Kolom  

Menyelami Hakikat Tauhid dan Ancaman Banjir Informasi

icon zonasi
Menyelami Hakikat Tauhid dan Ancaman Banjir Informasi
Ilustrasi

Di tengah derasnya arus informasi, banyak ajaran Islam yang disalahartikan dan tersebar tanpa landasan yang kuat. Penting bagi umat untuk kembali menggali ilmu dari sumber yang benar agar tidak terjebak dalam kesalahpahaman.

Oleh: KH Ubaidullah Shodaqoh
(Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah)

SEGALA puji bagi Allah, shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Rasulullah SAW, keluarga, sahabat, serta para pengikutnya hingga akhir zaman. Malam ini, kita berkumpul dalam semangat kebersamaan untuk menimba ilmu dan meneguhkan eksistensi kita dalam kebaikan.

Sebagaimana permintaan para hadirin, kita akan membahas tentang ilmu tauhid, yang dalam tradisi pesantren juga dikenal sebagai ilmu kalam atau ilmu teologi.

Tauhid merupakan ilmu yang paling tinggi kedudukannya dalam Islam, sebab ia berbicara tentang pengesaan Allah. Kajian ini sangat fundamental bagi seorang Muslim, karena menyangkut keyakinan dan keimanan yang menjadi dasar dari segala amalan.

Salah satu kitab yang sering dikaji di pesantren adalah Jawahir karya Syaikh Sholeh Al-Jazairi. Kitab ini digunakan sebagai pegangan dasar, terutama bagi para santri pemula, selain kitab Aqidatul Awam.

Sebagaimana tradisi di pesantren, sebelum memulai kajian, kita memanjatkan doa dan menghadiahkan pahala bacaan Al-Fatihah kepada para guru dan penulis kitab ini.

Kita juga membuka pengajian dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, yang mengandung makna mendalam tentang kasih sayang Allah di dunia dan akhirat.

Nama Ar-Rahman menunjukkan kasih sayang Allah yang meliputi seluruh makhluk-Nya, sedangkan Ar-Rahim menegaskan kasih sayang yang khusus bagi orang-orang beriman.

Dalam kajian tauhid, kita memahami bahwa segala sesuatu berasal dari Allah. Dunia ini hanyalah tempat singgah sementara yang tidak lebih berharga dibandingkan sayap nyamuk di sisi Allah.

Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi kita untuk terlalu mencintai dunia hingga melupakan akhirat. Semua nikmat yang ada di dunia, baik bagi orang beriman maupun tidak, merupakan bentuk rahmat Allah yang luas. Namun, rahmat khusus hanya diberikan kepada mereka yang teguh dalam keimanan dan ketakwaan.

Lebih jauh, kita juga harus memahami bahwa bahasa memiliki keterbatasan dalam menerjemahkan hakikat ilahi. Para ulama sepakat bahwa Al-Qur’an tidak bisa diterjemahkan secara sempurna karena bahasa memiliki makna yang dalam dan tidak selalu dapat diungkapkan dengan kata-kata yang setara.

Oleh sebab itu, memahami tauhid tidak cukup hanya dengan membaca terjemahan, melainkan harus mendalami maknanya melalui ilmu yang benar.

Tauhid bukan hanya sekadar pemahaman intelektual, tetapi juga harus menjadi prinsip utama dalam kehidupan sehari-hari. Dalam sejarah Islam, banyak ulama yang mendalami tauhid dan menjadikannya sebagai landasan perjuangan.

Salah satu tokoh besar dalam ilmu tauhid adalah Imam Abu Hasan Al-Asy’ari, yang merumuskan konsep tauhid secara mendalam dalam mazhab Asy’ariyah. Pemikirannya menjadi dasar dalam memahami aqidah Ahlussunnah wal Jamaah yang berkembang luas di dunia Islam.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga diajarkan untuk selalu memuji Allah. Segala keindahan, suara yang merdu, dan kesempurnaan yang ada di dunia ini hakikatnya kembali kepada-Nya.

Oleh sebab itu, kita diajarkan untuk senantiasa mengucapkan Alhamdulillah dalam setiap keadaan. Bahkan, dalam bahasa Jawa, konsep ini dirangkum dalam ungkapan bahwa semua pujian sejatinya kembali kepada Allah.

Selain memuji Allah, kita juga diperintahkan untuk bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Perintah ini tidak hanya ditujukan kepada manusia, tetapi juga dilaksanakan oleh para malaikat.

Rasulullah adalah pembawa rahmat bagi seluruh alam. Dengan membaca shalawat, kita berharap agar memperoleh keberkahan dan syafaat beliau di hari kiamat.

Dalam kehidupan modern, pemahaman tauhid menjadi semakin penting karena manusia sering kali terjebak dalam materialisme dan hedonisme.

Banyak orang yang mengandalkan akal dan teknologi tanpa menyadari bahwa segala sesuatu terjadi atas izin Allah.

Oleh karena itu, memahami tauhid tidak hanya relevan dalam aspek keimanan, tetapi juga dalam membangun pola pikir yang lebih seimbang antara dunia dan akhirat.

Sahabat-sahabat Nabi memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Mereka adalah generasi yang langsung mendapatkan bimbingan dari Rasulullah.

Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dalam berbicara tentang mereka. Salah satu contoh yang menarik adalah kisah Uwais Al-Qarni, seorang yang tidak pernah bertemu dengan Rasulullah tetapi sangat dicintai karena baktinya kepada ibunya.

Hal ini menunjukkan bahwa kedekatan dengan Allah tidak hanya ditentukan oleh pertemuan fisik, tetapi juga oleh keikhlasan dan ketakwaan.

Tauhid juga memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Keimanan yang benar akan membawa seseorang untuk berbuat baik kepada sesama.

Dalam sejarah Islam, para ulama tidak hanya mengajarkan tauhid sebagai konsep teologis, tetapi juga sebagai dasar untuk membangun masyarakat yang adil dan harmonis.

Imam Al-Ghazali, misalnya, dalam karyanya Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa tauhid sejati tidak hanya sebatas keyakinan, tetapi juga harus tercermin dalam akhlak dan perbuatan sehari-hari.

Di era digital, tantangan dalam memahami tauhid semakin besar. Banyak informasi yang beredar dengan cepat tanpa adanya filter yang jelas.

Oleh karena itu, penting bagi umat Islam untuk terus mendalami ilmu tauhid dari sumber yang terpercaya agar tidak mudah terpengaruh oleh paham-paham yang menyimpang. Teknologi harus dimanfaatkan sebagai sarana untuk menyebarkan dakwah dan pemahaman tauhid yang benar.

Sebagai penutup, kita harus memahami bahwa tauhid bukan sekadar teori, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memahami tauhid, kita semakin sadar bahwa segala sesuatu di dunia ini bersumber dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.

Dengan demikian, kita akan lebih mudah menghadapi kehidupan dengan penuh kesabaran dan rasa syukur. Tauhid juga mengajarkan kita untuk selalu bersikap tawakal dan tidak bergantung sepenuhnya kepada usaha duniawi semata.

Semoga Allah senantiasa memberikan kita pemahaman yang benar dan mengokohkan hati kita dalam keimanan. Aamiin. []

Diambil dari buku Petani Kehilangan Lahan karya KH Ubaidullah Shodaqoh.