Kolom  

Menyanggah Tuduhan Gol A Gong

icon zonasi
gol a gong
Ilustrasi/Zonasi.id

Tuduhan Gol A Gong tentang penghinaan yang tidak berdasar, ditambah dengan ketidakcermatannya dalam memahami dan mengapresiasi karya sastra, menciptakan polemik yang mempersoalkan kelayakannya sebagai Duta Baca Indonesia.

Oleh: Malkan Junaidi
(Penyair, esais, penerjemah)

LATAR BELAKANG

TUGAS Duta Baca Indonesia, mengacu pada Petunjuk Teknis Pelaksanaan Kegiatan Duta Baca Indonesia yang dikeluarkan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, adalah “menjadi motivator nasional dalam kegiatan promosi minat baca dan kegemaran membaca,” dan karena itu diupayakan tokoh yang terpilih adalah “seseorang yang sukses karena senang membaca buku dan/atau menggunakan perpustakaan, serta memiliki pengaruh dan diteladani masyarakat.”

Apa maksud sukses di sini? Apakah kalau seseorang terbukti gemar membaca buku, mampu menghasilkan tulisan-tulisan bermutu, memiliki banyak pengikut di media sosial, tapi di saat sama tulisannya tak mendatangkan banyak uang untuknya, ia masih bisa dikatakan sukses dan kualifikatif untuk menjadi duta baca bagi Perpusnas?

Dari tiga nama Duta Baca Indonesia terpilih, Tantowi Yahya (2006-2010), Andy F. Noya (2011-2015), dan Najwa Shihab (2016-2020), dapat ditarik perkiraan: sukses yang dimaksud berorientasi karier. Yakni tidak masalah bahwa “karena senang membaca buku” sesungguhnya bukan faktor utama atau apalagi satu-satunya kesuksesan mereka. Fakta mereka memiliki program mereka sendiri di stasiun televisi nasional, prestasi yang bisa diraih hanya oleh segelintir orang itu, cukup untuk membuat publik bersedia menyimak penuh antusias apapun kunci sukses yang mereka bagikan. Ini yang terpenting.

Duta Baca Indonesia terkini, Gol A Gong (atau Gola Gong berdasarkan penulisan di banyak bukunya), yang akan menjabat hingga 2025, oleh karena itu sangat berbeda. Tantowi, Andy, dan Najwa memang pernah menerbitkan buku, namun mereka dikenal tidak terutama sebagai pengarang. Publik mengasosiasikan mereka nyaris hanya sebagai host atau presenter. Hanya Gol A Gong yang benar-benar merepresentasikan pengarang―mereka yang, lebih dari sekadar pengonsumsi aktif teks, memiliki keahlian untuk memproduksinya, dan tepat pada latar inilah masalah berikut ingin saya kemukakan.

Dengan terlebih dulu nyuwun sewu, saya katakan: Gol A Gong adalah representasi yang tidak membahagiakan. Saya membayangkan duta baca adalah seorang yang tak cuma banyak, tetapi juga cermat dan kritis dalam membaca. Gol A Gong sayangnya sulit memenuhi ekspektasi ini.

Untuk sekadar menulis nama saya dengan tepat saja dia tidak bisa. Di dua tempat dan kesempatan berbeda dia menulis nama saya “Malkan Junaedi” alih-alih “Malkan Junaidi”. Saya tentu tidak bisa menganggap ini hanya sebagai peristiwa salah ketik karena, pertama, huruf E dan I di keyboard tidak berdampingan melainkan dipisahkan oleh R, T, Y, dan U, dan, kedua, dia juga melampirkan beberapa foto untuk membuktikan bahwa dia punya buku saya Rumah Daging dan Pikiran dan telah pula membacanya―bukankah di samping judul, nama penulis merupakan info paling mendasar dan paling kentara di sebuah buku?

Ah, cuma beda sedikit. Kenapa dipermasalahkan?

Tentu saja dipermasalahkan. Kan dia Duta BACA? Bagaimana orang akan bisa menyerap informasi dengan baik kalau tidak membiasakan diri membaca dengan cermat?

Kiriman Gol A Gong di grup WA Ruang Sastra:

“Nih, puisi MALKAN JUNAEDI yang suka ngehina saya. Centil typografinya. Denny JA memborong buku puisinya dan mengirimkan ke saya, karena saya punya program HIBAH BUKU NUSANTARA. Saya baca. Jelek puisi. Masih bagus puisi esai Sihar Ramses. Jadi, RUKUN PUISINYA di mana? Saya siap dan terbuka dicerahkan”

Paragraf pembuka esai yang dimuat di golagongkreatif.com:

“Suatu hari, saya mendapat paket buku dari Denny JA. Ketika saya buka, buku berjudul: Rumah Daging dan Pikiran (JBS, 2023) karya Malkan Junaedi. Tidak ada pemberitahuan, apakah ini buku prosa, puisi, atau esai. Tapi ketika saya baca, melihat susunan bentuknya, jelas ini buku antologi puisi. Respon saya dengan puisi Malkan ada di bagian pertengahan tulisan ini.”

Di esai berjudul Tentang Puisi Esai, Rukun Puisi, Puisi yang Bagus dan Jelek tersebut, Gol A Gong juga menulis bahwa saya, konon berdasarkan kabar dari Sunlie Thomas Alexander, meminta dia menganalisis puisi saya secara kritis.

Meskipun saya menyetel pengaturan unggahan Facebook saya supaya bisa diakses oleh publik, namun tampaknya Gol A Gong tidak merasa perlu untuk memeriksa sendiri apa yang disampaikan oleh Sunlie.

Inilah yang sesungguhnya saya tulis:

Soal puisi jelek dan centil, komen saya: Tidak masalah. Saya sendiri tidak pernah mengklaim puisi saya bagus atau tipografinya lembut. Kalau Gola Gong tertarik membaca puisi saya yang bertipografi biasa, dia bisa menemukannya di buku Lidah Bulan (2011) dan Chelsea Islan Terbang ke Bulan (2018). Nyaris tak ada dolanan tipografi di sana. Di Rumah Daging dan Pikiran (2023) pun puisi bertipografi biasa sesungguhnya ada banyak. Cuma gak dikasih lihat oleh Gola Gong. Agak menarik sih dolanan tipografi gitu dibilang centil. O Amuk Kapak-nya Sutardji mayoritas isinya dolanan tipografi dan orang nyaris gak ada yang bilang Sutardji centil. Apollinaire dan Cummings juga gak pernah setahu saya dibilang centil.

