Pohon jati di Pati menjadi metafora warisan keberanian, kejujuran, dan keteguhan dari Arya Penangsang, Ronggolawe, dan Samin Surosentiko yang terus bertunas di generasi kini.
Oleh: Afif junaidi
DI tanah Pati, pohon jati tua itu masih berdiri. Akar-akarnya Jipang, Tuban, Samin — menancap dalam, saling mengait, saling menguatkan.
Di antara dahan dan akarnya, ada napas yang tidak pernah putus: napas Syekh Jangkung, yang dikenal rakyat dengan nama kecil Saridin.
Beliau putra Sunan Muria, penyebar Islam yang sederhana, berani, dan tidak mencari kemewahan. Hidupnya menjadi jembatan antara keberanian, kejujuran, dan keteguhan.
Kini, berabad-abad kemudian, nama itu kembali dipanggil, bukan sebagai orang yang sama, melainkan sebagai jiwa yang bangkit lagi.
Tiga Akar, Tiga Leluhur, Satu Jejak: Dulu dan Kini
Akar Jipang diwariskan oleh Arya Penangsang. Beliau berani menegakkan kebenaran meski sendirian. Tidak takut berbeda. Tidak takut dikritik.
Semangatnya tidak digunakan untuk berkuasa, melainkan untuk melindungi yang lemah dan membela yang tertindas. Kini, ketika penggusuran datang dengan alasan “demi pembangunan”, ketika petani dilarang menanam di tanah leluhurnya; Akar Jipang bergetar.
Saridin berdiri di barisan depan bukan untuk berkelahi. Ia berdiri untuk menegaskan: “Tanah ini bukan sekadar tanah. Ini ibadah. Ini kehidupan. Ini masa depan anak-anak kami.” Keberaniannya menular. Yang tadinya takut ditangkap, takut kehilangan bantuan, kini berani berdiri bersama. Karena mereka sadar: kalau diam, semuanya hilang.
Akar Tuban diwariskan oleh Ronggolawe. Beliau hidup jujur dan apa adanya. Ajaran sederhananya tidak berbelit: “Jangan mengambil kalau tidak disuruh. Jangan meminta kalau tidak diberi.”
Itu adalah cermin kejujuran yang hidup di tengah masyarakat. Tidak mencari jabatan. Tidak memburu kemewahan. Bagi beliau, kebenaran bukan hanya diperjuangkan dengan kata-kata, tapi dijalani setiap hari.
Kini, ketika janji-janji tertulis di spanduk tapi tak pernah sampai ke tangan, ketika laporan kemajuan tak sesuai kenyataan di lapangan.
Akar Tuban menyaring kebenaran. Saridin mengumpulkan bukti. Mencatat tanggal dan nama. Menyebarkan apa yang sebenarnya terjadi. Bukan untuk membenci siapa pun, tapi supaya kebohongan tidak dibiarkan menjadi kebiasaan. “Kalau salah ya salah. Kalau benar ya benar.” Kebenaran tidak perlu dikejar. Ia akan muncul kalau kita berani tidak ikut arus.
Akar Samin diwariskan oleh Samin Surosentiko. Beliau menanam bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk generasi yang belum lahir. Hidup sederhana, rendah hati, berani mengalah demi kebaikan bersama.
Ia mengajarkan bahwa kekuatan terbesar bukan ada pada senjata, melainkan pada keteguhan hati dan kemandirian. Kini, ketika akses makin dipersempit, ketika tekanan datang lewat aturan, lewat ekonomi, lewat ketakutan.
Akar Samin menyebar. Saridin tidak menyerang dengan kekuatan yang sama. Ia justru memperkuat yang kecil “Kalau jalan depan ditutup, kita tanam di samping. Kalau waktu diambil, kita tanam di waktu lain. Yang penting jangan berhenti menanam.”
Itu bukan penyerahan. Itu keteguhan. Karena yang menanam tidak akan mati kelaparan. Dan yang bersatu tidak akan mudah dipecah.
Ketika para leluhur itu wafat, pohon jati itu tidak mati. Akar-akarnya tetap hidup, menumbuhkan tunas baru di setiap musim yang datang.
Saridin Masa Kini: Gelombang Bertunas
Di tepian sawah yang makin sempit, di pinggir sungai yang makin keruh, di desa-desa yang makin berisik, muncul lagi sosok yang dipanggil orang Saridin. Bukan keturunan langsung.
Bukan pewaris tahta atau gelar. Ia bisa petani, bisa kiai kampung, bisa aktivis muda, bisa orang biasa yang cukup melihat penderitaan di sekitarnya. Tapi namanya disebut dengan harapan yang sama: bahwa jiwa para leluhur bangkit lagi, menanggapi angin yang berubah arah.
Gelombang pertama tidak dimulai dengan teriakan. Ia dimulai dari tanda-tanda yang selama ini tak diindahkan: harga gabah jatuh di bawah biaya tanam, sawah berubah menjadi gedung dan jalan tol yang tidak memberi makan rakyat, air sungai berwarna aneh sementara pajak terus naik, pejabat berjanji di depan kamera lalu lupa setelah terpilih. Orang desa mulai merasa: ada yang tidak jujur. Ada yang diambil tanpa pamrih kembali.
Maka Saridin masa kini adalah orang yang pertama kali berkata: “Cukup.”
Bukan karena ia paling berani sendirian. Tapi karena ia tidak bisa lagi diam melihat sesama menderita. Dan ketika ia berkata “cukup”, ia tidak berkata sendirian. Karena tiga akar yang diwariskan oleh Arya Penangsang, Ronggolawe, dan Samin Surosentiko sudah bergerak di bawah tanah lebih dulu.
Saridin tidak berpikir ia akan menang dalam sehari. Ia tahu sejarah tidak pernah berjalan lurus. Badai bisa datang lagi. Hujan asam bisa turun. Gergaji bisa kembali diasah. Tapi ia juga tahu apa yang tidak bisa dihilangkan:
– Kalau dizalimi, jiwa Arya Penangsang akan bangkit.
– Kalau dibohongi, jiwa Ronggolawe akan menolak.
– Kalau dipaksa tunduk, jiwa Samin Surosentiko akan tetap hidup dan menanam.
Kekuatan sejati tidak diukur dari jumlah pengikut atau kekuasaan yang dimiliki. Ia diukur dari keteguhan pada kebenaran, kesederhanaan hidup, dan kemampuan menanam harapan untuk generasi yang belum lahir.
“Wong Pati iku koyo wit jati. Semakin diterpa angin, semakin dalam akarnya. Lan oyod ora bakal ilang, mung ngenteni wektu kanggo tuwuh maneh.”
Orang Pati itu seperti pohon jati. Semakin diterpa angin, semakin dalam akarnya. Dan akar tidak akan pernah hilang, hanya menunggu waktu untuk tumbuh lagi. []






