Kolom  

Pagi Membumi, Malam Mengangkasa

icon zonasi
pagi membumi
Ilustrasi

Pemuda harus mampu menapak realitas tanpa kehilangan keberanian untuk bermimpi

Oleh : Abdullah Ni’mal Muqtafa
(Mahasiswa UNUGIRI Bojonegoro)

BARANGKALI begitulah pemuda seharusnya menjalani hidup, di pagi hari menapak bumi, malam hari mengejar langit.  Di antara langit dan tanah itulah seharusnya jiwa anak muda tumbuh, tak terlalu tinggi sampai lupa dari mana ia berasal tetapi juga tak terlalu rendah sampai takut untuk bermimpi tentang ke mana ia hendak pergi.

Pagi adalah waktu di mana kita kembali menjadi manusia biasa. Tidak adas gelar yang perlu dibanggakan, tidak ada jabatan yang perlu dipamerkan, tidak ada pencapaian yang harus terus-menerus diumumkan. Kita hanya manusia yang berjalan di antara manusia lainnya. Menyapa pedagang di pinggir jalan, berbincang dengan tukang parkir, duduk bersama teman tanpa membicarakan status, atau sekadar melihat bagaimana orang-orang menjalani hidup dengan segala kesederhanaannya.

Sebab dunia yang sesungguhnya tidak selalu berada di ruang-ruang diskusi, gedung-gedung tinggi, atau buku-buku yang kita baca. Dunia juga hidup di warung kecil, di pasar yang riuh, di jalan yang berdebu, di tangan seorang ibu yang menghitung uang belanja, dan di pundak seorang bapak yang pulang membawa lelah. Kalau ingin memperjuangkan manusia, kita juga perlu bergaul dengan manusia.

Anak muda perlu membumi agar tidak terjebak dalam menara gading pikirannya sendiri. Kita boleh membaca banyak buku, menguasai banyak teori, berbicara tentang keadilan, demokrasi, pendidikan, kemiskinan, atau perubahan sosial. Tetapi jangan sampai pengetahuan membuat kita merasa lebih tinggi daripada mereka yang tidak memiliki kesempatan untuk memperoleh pengetahuan yang sama.

Sebab ada jenis kecerdasan yang tidak pernah diajarkan di bangku sekolah yakni kecerdasan untuk memahami kehidupan. Ia tumbuh dari percakapan dengan orang-orang sederhana, dari kegagalan, dari perjalanan, dari melihat kenyataan dengan mata kepala sendiri. Terkadang, seseorang yang tidak pernah membaca buku filsafat justru mampu mengajarkan kita tentang makna hidup melalui caranya bertahan menghadapi hari.

Membumi bukan berarti berhenti bermimpi. Membumi justru berarti mengetahui bahwa setiap mimpi memiliki manusia yang harus diperjuangkan. Kita tidak sedang bermimpi untuk sekedar menjadi terkenal, kita bermimpi agar keberadaan kita kelak memiliki arti bagi kehidupan orang lain.

Dan ketika malam tiba, ketika suara dunia mulai mengecil dan kesibukan  perlahan berhenti, barangkali itulah saatnya kita menjadi sedikit lebih liar.

Biarkan pikiran keberadaan kita kelak memiliki arti bagi kehidupan orang lain. Bebaskan imajinasi menciptakan kemungkinan-kemungkinan yang hari ini terdengar mustahil. Jangan terlalu cepat membunuh sebuah mimpi hanya karena orang lain mengatakan bahwa mimpi itu tidak realistis.

Bukankah banyak hal yang hari ini kita anggap biasa pernah dianggap mustahil oleh generasi sebelumnya?

Pesawat pernah menjadi khayalan sampai manusia pernah menginjak bulan. Teknologi yang membuat kita dapat berbicara dengan seseorang ribuan kilometer jauhnya pernah terdengar seperti cerita fiksi. Begitu banyak perubahan besar dalam sejarah bermula dari kepala seseorang yang berani membayangkan sesuatu yang belum pernah ada.

Karena semua itu, sebagai pemuda generasi harapan jangan hanya belajar tentang realistis, namun beranjaklah dan beranilah untuk menjadi seorang pemimpi.

Tak bisa disangkal bahwa realitas memang penting, tetapi realitas tidak selalu benar. Sesuatu yang sudah berlangsung lama bukan berarti sesuatu itu harus terus dipertahankan. Kemiskinan bukanlah kenyataan yang harus diwariskan. Ketidakadilan bukan tradisi yang harus dilanggengkan. Pendidikan yang buruk bukanlah sebuah takdir, dan ketimpangan bukanlah hukum alam. 

Dunia terkadang membutuhkan pemuda yang cukup keras kepala yang mengatakan “SEHARUSNYA BUKAN BEGINI!!!!”.

Dari kalimat sederhana itulah perubahan sering kali bermula.

Namun mimpi tanpa pijakan juga dapat berubah menjadi kesombongan. Kita bisa terlalu sibuk membayangkan dunia yang ideal sampai lupa bahwa dunia yang kita tinggali sedang membutuhkan tangan untuk bekerja. Kita bisa terlalu banyak berbicara tentang perubahan tanpa pernah bersedia turun dan melakukan sesuatu.

Dan ingatlah bahwa kaki harus berada di tanah. Bermimpilah setinggi mungkin, tetapi jangan sampai kaki lupa dan kehilangan alamat untuk pulang.

Ketika pagi turunlah

Temui manusia dengarkan cerita mereka. Rasakan kehidupan tanpa perantara. Berjalanlah tanpa perlu selalu membawa nama dan gelar. Belajarlah menjadi manusia biasa, karena dari sanalah empati tumbuh.

Lalu malam, terbanglah

Bermimpilah tanpa meminta izin kepada mereka yang tidak percaya. Bayangkan sekolah yang lebih adil, kota yang lebih manusiawi, masyarakat yang lebih setara, dan kehidupan yang membuat orang tidak perlu memilih antara bertahan hidup atau mengejar cita-cita.

Jika  mimpimu terdengar terlalu besar, tak apa-apa. Karena barangkali begitulah mimpi pemuda, sedikit besar untuk zamannya

Namun ketika pagi, ketika malam selesai, kembalilah ke bumi.

Sebab mimpi tidak membutuhkan manusia yang hanya pandai membayangkannya. Mimpi membutuhkan manusia yang bersedia mengerjakannya.

Dan mungkin di situlah tugas kita sebagai anak muda, pagi menjadi rakyat biasa agar tidak kehilangan rasa, malam menjadi pemimpi agar tidak kehilangan arah.

Kaki di tanah

Kepala di langit

Dan hati, tetap berada di antara keduanya, mengingatkan kita bahwa setinggi apa pun mimpi yang ingin kita kejar, kita tetap lahir dari bumi dan pada akhirnya akan kembali kepadanya.

Sehat-sehat generasiku. []