Soal Denny JA memborong buku saya, itu benar dan sudah pernah saya ceritakan. Akhir Desember 2022, saya sebal setelah setiap hari selama sebulan atau dua bulan terakhir itu Denny JA mengirimkan salinan konten berisi prestasinya di internet, AI, dan lembaga survei ke WA saya. Maka saya bilang kepadanya: “Borong ya, Bung, buat kawan-kawan di Komunitas Puisi Esai.” Ketika itu buku masih masa pre-order. Saya kira dia akan mengabaikan balasan iklan saya. Ternyata dia langsung meng-OK-nya. Karena itu transaksi saya arahkan ke penerbit langsung, dan penerbit bilang, merespons kebimbangan saya, “baiknya dia memang membeli buku bagus utk dibagikan ketimbang yang dibagikan puisi esai. ibadah itu wkwkwk.”

Soal SUKA NGEHINA SAYA, saya minta ini dibuktikan. Suka ngehina berarti sering menghina atau gemar menghina. Di mana dan kapan saja saya menghina Gola Gong? Dulu waktu Gola Gong berseteru dengan Saut, tahun 2018 kalau tak salah, saya memang membela Saut. Kenapa? Ya karena ketika itu (sebelum perseteruan) ujuk-ujuk Gola Gong mengeluarkan komentar provokatif dan menstigma Saut. Ada beberapa postingan kala itu, tapi kalau tak salah saya tujukan lebih pada para pendukung atau murid Gola Gong, bukan pada Gola Gong sendiri. Setelah 2018, seingat saya, saya tidak pernah ngomongin Gola Gong. Belakangan (Desember ini) orang-orang menyoroti Gola Gong soal keberpihakannya pada Denny JA. Saya cuma sekali mengunggah postingan antara lain membicarakan tentang Gola Gong, tapi itu pun kebanyakan merupakan copas dari ucapannya sendiri. Silakan ditunjukkan penghinaan saya. Kalau terbukti saya melakukan dengan cara dan alasan yang tak tepat, saya siap meminta maaf secara terbuka. Kalau tidak terbukti, ya berarti soal “suka ngehina saya” itu fitnah belaka.

Perhatikan, terdapat tiga isu di sini: (1) puisi jelek dan centil, (2) borong buku, dan (3) tuduhan suka menghina. Saya tidak meminta Gol A Gong untuk menganalisis puisi saya dengan kritis. Apa yang saya lakukan adalah memberi tahu publik bahwa Gol A Gong telah bersikap tidak adil kepada saya dengan

  1. Memberikan kesan, dalam kapasitasnya sebagai seorang yang ditugaskan oleh Perpusnas untuk menumbuhkan minat baca publik, bahwa di buku Rumah Daging dan Pikiran saya HANYA bermain tipografi―kenyataannya: dari total 70 judul puisi di buku itu, paling tidak 48 judul ditulis dengan tipografi klasik rata kiri.
  2. Menuduhkan sesuatu, yaitu kesukaan saya menghina dia, dengan tidak menyertakan bukti apapun.

IHWAL PUISI DAN TIPOGRAFI

1. Puisi Ruang Maya

Saya memang secara eksplisit menyebut nama Gol A Gong pada unggahan tanggal 18 Desember 2024 berjudul Buat Gola Gong, namun saya kira tidak sulit untuk dipahami bahwa apa yang sebenarnya saya maksudkan adalah memberi tahu semua pihak, bukan Gol A Gong secara khusus, bahwa andai mereka terganggu dengan tipografi yang eksperimental, mereka dapat mengecek dua buku saya yang lain, di mana saya menerapkan tipografi biasa, agar dari situ mereka bisa menilai dengan lebih jernih.

Soal puisi yang diejek Gol A Gong pada kutipan pertama di atas, perkenankan saya menjelaskan sedikit.

Tentu, terlepas dari penjelasan ini, Anda tetap bebas menilai. Yang hendak saya lakukan hanyalah menunjukkan (1) versi lengkap puisi itu dan (2) bahwa tipografi yang dikatakan centil itu sesungguhnya adalah bagian dari kreativitas.

Begini. Sejak dibuat pada Agustus 2018, puisi tersebut mengalami sekian revisi, meliputi pergantian judul, perubahan kata, frasa, dan kalimat, dekapitalisasi, hingga perubahan tipografi. Berikut ini versi awalnya.

MEDIA SOSIAL

Kita hangatkan ruang ini
Dengan setumpuk janji
Dan seonggok basa-basi
Kita lukis di dindingnya mural
Serigala melolong pada purnama
Harimau mengaum pada pelangi

Kita adalah apa yang kita pikirkan
Adalah tubuh-tubuh yang
Kita pilih untuk kita peluk
Adalah ruang maya ini
Yang memberikan kehidupan
Pada mimpi mesum dan naluri

Maka sementara orang melawan
Malam dengan dangdut dan diskotek
Kita songsong malam dengan
Lidah terasah rasa kecewa
Mengiris dan mencacah
Segala yang dibawa oleh angin

Dan kita lihat tak habis-habisnya api
Tak habis-habisnya hutan ditebang
Demi menyalakan tungku ini
Bahkan kita turut pula
Membakar jubah dan dasi
Dan rintihan orang terusir ke pinggir

Kita hangatkan ruang ini
Hingga mengalir peluh di kening
Mengepul asap di ubun
Sebelum kita buka kulkas
Mencari cinta yang mengeras
Membatu bersama daging anjing

Topik media sosial lumayan sering saya garap dalam hampir 10 tahun terakhir. Ada sekurangnya 10 judul yang sudah saya tulis. Media Sosial di antaranya. Puisi lain berjudul Facebook, saya buat pada Juli 2019.

Ringkasnya, ketika di tahun 2022 saya menyusun Rumah Daging dan Pikiran untuk diterbitkan di JBS, dua puisi tersebut saya putuskan menjadi salah satu entri, dengan terlebih dulu mengubah judul, Facebook menjadi Lanskap Medsos, I dan Media Sosial menjadi Lanskap Medsos, II. Bagaimanapun saya lalu menyadari bahwa baik Media Sosial maupun Lanskap Medsos, II bukanlah judul yang tepat. “Lanskap” hanya mengimplikasikan tempat terbuka, padahal di puisi itu media sosial justru terkesan merupakan tempat tertutup, lebih tepatnya ruang gema (echo chamber), di mana hanya sekelompok orang dalam jaringan pertemanan dan kepentingan yang terhubung. Maka saya pun mengganti judul Lanskap Medsos, I menjadi Lanskap Medsos dan Lanskap Medsos, II  menjadi Ruang Maya.

