Kolom  

Ojek Diplomat

icon zonasi
ojek diplomat
Ilustrasi/Zonasi.id

Berangkat dengan penuh gaya di mobil diplomat, siapa sangka perjalanan saya di Jakarta harus berakhir dengan naik ojek dan bajaj pengalaman yang jauh lebih berkesan daripada acara seminar itu sendiri

Oleh: Harjanto Halim

SUATU ketika saya ke Jakarta untuk sebuah acara seminar. Di pesawat, ndilalah, saya duduk di sebelah seorang Diplomat Iran, yang baru saya kenal sehari sebelumnya.

Kemarin sore, kebetulan, Beliau dan rombongan, diantar Dinas Perdagangan Kota mengunjungi kantor saya.

Dalam pesawat, kami kongkow ringan-ringan.

Saat mendarat di Bandara Soekarno Hatta, Beliau nawari tumpangan ke kota. Saya mau saja. Kapan lagi naik mobil Corps Diplomat? Ya, toh? Beriringan kami keluar.

Di kejauhan tampak mobil sedan Mercy hitam dengan bendera Iran di kiri kanan, diparkir di depan pintu keluar.

Keren.

Sepanjang perjalanan kami ngobrol ngalor-ngidul. Saya tanya, istrinya berapa (wani mati). Beliau tertawa, dan menjawab, “Just one,” terus malah nunjuk supirnya, yang ternyata orang Indonesia. “He got two wives.”
Pak sopir yang berkopiah terkekeh, “Njih, pak, kalih…”

Oalah.

Saya terus didrop di dekat rumah dinasnya yang ternyata di sebelah rumah dinas Wapres. Nurut Beliau ada banyak taksi nongkrong di sekitar rumahnya.

Saya keluar dari mobil dan berdiri di pinggir jalan; mobil Diplomat menunggu. Ternyata jam 7.30 pagi, pas ‘rush hour’, gak ada taksi kosong yang lewat.

Sang Diplomat turun dari mobil, ikut nyegat taksi di samping saya.

Saya lama-lama merasa sungkan, masa Diplomat nyegat taksi. Saya bilang, “Sir, you can leave me, I will be fine.”
Dan Beliau pun setuju. Setelah kami saling berjabat tangan, Beliau masuk ke dalam mobil. Mobil menjauh, saya melambai. “Thank you for the ride, Sir!”

Karena masih tidak ada taksi lewat, saya berjalan ke jalan besar untuk nyegat. Eh, tetep gak ada taksi. Saya mulai was-was, wedi telat. Seminar jam 8. Saya memandang mobil yang bersliweran tanpa henti.

Hmm, kapan dapat taksinya?

Eh, ndilalah sebuah motor menepi. Seorang mas-mas berkumis tipis duduk di atas sadel sembari cengar-cengir. “Ojek mas?,” tanyanya dengan logat Jawa yang kental.
Tanpa berpikir panjang, saya mengangguk. “Ho’oh.”
Seminar segera dimulai, di Hotel Borobudur. Sudah bayar sejuta lebih.

Sayang kalo sampai telat acara pembukaan. ‎

Saya ditanya, “Mau ke mana?”
Saya jawab, “Hotel Borobudur.”
Mas ojek menatap saya, pandangannya hampa. “Di mana tuh?”
Untung saya masih menyimpan sms dari mbak Suci, panitia seminar, begini bunyinya: “Lokasi seminar: HOTEL BOROBUDUR. Ballroom, Lantai 5. Jl. Prof. Dr. Satrio No. 1 Casablanca, Kuningan, Jaksel. CP Panitia: Suci 08158832015.”

Mas ojek manggut-manggut. “Ya Casablanca. Tau.”
Oke saya dikasi helm, terus naik di belakang.
Sebelumnya saya tanya, “Piro mas?”
Dia jawab, “Tiga puluh ribu pas.”
Tidak saya tawar lagi.

Ngeng, ngeng, ngeng.

Saya menatap bayangan wajah saya di helm mas ojek. Duh. Sepanjang jalan saya rodo nutupi muka dikit-dikit. Malu, ah, kalo ketauan suplier atau teman, atau adikku yang tinggal di Jakarta.

Lho, Direktur kok ngojek???

Singkat kata sampailah kami di daerah Casablanca dengan selamat. Tapi – ada masalah! Kami tidak bisa menemukan Hotel Borobudur di daerah Casablanca. Kami tanya ke sana kemari, katanya yang ada mah Hotel Parklane atau Hotel Manhattan.

