuatu yang hidup dan berjalan dalam kehidupan nyata.
Dengan kejernihan hati yang luar biasa, ia mampu melihat hakikat dari setiap peristiwa dan memberikan tanggapan yang penuh hikmah.
Dalam ajaran tasawuf, ada satu konsep yang sangat mendalam: Hari-hari nafsaka li takbiri wal birokrat aku bianta binafsik. Artinya, seseorang harus melepaskan pikirannya dari hasrat pribadi, dari keinginan untuk mengatur segalanya, dan dari ambisi duniawi.
Sebab, apa yang telah diatur oleh Allah, biarlah berjalan sebagaimana mestinya. Gus Dur menerapkan konsep ini dalam hidupnya. Ia tidak pernah pusing dengan urusan duniawi, karena ia yakin bahwa tugas manusia hanyalah berusaha sebaik mungkin, sedangkan hasilnya diserahkan sepenuhnya kepada Allah.
Demokrasi dalam pandangan Gus Dur juga memiliki dimensi sufistik. Ia pernah mengatakan bahwa orang yang benar-benar bisa berdemokrasi secara utuh hanyalah seorang sufi. Mengapa?
Karena seorang sufi adalah sosok yang memiliki toleransi luar biasa, memahami bahwa setiap manusia memiliki jalannya masing-masing menuju Tuhan.
Demokrasi yang sejati adalah ketika seseorang bisa menghargai perbedaan tanpa merasa harus mendominasi orang lain. Inilah yang menjadikan Gus Dur sebagai seorang demokrat sejati, yang meyakini bahwa kebebasan dan keadilan harus ditegakkan dengan dasar kasih sayang.
Namun, menjadi seorang Gus Dur bukanlah hal yang mudah. Untuk memahami pemikirannya saja, dibutuhkan usaha yang luar biasa. Ia dikenal sebagai kutubuku sejati, yang bahkan saat berada di kamar mandi pun masih membaca sesuatu.
Ilmunya luas dan mendalam, dan transfer keilmuannya tidak hanya dilakukan melalui teks, tetapi juga melalui hubungan batin atau rabithah qalbiyah dengan murid-muridnya.
Para santri yang memiliki ikatan batin dengannya akan merasakan pancaran pemikirannya, tanpa harus membaca semua buku yang pernah ia baca.
Keberanian Gus Dur juga merupakan sesuatu yang luar biasa. Ia menghadapi berbagai tantangan, bahkan ancaman, dengan ketenangan seorang wali.
Tidak sedikit orang yang mencoba mencelakakannya, baik secara politik maupun secara supranatural, tetapi semua usaha itu selalu gagal. Seorang dukun yang pernah diperintahkan untuk mencelakakan Gus Dur akhirnya justru menjadi seorang aktivis NU.
Hal ini terjadi karena Gus Dur selalu berada dalam keadaan dzikrullah, mengingat Allah setiap saat. Hatinya selalu terpaut kepada Tuhan, sehingga segala upaya jahat tidak mampu menyentuhnya.
Gus Dur adalah fenomena yang sulit untuk diulang. Bagi kita yang ingin meneladaninya, yang paling utama bukanlah memahami seluruh pemikirannya, tetapi menghayati akhlaknya.
Sebab, pemikiran bisa dipelajari, tetapi akhlak harus diresapi dalam keseharian. Di dunia pesantren, transfer keilmuan memang tidak hanya terjadi melalui kitab, tetapi juga melalui hubungan hati antara guru dan murid.
Jika kita mampu menjaga hubungan batin dengan Gus Dur, maka pemikirannya akan tetap hidup dalam diri kita.
Ada dua jenis wali dalam dunia tasawuf: mereka yang memang sejak awal telah dipilih oleh Allah, dan mereka yang mencapai kedudukan wali melalui usaha, zikir, dan pembersihan hati.
Gus Dur termasuk dalam golongan pertama, yang hatinya sejak awal telah terpaut kepada Allah. Sementara kita, yang masih berusaha menuju jalan tersebut, harus melalui perjuangan dan mujahadah.
Mungkin, kita hanya bisa menjadi “wali penggembira,” yang hadir dalam kehidupan ini untuk membawa kebahagiaan bagi orang lain. Tetapi itu pun sudah cukup mulia.
Akhirnya, jika kita ingin benar-benar mengenang dan meneruskan perjuangan Gus Dur, maka kita harus mulai dari meneladani akhlaknya. Jangan hanya terpaku pada pemikirannya, tetapi resapi bagaimana ia menjalani hidup dengan penuh kesederhanaan, keberanian, dan kepasrahan kepada Allah.
Dengan begitu, kita tidak hanya mengenang Gus Dur, tetapi juga menghidupkan kembali semangat perjuangannya dalam kehidupan kita sehari-hari. []
Sumber: Buku Petani Kehilangan Lahan






