Kolom  

Pijat

icon zonasi
pijat
Ilustrasi/Zonasi.id

Setelah seharian bekerja, tubuh Anda perlu rehat yang lebih dari sekadar jalan-jalan, saatnya kembalikan semangat dengan pijatan yang menenangkan

Oleh: Imaniar Yordan Christy
(Guru dan Pengurus Dewan Kesenian Semarang)

BEKERJA membuat badan lelah. Leher kaku dan tegang setelah bekerja menggunakan laptop berjam-jam. Pinggang nyeri dan punggung sakit setelah duduk mengoreksi tumpukan berkas yang menggunung di meja kerja.

Terlalu banyak menulis atau mengangkat barang membuat tangan terasa letih. Berdiri terlalu lama saat bekerja juga membuat kaki pegal dan ngilu.

Betis akan menjadi kencang dan kram otot kaki sering terjadi saat tidur di malam hari. Aktivitas tidur malam menjadi sangat tidak nyaman jika badan terlalu lelah dan pegal.

Padahal tidur nyenyak di malam hari sangat dibutuhkan para pekerja agar dapat bekerja dengan semangat di hari selanjutnya.

Otot perlu dikendurkan agar tidak tegang. Rhoma Irama pernah mengajak pekerja untuk santai: Syaraf tegang karena berpikir sehari-hari/ Otot kejang karena bekerja sehari-hari/ Santai…Santai…/ Yo kita santai agar syaraf tidak tegang/  Yo kita santai agar otot tidak kejang//

Rhoma Irama mengingatkan pekerja pada larik-larik selajutnya agar menyediakan waktu satu hari dalam seminggu untuk bersantai. Ingat, santai anjuran Bang Haji cukup satu hari.

Enam hari lainnya tetap digunakan untuk bekerja keras. Lagu tersebut memang telanjur tercipta sebelum kebijakan pemerintah tentang lima hari kerja dikeluarkan. Satu hari santai dirasa kurang. Pekerjaan terlampau berat membutuhkan dua hari beristirahat.

Pijat menjadi opsi yang bisa diambil untuk bersantai. Pijat menjadi solusi para pekerja agar dapat membuat badan relaks dan kembali bertenaga.

Pijat memang kadang kalah dengan opsi bertamasya. Orang-orang memilih healing. Padahal healing seharusnya memiliki makna proses penyembuhan jiwa, perasaan, batin, maupun pikiran dan merujuk pada penyembuhan psikologis seseorang.

Namun, saat ini orang yang sebetulnya tidak memiliki permasalahan psikologis juga memilih menggunakan kata healing ketimbang menggunakan kata piknik, pelesiran, melancong, berwisata, atau sekadar jalan-jalan.

Jalan-jalan justru membuat badan menjadi lebih lelah. Pijat kembali dilirik untuk benar-benar menuntaskan permasalahan pegal, nyeri, linu, tegang dan kencang yang diraskan tubuh supaya bisa kembali bersemangat dalam bekerja.

Kerja harus semangat. Semangat bisa didapat jika badan segar. Badan segar kalau tidak pegal. Pegal bisa dituntaskan dengan pijat.

Waldjinah dengan lagu “Tukang Pijet” menggoda untuk disimak: Kecrak-kecrek turut pinggir dalan gedhe/ wis adate tukang pijete golek gawe/ Kecrak-kecrek sopo sing kroso boyoke/ wis jamake diceluke pijet wae//

Tukang pijat keliling yang diceritakan Waldjinah dalam lagu yang ia nyanyikan menjadi solusi bagi orang-orang yang nyeri pinggangnya.

Orang yang bekerja dengan mengangkat beban berat, sering menggendong, sering melakukan gerakan seperti membungkukkan badan kerap mengalami permasalahan sakit pinggang (kroso boyoke).

Namun saat ini, sakit pinggang juga dialami oleh orang yang menghabiskan waktu dengan duduk sepanjang hari. Saat pinggang terasa nyeri, itulah waktu yang tepat untuk memanggil tukang pijat.

Di lagu Waldjinah, tukang pijat keliling membawa alat kecrek untuk memberikan kabar kepada orang-orang bahwa dirinya menjajakan jasa pijat.

Saat ini tukang pijat tidak perlu lelah berkeliling. Mereka  mudah dipanggil melalui Whatsapp  atau aplikasi.

Para pelanggan bisa mengatur jadwal, memilih terapis, bahkan memilih jenis pijatan jika mereka memesan melalui aplikasi.

Sementara jika pelanggan menghubungi pemijat melalui Whatsapp mereka bisa bersepakat untuk waktu dan durasi pemijatan yang diinginkan.

Menjadi tukang pijat pernah menjadi pilihan hidup seorang perempuan yang melalui kehidupan yang cukup berat: menjadi janda karena suami meninggal, menantu dan anak terlibat gerakan PKI yang berujung penangkapan dan penghukuman mati, serta tuntutan menyambung hidup dengan membesarkan seorang cucu yang ditinggal ayahnya meninggal dan ibu berada di tahanan. Perempuan tersebut adalah Sri Sumarah. Tokoh dalam cerpen Umar Kayam (1975).