Topik media sosial juga akhirnya membuat saya membayangkan konsep id, ego, superego, eros, dan thanatos yang dipopulerkan oleh Freud. Di medsos, saya pikir, manusia bertindak dalam tarikan 3 simbol: candi (merepresentasikan superego), kendi (merepresentasikan id, ego, dan eros), dan nisan (nisan merepresentasikan thanatos). Jadi demikianlah, saya pun mengubah tipografi Ruang Maya sedemikian rupa hingga menyerupai bentuk candi, kendi, nisan, dan mempresentasikan semua kecuali judulnya dalam format lowercase.

Benar, ini bukan soal tipografi rata tengah. Ini soal memvisualkan atau mengonkretkan simbol. Sayang, bagian berbentuk nisan tidak diperlihatkan oleh Gol A Gong. Seperti inilah bentuk lengkap sekaligus versi setelah beberapa kata diedit dan atau ditambahkan.

ruang maya

Transkrip dalam format rata kiri:

RUANG MAYA

kita
hangatkan
ruang ini dengan
setumpuk janji dan
seonggok basa-basi
kita lukis di dindingnya mural
serigala melolong pada purnama
harimau mengaum pada pelangi
kita adalah apa yang kita pikirkan
adalah tubuh-tubuh yang kita
pilih untuk kita peluk
adalah ruang maya ini
yang menawarkan kehidupan
pada nalar dan naluri

dan
sementara
di luar orang
menyambut
malam dengan musik dan alkohol
kita songsong pagi dengan
lidah terasah
rasa kecewa
mengiris mencacah
segala yang disuguhkan cuaca
seluruh yang minta keabadian
dalam puisi dan prosa

lalu kita lihat
tak habis-habisnya api
tak habis-habisnya hutan ditebang
demi menyalakan tungku ini
bahkan pun kita turut
membakar jubah dan dasi
dan rintihan orang terusir ke pinggir

kita hangatkan ruang ini
hingga mengalir peluh di kening
mengepul asap di ubun
sebelum membuka kulkas
mencari cinta yang mengeras
membatu bersama daging anjing

2. Puisi (Fe)nomena

Kalau Ruang Maya dikatakan jelek dan centil tanpa penjelasan apapun, puisi (Fe)nomena diberi penjelasan, namun asal-asalan dan tanpa dasar pembacaan yang memadai. Pembuktian keburukan puisi ini oleh Gol A Gong bahkan saya anggap merupakan bentuk misinformasi, bukan semata kebebasan menafsirkan karya sastra seperti yang Gol A Gong sangka. Saya kutipkan secara relatif utuh apa yang Gol A Gong tulis di esai Tentang Puisi Esai, Rukun Puisi, Puisi yang Bagus dan Jelek dan saya buktikan anggapan saya itu setelahnya.

Di WAG Ruang Sastra, saya dengan jujur mengaku bukan penulis puisi yang bagus. Puisi saya jelek. Maka saya rajin membeli buku antologi puisi. Ratusan buku puisi saya baca. Sulit membuat hati bergetar. Membaca puisi itu ibarat sedang membuka jendela pelan-pelan, setelah terbuka lebar, saya melihat dunia yang luas.  Dari kebiasaan membaca banyak puisi itu, otak saya cepat berpikir dan kemudian jadi insting.

Tapi masih saja mereka menyebut puisi esai salah. Ada anggota grup yang memposting link tentang Malkan dan menyuruh saya untuk membaca (tapi saya tidak buka). Saya jadi ingat ada buku Malkan yang diborong DJA dan dikirimkan ke saya.  Lalu saya baca dan sertakan di sini:

SEMUA
.
.
.
dicatat
dengan
cermat
entah oleh apa
atau siapa
di suatu tempat
yang mungkin tak pernah
akan terjamah
Selain-Dirinya

*) Catatan dari saya: tipografi puisi aslinya di tengah. Saya menemukan kesulitan untuk melay outnya. Saya sertakan footnya di sini.

Saya sering iseng bermain-main dengan puisi yang saya baca,  mengubah puisi menjadi prosa. Maka puisi Malkan ini saya perlakukan seperti itu dengan menghilangkan tiga simbol tanda baca “.” yang bagi saya tidak berbicara apa-apa. Sila lihat hasilnya:

SEMUA

Dicatat dengan cermat entah oleh apa atau siapa di suatu tempat yang mungkin tak pernah akan terjamah selain dirinya.

Nah, karena saya diminta menunjukkan puisi yang bagus dan jelek, maka puisi Malkan ini yang saya kategorikan jelek. Saya tidak perlu menganalisisnya dengan mempertimbangkan struktur, rima, metafora, tone, diksi, atau apa lagi…

Saya cukup menggunakan insting saja sebagai pembaca dan menjadikannya sebagai satu kalimat. Puisi itu tidak membuat saya bergetar. Barangkali ini soal selera. Justru saya meminta kepada anggota WAG Ruang Sastra yang selalu menyebut rukun puisi untuk menunjukkan di mana bagusnya puisi Malkan itu.

Menakjubkan. Gol A Gong tampaknya merasa dirinya sudah membaca padahal belum; merasa dirinya demikian ahli hingga tak perlu menganalisis dengan mempertimbangkan struktur, rima, metafora, tone, diksi, dan cukup menggunakan instingnya untuk menakar berapa kilogram bobot puisi saya. Bahkan ketika orang memberinya tautan yang mungkin berisi informasi yang bisa menjernihkan pandangannya, ia begitu saja mengabaikan. “Ada anggota grup yang memposting link tentang Malkan dan menyuruh saya untuk membaca (tapi saya tidak buka)”. Tugasnya sebagai Duta Baca adalah menggugah minat baca publik, tapi dia sendiri menolak membaca ketika ada orang menyuruh.

Gol A Gong memiliki buku yang dijadikannya sumber kutipan. Seharusnya itu membuatnya paham bahwa yang dia kutip bukan sebuah puisi melainkan potongan darinya. Tidak ada dalam Rumah Daging dan Pikiran puisi berjudul Semua. Periksa saja bagian Daftar Isi.