Tak ada Hotel Borobudur. Padahal jelas di lembar fax yang saya bawa: Hotel Borobudur. Sudah diubek-ubek, rak ketemu.

Saya penasaran.

Saya telpon mbak Suci langsung. Dia bilang Hotel Borobudur di sebelah Mall Ambassador. Saya putari lagi bareng mas ojek yang asli saking Jogja. Mall Ambassador-nya ketemu, hotelnya gak ketemu‎.

Akhirnya ada yang kasih info. “Mas, mas, Hotel Borobudur tuh di Senen deket Gambir…”
Gubrak! Mas’e Jogja mulai panik. Rupanya dia ngojeknya nyambi. Dia harus masuk kantor jam 8.30. Saya minta tolong diantar ke Gambir.
“Saya bisa telat nih, Pak,” ujarnya melas.

Kita berpacu lagi balik ke Senen.

Wah matahari mulai panas dan bau asap knalpot di mana-mana. Saya kembali melihat bayangan wajah saya di helm mas ojek. Jan melas! Saya ini Direktur, lho, kok malah direken batur.

Hahaha.

Akhirnya sampailah kami di Senen. Hotel Borobudur terlihat di kejauhan. Duh, leganya! Mas ojek tak kasih cepekjeng, seratus ribu. Hampir jam 9. Wiuhhh. Satu setengah jam ubeng-bengan naik brompit.

Saking tegangnya tidak sempat buka BB. Sambil berjalan menuju Hotel Borobudur, saya buka BB dan terbelalak membaca pesan Mbak Suci:

“Pak Halim mhn maaf lokasi di MANHATTAN HOTEL, JL. Prof. Dr. Satrio No. 1 Casablanca Kuningan, Jaksel. BUKAN di Hotel BOROBUDUR. Mhn maaf yg sebesar2nya atas kejadian ini…”

Gubrak??!! Hah??! Bukan di Hotel Borobudur???? Tapi di Hotel Manhattan???

Yaaahhh, dari tadi aku sih sudah nyampe! Saya celingukan. Mas ojek sudah ngilang, sipat kuping ngejar jam kantornya. Saking senewen dan trauma naik ojek, saya nekad. Saya nyegat bajaj. Ada sih, taksi di hotel, tapi saya takut resiko. Naik taksi jam segini bakal kejebak macet.

Benar, kan?

Bajaj peot yang saya tumpangi nerabas jalan raya Ibukota yang mulai padat merayap. Saya duduk di belakang bersedekap.

Lumayan, naik bajaj tidak kepanasan dan tidak terlihat orang yang mungkin kenal. Tapi amit-amit jabang bayi, naik bajaj ternyata butuh ketahanan fisik dan mental prima. Mesin bajaj bisingnya kayak genset ‘made in China’.

Saya mringis-mringis menahan kuping yang mendadak kopok.

Sepanjang perjalanan, saya kadang-kadang harus ngangkat sepatu karena mesin bajaj pas di bawah kaki dan panasnya berasap-asap nembus sepatu.

Belum lagi faktor deg-degan saat ada tanjakan. Pas di tanjakan, mesin bajaj ngeden. “Bremm!! Bremm!! Bremm!!” Pedal di gas pol, supaya mesin tidak ko’it.

Jantung empot-empotan, doa segala agama saya daraskan.

Akhirnya dengan penuh perjuangan, air mata dan doa, jam 10 lebih dikit kami nyampe deh di hotel Manhattan. Haleluyahhh! Alhamdulilah! Yesss!

Sopir bajaj tak kasih cepekjeng!

Total perjalanan riwa-riwi abis dua ratus ribu perak. Saya melas liat si mas ojek dan si abang bajaj. Itung-itung amal. Padahal kalo naik taksi dari bandara langsung ke Hotel Manhattan paling habis berapa?

Saya langsung ke toilet. Sambil ngelap wajah dengan saputangan, yang langsung menghitam-legam penuh jelaga perjalanan, saya membatin, inilah metafora kehidupan yang tak terduga.

Berangkat gagah naik pesawat terbang, duduk di sebelah Diplomat, sampe di Jakarta diantar Mercy. Eh, tau-tau nasib berubah, ganti naik ojek dan bajaj.

Nasib, nasib, siapa yang bisa tebak?

Tapi saya tetap bersyukur mengalami itu semua. Kalau dipikir-pikir perjalanan pesawat – mercy – ojek – bajaj jauh lebih berkesan ketimbang seminarnya.

Apa dengan dua ratus ribu bisa beli pengalaman di atas?

2010