“Di kampungnya dia dipanggil Bu Guru Pijit. Sesungguhnya dia bukan guru pijit. Bukan juga guru. Dia tukang pijit. Ah, tidak juga sesungguhnya. Sebab bukankah tukang pijit terlalu sering dibayangkan sebagai mereka yang suka menjelajah lorong-lorong kota dengan tongkat yang dihentakkan dan berbunyi ‘crek-crek’ itu? Atau mereka yang suka duduk berderet di depan losmen atau hotel? Dia agak lain. Dia memijit, tetapi bukan dalam gaya dan dengan cara seperti yang tersebut itu. Dia memijit  hanya menurut panggilan saja.”

Wah Sri Sumarah seperti tukang pijat masa kini. Dia sudah punya pelanggan-pelanggan yang akan memanggilnya bahkan menjemputnya jika ingin dipijat.

Dia tidak perlu lelah berjalan atau menunggu di luar rumah. Sri Sumarah istimewa dengan pijatannya. Pelanggan akan rela menunggu jadwal kosong Sri Sumarah demi merasakan pijatan tangannya.

“Dia hanya mengelus-elus tangan, kaki, kepala, ya, seluruh bagian badan dengan pelan-pelan saja. Tetapi begitu tangan itu diletakkan pada bagian badan tertentu, seakan-akan ada semacam aliran listrik dingin yang segera saja mampu melemaskan urat-urat yang semula kencang dan tegang. Begitu perasaan lega dan tenang terasa hadir dengan nyamannya.”

Sri Sumarah yang senantiasa cantik meskipun sudah memiliki cucu. Ia mampu menjaga badan sesuai anjuran neneknya dulu.

Ia mampu menempatkan diri sebagai perempuan Jawa yang halus, lembut, tidak melawan, pasrah namun tidak menyerah dengan keadaan.

Tangannya begitu ajaib dengan sentuhan yang membawa efek relaksasi bagi tubuh-tubuh yang kelelahan. Pijat urat syaraf yang tidak perlu teriakan-teriakan menyakitkan terdengar dari orang yang ia pijat.

Sri Sumarah juga menembang lagu Jawa agar orang yang dipijat merasa nyaman. Dia mementingkan kenyamanan orang yang dipijatnya.

Dengan kondisi tubuh yang nyaman dan relaks, otot menjadi mudah dikendurkan tanpa penekanan yang keras. Tubuh yang gelisah membuat otot-otot juga sulit kendur.

“Biasanya hampir otomatis sesudah seperempat jam memijit begitu, dia akan rengeng-rengeng, menyanyi pelan-pelan dari satu dan lain bait macapat.”

Jika pergi ke tempat pijat, pelanggan akan dimanjakan dengan musik instrumental. Musik yang menenangkan dan diputar dengan volume suara tidak terlalu kencang.

Musik tersebut membuat pengunjung bisa lebih tenang dan relaks. Bahkan bisa membuat orang yang sedang dipijat tertidur karena perasaan yang begitu tenang.

Sri Sumarah telah menerapkan konsep itu saat ia memijat. Ia yang menyanyikan lagu-lagu yang menenangkan pelanggan.

Waldjinah mengimbau agar pendengar percaya bahwa pijat adalah pilihan yang tepat untuk segala permasalahan lungrah, letih, lesu dan pegal-pegal.

Boyok pegel awak kesel diingel-ingel/ Yen ra ngandel ojo mangkel mundak kogel/ ngendi wae wis carane  ojo diece/ yen beneran awak lungkrah biso sumiyah//

Janji setelah dipijat adalah badan bisa kembali segar dan bugar kembali. Saat dipijat tentu harus memasrahkan diri. Jangan melawan atau menahan.

Otot akan semakin tegang jika saat dipijat badan tidak mau tenang dan menerima. Perlu rasa percaya pada tukang pijat.

Mungkin kini kita berharap ada Sri Sumarah lain yang bisa memijat dengan sentuhan yang tidak membuat jarem tetapi mampu mengendorkan otot yang tegang, melemaskan urat yang terasa kaku, dan menghilangkan nyeri karena kelelahan.

Saat ini banyak sekali teknik pijat yang ditawarkan seperti pijat refleksi, shiatsu massage,  holistic therapy, thai massage, pijat akupresur, pijat traditional, pijat urat syaraf, bahkan pijat kretek-kretek (chiropractic).

Namun, semua jenis pijat itu akan terasa manfaatnya jika tukang pijat ikhlas bekerja dengan kesungguhan dengan tujuan memberikan kenyamanan pada pelanggan, serta orang yang dipijat juga mempercayakan tubuhnya untuk dipijat dengan tenang. [Luk]