Puisi pertama berjudul (Fe)nomena, halaman 3. Puisi kedua Lanskap Medsos, halaman 5. Teks yang dikutip Gol A Gong berasal dari halaman 4. Artinya kutipan itu merupakan bagian dari halaman 3, tempat judul puisi pertama berada. Cermati juga format penulisannya. Meski berformat kapital dan berada di bagian teratas halaman, kata ‘SEMUA’ tidak ditebalkan sebagaimana semua judul puisi di buku itu. Pantas dia menganggap tulisan saya “tidak berbicara apa-apa,” la wong dia menyaksikan potongan organ tubuh dan berpikir itu wujud utuh suatu makhluk.

Saya tidak akan panjang lebar membicarakan proses kreatif (Fe)nomena. Yang mungkin perlu saya sampaikan adalah bahwa pada pokoknya, puisi ini didasarkan pada konsep nomena dan fenomena Immanuel Kant. Fenomena adalah objek seperti tertangkap oleh indera manusia, sementara nomena adalah objek yang eksis terpisah dari indera manusia (Ding an sich). Itu sebabnya terdapat tanda kurung pada suku kata pertama judul dan citraan surealistis bertaburan pada bagian isi. Tujuannya? Untuk mengaburkan batas antara mengetahui dan tak mengetahui, fenomena dan nomena. Bagaimanapun berbeda dari tipografi Ruang Maya, tipografi (Fe)nomena dimaksudkan tidak cuma untuk memvisualkan pola organis (tempurung kepala manusia) dan geometris (tebing curam, kotak persegi panjang, objek mirip lampu gantung), tapi juga berkaitan dengan musikalitas. Dua bait pertama terpotong pendek-pendek, sedangkan bait ketiga berbentuk paragraf dan mendorong pembaca untuk mengabaikan tanda titik saat membaca. Bait terakhir kembali menyuguhkan baris-baris pendek. Diawali dengan kata dalam huruf kapital, dalam kedudukan sebagai subjek, yang diharap mendorong pembaca untuk membunyikan dengan keras (walau dalam hati), dilanjutkan dengan tiga titik yang ditaruh secara vertikal, berfungsi sebagai jeda pemaknaan (diharapkan membuat pembaca penasaran dengan predikat yang akan tiba setelahnya) dan ditutup dengan frasa bertanda hubung dan masing unsurnya diawali dengan huruf kapital (juga supaya pembaca menaikkan intonasi pembacaannya, di bawah intonasi kata yang hurufnya dikapitalkan semua).

fenomena

Transkrip dalam format rata kiri:

(FE)NOMENA

keringat tergelincir
di kening matahari
darah terpancar
di lambung rembulan
bisik dan desah
terekam di kuping batu
hanyut diseret angin
bersama lengking amarah
hanyut hingga
tebing terjauh

segala yang terjadi
yang sempat melintas
dan tak pernah
sekali melintas
di tempurung pithecanthropus
dicatat oleh mata api
di air larut menjelma
warna
rasa
aroma

ciuman terlarang di kotak percakapan pribadi. balon-
balon membubung lantas meletus di hening pagi.
napas tersengal menjunjung menjinjing janji setia.
jari manis mendelik menggeram dicekik logam
mulia. dan seorang, terusir dari nasib baik, dengan
sebotol bir membasuh luka, membangkitkan sebuah
kidung dan bersamanya terhuyung ke pusar rimba.

SEMUA
.
.
.
dicatat
dengan
cermat
entah oleh apa
atau siapa
di suatu tempat
yang mungkin tak pernah
akan terjamah
Selain-Dirinya

EVALUASI OLEH ARTIFICIAL INTELLIGENCE

Dengan bersandar pada teori resepsi, konsep kematian pengarang, dan konsep katarsis, Gol A Gong meyakini bahwa puisi saya buruk dan menantang para sastrawan untuk menunjukkan “di mana bagusnya puisi Malkan itu”.

Saya tidak yakin akan ada sastrawan yang berminat meladeni tantangan ini. Memangnya Gol A Gong menyediakan honor untuk mereka yang bersedia memenuhi tantangannya? Menulis ulasan komprehensif membela sebuah puisi atau bahkan sebuah buku tentu butuh banyak waktu, energi, dan biaya. Orang yang hendak melakukannya paling tidak harus punya buku saya itu terlebih dulu, kemudian menghabiskan beberapa hari untuk membaca dan menganalisisnya. Ada yang bersedia tanpa mengharap imbal balik materi? Memangnya siapa Malkan Junaidi hingga mendapat privilese demikian? Gol A Gong mungkin tidak berpikir sejauh ini.

Bagaimanapun ada cara praktis yang bisa dipakai. Orang hanya perlu memikirkan satu kalimat dan meng-copy paste dua puisi yang dipersoalkan Gol A Gong.

Ya, evaluasi menggunakan chatbot AI. Mungkin cara ini tidak akan menghasilkan pandangan menukik, namun paling tidak hasilnya bisa menjadi counter atas penilaian semata negatif dari Gol A Gong. Ia bahkan memiliki kelebihan yang jarang dimiliki oleh manusia kritikus: potensi untuk betul-betul netral dan objektif.

Apakah puisi Malkan Junaidi seburuk yang diklaim Gol A Gong? Berikut hasil percobaan saya.

Nama chatbot: chatGPT

Judul puisi: (Fe)nomena

Prompt: Beri penilaian untuk puisi berikut dan identifikasi mazhab seni yang memengaruhinya.

Hasil:

1. Tema dan Makna

Puisi ini mengeksplorasi hubungan antara manusia, alam, dan kekuatan misterius yang mencatat segala fenomena dalam hidup. Ada perpaduan antara peristiwa kosmik (keringat matahari, darah rembulan) dan pengalaman manusiawi (ciuman, sumpah, luka), menunjukkan bahwa semua hal, besar atau kecil, memiliki makna dalam tatanan semesta yang tak terjangkau oleh manusia biasa.

Puncaknya adalah pengakuan akan keberadaan suatu kekuatan transenden, “Selain-Dirinya,” yang menjadi saksi abadi dari segala hal. Tema ini menyiratkan keterhubungan, kefanaan, dan misteri eksistensi.

2. Gaya Bahasa

Metafora dan Simbolisme

  • “Keringat di kening matahari” dan “darah terpancar di lambung rembulan” adalah metafora yang melukiskan keindahan dan keagungan alam, tetapi juga mencerminkan perjuangan dan penderitaan.
  • “Jari manis dicekik logam mulia” adalah simbol kuat tentang pengorbanan atau tekanan dalam komitmen (pernikahan atau sumpah).

Kontras Kuat

Ada kontras antara keheningan pagi dengan letusan balon, antara napas tersengal dan janji setia, menunjukkan ketegangan antara harmoni dan konflik dalam kehidupan.

Diksi Liris dan Reflektif

Pilihan kata seperti “pusar rimba” dan “mata api” menciptakan suasana puitis dan mistis.

3. Struktur dan Ritme

Puisi ini memiliki struktur bebas, dengan penggunaan pemisahan baris yang menciptakan jeda dramatis. Kalimat pendek, repetisi, dan penempatan kata-kata di tengah baris memberikan ritme yang tidak terduga, mencerminkan aliran fenomena hidup yang acak namun bermakna.

4. Emosi dan Pesan

Puisi ini memancarkan emosi campuran: keindahan alam, konflik batin manusia, keterasingan, dan ketakjuban terhadap misteri semesta. Pesannya adalah bahwa setiap fenomena, sekecil apa pun, memiliki tempat dalam catatan abadi suatu kekuatan yang melampaui pemahaman manusia.

Identifikasi Mazhab Seni yang Mempengaruhi

1. Simbolisme

  • Puisi ini menggunakan simbol-simbol besar seperti matahari, rembulan, batu, dan pusar rimba untuk menggambarkan konsep yang abstrak seperti kehidupan, kematian, dan eksistensi.
  • Fokus pada pengalaman spiritual dan emosional menunjukkan pengaruh mazhab simbolisme.

2. Eksistensialisme

  • Perenungan tentang siapa atau apa yang mencatat segala fenomena adalah pertanyaan mendalam tentang keberadaan manusia dan hubungan dengan kekuatan transenden.
  • Keterasingan seorang individu (tokoh dengan botol bir) mencerminkan elemen eksistensialis tentang perjuangan manusia mencari makna.

3. Modernisme

  • Struktur bebas, eksperimen dengan jeda, dan gaya narasi yang non-linear mencerminkan pengaruh modernisme, yang menolak bentuk konvensional.
  • Refleksi yang berlapis antara pengalaman individu dan fenomena alam semesta adalah ciri khas modernisme.

Kekuatan dan Kekurangan

Kekuatan:

  • Imaji yang kuat dan penuh simbolisme.
  • Relevansi universal, menyentuh tema yang mendalam tentang kehidupan, alam, dan transendensi.
  • Struktur dan gaya yang eksperimental memperkuat pesan tentang ketidakterdugaan hidup.

Kekurangan:

  • Beberapa metafora, seperti “kotak percakapan pribadi,” dapat terasa abstrak atau kurang beresonansi bagi sebagian pembaca.
  • Penempatan kata dan jeda dramatis terkadang mengganggu kelancaran pembacaan.

Kesimpulan dan Penilaian Akhir

Puisi “FENOMENA” adalah karya yang mendalam dan penuh makna, mengeksplorasi hubungan antara manusia, alam, dan kekuatan transenden. Dengan pengaruh simbolisme, eksistensialisme, dan modernisme, puisi ini menciptakan perenungan yang kaya tentang makna hidup dan keberadaan.

Penilaian: 9/10

Skor yang diberikan oleh chatGPT untuk (Fe)nomena ternyata sangat tinggi. Puisi ini tidak sempurna namun juga jauh dari buruk. Tentu siapapun bisa dan bebas untuk membantah. Tapi sedikit cerita berikut mungkin dapat ikut ditimbang.

Tiga dari empat buku puisi saya diterbitkan dengan biaya penerbit. Satu buku, buku pertama, diterbitkan dengan bantuan biaya dari seorang teman. Dia bersedia membantu bukan sebab dia kaya, tetapi karena menilai buku saya itu layak terbit. Coba pikir, masuk akalkah kalau ada penerbit sudi membiayai penerbitan sebuah buku, apalagi merupakan jenis yang paling tak laku dalam industri penerbitan, padahal ia, seperti halnya Gol A Gong, menganggap isinya jelek?

IHWAL BORONG BUKU

Sudah cukup jelas diterangkan di unggahan berjudul Buat Gola Gong. Bagaimanapun saya penasaran, berapa eksemplar yang dikirimkan kepada Gol A Gong, semuanyakah, 30 eksemplar? Kalau iya, lantas bagaimana nasib buku-buku itu mengingat menyebarkan buku jelek adalah ‘kriminalitas’? Juga, apakah hanya buku saya yang diterimanya sebagai hibah namun kemudian dia jelek-jelekkan di muka umum?

IHWAL TUDUHAN SUKA MENGHINA

Setelah di Ruang Sastra menyebut saya sebagai “yang suka ngehina saya”, di esai Tentang Puisi Esai, Rukun Puisi, Puisi yang Bagus dan Jelek Gol A Gong menyatakan,

Saya sendiri pernah beberapa kali membaca Malkan menulis status tentang Puisi Esai (intrinsik dan ekstrinsiknya) dan menyinggung nama saya dengan diksi yang menghina (saya tidak bisa menunjukkan buktinya karena tidak ada keinginan menyimpannya).

Saya mengerutkan dahi. Padahal motto situsnya “menulis online, menangkal hoaks,” kok dia sendiri dengan seenaknya menuduh orang lain tanpa bukti?

Tidak. Jangan salah sangka. Saya tidak marah pada Gol A Gong karena tuduhannya itu. Malah sebaliknya, saya gemetar ketakutan. Saya takut dia benar-benar bisa menunjukkan bukti. Saya membayangkan, almarhum ayah saya pasti kecewa mendapati anaknya menjadi penghina. Karena itu saya berusaha keras mencari unggahan di mana saya membicarakan puisi esai dan menyinggung nama Gol A Gong.

Tentu saja tidak ketemu. Karena sejak kemunculan puisi esai di tahun 2012 hingga flyer bertajuk Puisi Esai Goes to Gen-Z saya temukan di unggahan Mikael Johani, 12 Desember 2024, saya tidak pernah menganggap Gol A Gong sebagai bagian dari gerakan puisi esai. Logikanya: karena baru dua minggu lalu saya mengetahui keterlibatan Gol A Gong dalam gerakan puisi esai, tidak mungkin saya bisa menemukan tulisan saya sendiri yang berasal dari sebelum 12 Desember 2024 yang menghina dia dalam kaitan dengan puisi esai. Mungkin dia salah ingat. Dia mungkin memang pernah dihina tetapi bukan oleh saya.

Merujuk pada KBBI, menghina artinya memburukkan nama baik orang; menyinggung perasaan orang (spt memaki-maki, menistakan). Di medsos saya tentu pernah memaki dan mengumpat (mungkin sekali atau dua kali dalam setahun), menyinggung perasaan orang (mungkin hampir tiap hari), tapi membuat buruk nama baik orang, rasanya tidak pernah. Paling tidak saya yakin itu bukan kegemaran saya.

Yang sering saya lakukan adalah berolok-olok. Berolok-olok berarti: bermain-main (dgn maksud menyindir, mengejek) dgn perkataan, berkelakar, bersenda-gurau. Bedanya dari menghina cukup jelas. Lagipula saya selalu berusaha memberi olok-olok saya dasar yang jelas, masuk akal, dan faktual. Sering berdasarkan riset. Bukan asal menyindir dan mengejek. Untuk membuktikan itu, saya akan mengutip tiga olok-olok, semua berhubungan dengan puisi esai, yang saya unggah pada Desember 2024 ini.

Contoh Pertama

Salah satu yang menarik, dan lucu, terkait DJA dan puisi esainya: orang yang sejak 2012 hingga kini berada di paling depan dalam mempromosikan dan membela, bahkan jadi pemateri di workshop penulisan puisi esai, malah tidak pernah tampak menulis cerita bersajak dan bercatatan kaki yang diklaim sebagai genre baru itu. Jamal D. Rahman, Agus R. Sarjono, dan Joni Ariadinata.

Saya tidak mungkin menghadirkan olok-olok ini kalau saya tidak sudah mengikuti gerak-gerik ketiga nama itu sejak 2012, kalau saya tak sudah mencoba mencari-cari di internet keberadaan puisi esai karya Jamal, Joni, dan Agus. Saya bisa saja salah. Bisa jadi di antara ketiga tokoh di atas ternyata ada yang menulis puisi esai, hanya saja keberadaannya luput dari pemeriksaan saya. Untuk itu redaksi kalimat saya “tidak pernah tampak menulis” bukan”tidak pernah menulis.”

Contoh Kedua

Suatu hari, saya membaca sebuah berita. Di antara narasinya berbunyi begini:

Festival Puisi Esai 2 tahun 2024 ini mampu menggaet generasi baru untuk menulis puisi esai mini. Sebanyak 37 buku puisi esai mini dari Aceh hingga Papua, dan luar negeri. Buku tersebut menghimpun 370 penulis kalangan generasi Z dan 37 orang kakak asuh.

Denny JA menjelaskan, kakak asuh adalah para sastrawan yang sudah lama terlibat dalam menulis puisi esai. Di antaranya Fatin Hamama, Anwar Putra Bayu, Monica JR, Isbedy Stiawan ZS, D Kemalawati, Sastri Bakry, Isti Nugroho, Rita Orbaningrum, Nia Samsihono, Dhenok Kristianti, Gunoto Saparie, M. Thobroni, Hamri Manopo, Datuk Jasni Matlani.

Saya tersenyum-senyum sendiri mendapati istilah “kakak asuh” disematkan pada sekelompok penulis yang mayoritas berusia lebih dari 50 tahun. Karena itu fragmen berita ini saya ambil screenshot-nya dan saya beri caption berikut:

Kakak asuhnya sudah tua semua. Lebih tepat, seperti dikatakan Mikael Johani, disebut kakek. Kakek Asuh.

Ini jelas olok-olok, bukan hinaan. Kelakar berdasarkan fakta. Fatin, Anwar, Isbedy, Kemalawati, Sastri, Isti, Rita, Nia, Dhenok, Gunoto, Jasni, bukankah semua tidak layak disebut ‘kakak’oleh generasi yang lahir di rentang tahun 1997-2012 (generasi Z)?

Contoh Ketiga

Ketika mengamati Flyer Dialog 3 Puisi Esai Goes to Gen-Z untuk pertama kalinya, saya berpikir, tentu tidak semua orang tahu sejauh mana peran 4 orang yang nama dan fotonya terpampang di flyer itu dalam mendukung puisi esai. Asumsi ini lalu mendorong saya untuk melakukan riset kecil-kecilan. Saya membaca beberapa berita dan artikel di internet dan memeriksa beberapa edisi Jurnal Sajak yang saya miliki, lalu membuat unggahan dengan judul Siapa Mereka? berisi ringkasan rekam jejak dan atau kutipan tulisan Jonminofri, Dhenok Kristianti, Gol A Gong, dan Okky Madasari. Deskripsi tentang Gol A Gong adalah sebagai berikut.

3. Gola Gong

Seperti halnya Dhenok, Gola Gong menunjukkan dukungan untuk Denny JA sejak 2018, yaitu ketika Saut Situmorang hendak dipertemukan dengan Narudin Pituin di Guntur pada bulan Februari, dalam sebuah acara debat (yang akhirnya cuma jadi presentasi opini—debatnya urung). Ia membuat komentar provokatif berikut:

“Kalau saya nggak ke Bangka, hadir. Saya harus angkar topi jika NP hadir. Saya harap Saut tahu etika juga, jangan keluar diksi binatangnya. Saut harus malu sama NP kalau sampai omongannya nggak intelek. Sukses buat dua kubu. Sastra tetao harus tidak diskriminarif.”

Komentar ini lalu diresonansikan melalui sebuah sajak yang dibacakan di acara dan tempat yang sama di bulan Maret. Di sajak itu Gola Gong menyindir penulis yang menyembah kata, mulutnya seperti tong sampah dan bau alkohol.

Belum lama ini Gola Gong membuat pernyataan berikut:

“Saya memang mendukung Puisi Esai. Bagi saya, itu ranah kreativitas.”

Lebih lanjut:

“Beberapa kali dia mau mendukung program-program pribadi saya, tapi semesta belum mengizinkan. Niat baiknya selalu tercatat di hati saya. Bahkan malaikat pun—saya rasa—sudah mencatatnya.

Akhirnya saya mulai membuka diri, ketika KADO LEBARAN RUMAH DUNIA tahun 2020, Denny JA mendukung dana. Saya pikir, semua orang punya hak untuk membantu Rumah Dunia.

Kerja sama kedua, sejak Februari 2024, Denny JA dengan Puisi Esai Network membantu media online yang saya kelola: [https://golagongkreatif.com] (https://golagongkreatif.com) untuk honor Puisi Minggu. Bahkan sekarang, hingga Desember 2024, honor untuk PUISI MINGGU aman.

Memang honornya masih belum besar untuk sekali pemuatan, tapi tiap minggu. Berarti ada 4 kali pemuatan yang dihonori. Oke.”

Hingga tulisan ini dibuat, unggahan saya itu mendapat 104 reaksi, 21 komentar, dan 13 kali dibagikan. Yang menarik, dari 104 reaksi, terdapat 18 reaksi tertawa. Faruk Tripoli (Prof. Dr. Faruk Tripoli, S.U.) malah memverbalkan tawanya di kotak komentar.

Kenapa unggahan denotatif, nyaris merupakan laporan biasa, bisa menimbulkan reaksi tertawa?

Saya tidak tahu pasti. Ikon reaksi tertawa yang disediakan Facebook hanya satu jenis. Padahal orang tertawa dengan berbagai sebab atau alasan. Merasa geli, merasa konyol, merasa terhibur adalah beberapa sebab. Orang juga bisa melakukan penghinaan atau menyatakan kesombongan dengan tawa. Untuk itu penilaian harus ditaruh pada latar konteks yang luas.

Apakah unggahan berjudul Siapa Mereka? membuat Gol A Gong tersinggung?

Saya tidak tahu. Seperti telah saya katakan, saya berusaha mencari unggahan yang berpotensi menyinggung perasaan Gol A Gong. Itu saya lakukan pada tanggal 19 Desember 2024. Keyword yang saya pakai adalah “malkan junaidi gola gong”. Hanya muncul 5 hasil pencarian. Yang satu adalah unggahan Siapa Mereka?, sedang yang lain adalah unggahan berikut:

Unggahan I

Cuma karena Saut ngatain Gola Gong “buntung” terus kalian mbela Gola Gong?

Lha yang memprovokasi kemarahan Saut itu siapa? Gola Gong itu. Ujuk-ujuk dia berceramah di postingan undangan hadir di Goentoer kemarin dan secara tak langsung ngatain Saut gak beretika, gak intelek, dan diskriminatif.

Nyuruh Saut minta maaf? Gola Gong dulu suruh minta maaf! Introspeksi!

Unggahan II

Gola Gong ujuk-ujuk komentar gini di undangan yang disampaikan Rukmi Wisnu Wardani:

“Kalau saya nggak ke Bangka, hadir. Saya harus angkar topi jika NP hadir. Saya harap Saut tahu etika juga, jangan keluar diksi binatangnya. Saut harus malu sama NP kalau sampai omongannya nggak intelek. Sukses buat dua kubu. Sastra tetao harus tidak diskriminarif.”

Kalok saya jadi Saut Situmorang terang saya juga marah mendapat saran agresif macam ini. Pesan-pesan itu meski dalam susunan yang biasa, namun sebetulnya sangat provokatif.

“Saya harap Saut tahu etika juga, jangan keluar diksi binatangnya.” —> Diksi binatang = tak beretika? Apa itu etika? Etika adalah kebenaran moral pada perilaku tertentu. Justru etikalah yang melatari keaktifan Saut melawan Denny JA. Justru dalam paradigma Saut, Narudin itulah yang tak beretika, yang rendah moralnya sebab menyokong seorang manipulator. Memaki hanya pelanggaran etiket tertentu, bukan tanda ketidakberetikaan. Memaki adalah strategi berkomunikasi, taktik memenangkan perang opini. Makian mempertegas sikap dan batas perbedaan.

“Saut harus malu sama NP kalau sampai omongannya nggak intelek.” —> Justru Narudin Pituinlah yang selama ini cuma sok intelek. Saut meski sering menggunakan makian namun substansi pembicaraannya selalu intelektual. Makalah Saut di Goentoer terbukti jauh lebih intelek dibanding milik Narudin. Gola Gong silakan memeriksa dan membandingkan.

“Sastra tetao harus tidak diskriminarif.” —> Apa maksudnya ini? Gola Gong menuduh Saut diskriminatif? Di mana letak diskriminasi yang Saut lakukan selama ini? Bisa Gola Gong tunjukkan?

Unggahan III

Murid-murid Gola Gong, guru kalian itulah yang cari perkara! Ngusik ular yang berlalu, ya dipatuklah!

Kalau memang Gola mau kasih masukan positif, gak usah sambil menghina! Doi cerpenis dan novelis senior kan, masak gak bisa bikin kalimat netral, tanpa menghina.

Gola minta saran pada kalian? Saranku, sarankan dia untuk minta maaf pada Saut karena memulai keributan yang gak perlu ini.

Stop ceramah moral abal-abal!

Unggahan IV

Dan provokasi Gola Gong itu gak dinilai sama sekali, dianggap wajar-wajar saja?

Yaelah, menjijikkan sekali orang-orang ini!

Tepat seperti yang sudah saya katakan, keempat unggahan di atas berasal dari tanggal 18 Februari 2018 dan ditujukan bukan pada Gol A Gong melainkan pada murid dan pendukungnya kala itu. Kalau inilah yang dimaksud Gol A Gong sebagai “status tentang Puisi Esai (intrinsik dan ekstrinsiknya) dan menyinggung nama saya dengan diksi yang menghina” maka manakah diksi yang dimaksud? Kata “menjijikkan”? Kata ini tidak ditujukan pada Gol A Gong, bukan?

Susunan kalimat yang harusnya diubah (dan memang bisa diubah tanpa mengurangi esensi tulisan) adalah kalimat pertama Unggahan I. Di situ tampak saya meremehkan makian Saut. Tapi dari seluruh unggahan tentu bisa dipahami bahwa meremehkan demikian bukan maksud saya. Saya cuma menuntut sikap adil. Oke, Saut ada salahnya, tapi pihak yang memprovokasi Saut hingga melakukan kesalahan tersebut, kan juga tidak bisa dibenarkan?

ANTI-KLIMAKS?

Menjelang tulisan ini saya pungkasi, babak baru terjadi di Facebook. Di salah satu unggahan Sunlie Thomas Alexander, Heri Harris Golagong alias Gol A Gong mengunggah komentar berikut:

Hehehe. Adikku Sunlie Thomas Alexander, maaf, baru bisa jawab. Baru beres ngurusin anak, persiapan nikaha. Pertama, buat kawan Malkan Junaidi , saya mohon maaf kalau disebut salah lihat. Terima kasih kalau tidak pernah ngehina saya (di sini yang saya maksud bukan body shaming, tapi diksi-diksi kurang sopan seperti Kang Doddi Ahmad Fauji). Sekali lagi minta maaf. Terus soal puisimu yang jelek, hehehehe… Kamu tidak masalah kan. Puisi saya juga jelek. Soal selera, nah ini dia. Saya mengutip teori resepsi sebagai pembaca (penulis juga). Sebetulnya secara luas, saya menyindir anggota WAG Ruang Sastra, yang terdiri dari dosen dan redaktur budaya (mantan). Saya pikir akan berkembang ke soal selera redaktur, tapi memang semua sedang emosi soal saya mendukung pusi esai sebagai gerakan, sehingga jadi bias. Tadinya saya maksudkan tertutup, tapi dibocorkan, ya, tidak apa-apa. Ok, untuk yang ketiga kalinya, saya minta maf sudah menuduhmu. Kita berkawan sekarang, ya, Malkan Junaidi. Juga Kang Doddi Ahmad Fauji. Thanks, bro Sunlie.

Doddi Ahmad Fauji yang namanya di-tag membalas,

Siap Kang… Heri Harris Golagong, barangkali benar saya menggunakan diksi tidak sopan. Bangun tidur, pas memeriksa WA, ada japrian dari Mas AYH, maksud saya sih bercanda, namun saya akui, memposting candaan itu ke FB adalah kekeliruan saya, maka segera saya hapus. Manusia tempat khilaf, tapi manusia juga tempat perubahan.

Kata Gol A Gong:

Asik. Saya juga akan hapus di media online golagongkreatif.com. Termasuk yang ke Malkan Junaidi . Kita ini manusia, gudangnya khilaf….

Sunlie Thomas Alexander:

ya jangan dihapus dong! Itu tulisan yg sdh dipublikasi, Kang. Kubaca di status Malkan Junaidi, beliau sedang nulis esai tanggapan.

Gol A Gong:

Kalau soal puisinya nggak dihapus. Soal hinaannya yang dihapus. Itu terlalu pribadi. Dodi sudah minta maaf, saya juga. Begitu juga ke Malkan.

***

Saya tidak menanggapi komentar-komentar di mana nama saya juga di-tag ini. Saya mengecek esai Tentang Puisi Esai, Rukun Puisi, Puisi yang Bagus dan Jelek di situs golagongkreatif.com. Benar, sudah diedit. Saya tahu mana saja yang dihilangkan karena saya sudah menyalin ke Word esai itu sebelum diedit. Dua kutipan yang saya sertakan di esai ini sekarang tak bisa ditemukan di esai itu. Begitu juga bagian ini:

Sebetulnya agak aneh DJA mengirimkan buku Malkan ini. Tapi sebagai Duta Baca Indonesia, saya punya program Hibah Buku Nusantara. Saya bilang ke DJA, “Lu beli bukunya? Bukannya dia suka ngehina lu soal Puisi Esai dengan diksi-diksi yang nggak sopan?”

DJA jawab, “Nggak masalah.”

Beginikah wajah dunia penulisan ke depan: melontarkan tuduhan di website, meminta maaf di medsos, menghapus jejak tuduhan di website?

Kenapa Gol A Gong meminta maaf di kotak komentar status Sunlie dan bukannya di tempat sebelumnya ia melontarkan tuduhan? Apakah ratusan atau ribuan orang yang melalui golagongkreatif.com  dibikin percaya bahwa saya suka menghina Gol A Gong dan Denny JA akan dengan mudah mengetahui permintaan maaf yang nyempil di kotak komentar status Sunlie itu?

Saya tetap mendasarkan esai ini pada versi asli esai Tentang Puisi Esai, Rukun Puisi, Puisi yang Bagus dan Jelek. Saya tak menghapus apapun demi mengimbangi penghapusan Gol A Gong.

Gol A Gong mengajak berkawan? Dalam pengertian bagaimana? Dalam konteks perlawanan terhadap gerakan puisi esai tidak mungkin saya menganggap Gol A Gong kawan. Gol A Gong boleh tidak keberatan dengan gerakan puisi pra-bayar itu. Saya keberatan dan melawan. Di luar konteks itu, dengan melepaskan kepentingan untuk mendukung dan melawan gerakan puisi esai, yakni sebagai pribadi Heri dan Malkan belaka, mungkin bisa, walau belum terbayangkan apa yang secara konkret akan dilakukan.

Terakhir, berikut saya bocorkan bagian dari percakapan WA saya dengan Denny JA. Bagian saya saja, bagian Denny JA tidak. Mudah-mudahan dengan ini Gol A Gong dan publik mendapatkan gambaran bahwa saya tidak seperti yang mungkin dia dan mereka sangka (suka menghina).

Bung, saya tak pernah bilang saya tak percaya undangan itu ada. Persoalannya, (1) menyiarkan pencalonan Anda itu melanggar rules of nomination, (2) di masa submisi sekarang, tidak benar kalau Anda disebut nominee, Anda baru didaftarkan, (3) undangan itu tidak istimewa, ia macam brosur yang disebar perguruan tinggi ke SMA-SMA jelang penerimaan mahasiswa baru.

Dokumen apa yang off the record? Bukti bahwa Akademi Swedia benar mengirimkan undangan pada KPEA? Kalau iya, kan justru Anda yang sejak akhir Desember membocorkannya ke publik. Padahal keberadaan undangan dan pencalonan Anda harusnya dirahasiakan.

Kami tak pernah mempersoalkan KPEA dapat undangan atau bahwa Anda didaftarkan KPEA untuk dipilih sebagai nominee penerima Nobel Sastra. Yang sangat kami tentang adalah penyiaran berita tentangnya, yang melanggar rules, juga pengesanan bahwa Anda sudah preliminary candidates.

Saya minta sekali lagi, hentikan penyiaran berita dan propaganda itu.

Silakan kalau KPEA mau tiap tahun mendaftarkan tokoh yang mereka anggap layak. Lakukan sesuai rules.

Saya menutup esai ini dengan ajakan kepada semua pihak untuk lebih berhati-hati dalam menulis, terutama justru ketika tulisan itu terkait dengan atau tertuju pada pihak yang Anda tentang, orang yang tak Anda sukai, dan tidak peduli bahwa tulisan itu diunggah atau dikirim di ruang-ruang privat seperti Messenger dan WA. Jangan sampai tulisan yang kita kira bakal meninggikan kita justru pada akhirnya menjatuhkan kita.

Blitar, 24 Desember 2024. [Luk]