Update  

Prof Siti Zuhro Ungkap 4 Pekerjaan Rumah NU Jelang Muktamar ke-35, Ada Soal Ekonomi dan Penceramah Instan

lukni maulana
Prof Siti Zuhro mengungkap empat catatan strategis untuk masa depan NU
Profesor Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. R. Siti Zuhro

Jelang Muktamar ke-35 NU, Prof Siti Zuhro mengungkap empat catatan strategis untuk masa depan NU.

ZONASI.ID – Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), Profesor Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. R. Siti Zuhro menyampaikan empat catatan strategis mengenai arah NU di masa depan.

Catatan tersebut mencakup kepemimpinan NU, konsolidasi potensi ekonomi warga Nahdliyin, pembenahan tata kelola organisasi, serta penguatan tradisi keilmuan di tengah perkembangan era digital.

Pandangan itu disampaikan Prof. Siti Zuhro dalam wawancara pada Kamis (20/8/2026).

1. Kepemimpinan NU Harus Mampu Berperan di Panggung Dunia

Prof. Siti Zuhro berpandangan, NU memiliki sejarah panjang dalam menjaga tradisi Islam Nusantara. Menurutnya, secara historis NU lahir sebagai respons terhadap gerakan puritanisasi Wahabi yang dinilainya mengancam sejumlah tradisi dan budaya Islam Nusantara, seperti selamatan, ziarah kubur, tahlilan, dan maulid.

Menurut Prof. Siti Zuhro, NU sebagai wadah Islam rahmatan lil ‘alamin perlu terus mengembangkan pemikiran Islam yang moderat dan menempatkan nilai kemanusiaan sebagai bagian penting dari perjuangannya.

Karena itu, ia menilai calon Ketua Umum PBNU mendatang idealnya memiliki kapasitas dan kapabilitas untuk membawa fikrah nahdliyyah atau pemikiran NU ke panggung global.

“Fikrah Nahdliyyah calon ketua umum NU mendatang idealnya memiliki kapasitas dan kapabilitas dalam memperjuangkan Islam rahmatan lil ‘alamin di panggung dunia global. Kepemimpinan NU harus mampu mengambil peran strategis, seperti menentang genosida yang terjadi di Palestina serta menjadi pelopor perdamaian dunia,” ujar Prof. Siti Zuhro.

2. Potensi Ekonomi Warga NU Perlu Dikonsolidasikan

Prof. Siti Zuhro menggambarkan struktur sosial NU seperti “lidi yang diikat menjadi sapu”.

Menurut dia, warga NU, khususnya para kiai dan pesantren, memiliki independensi yang kuat. Mereka tidak selalu terikat secara kaku dengan struktur organisasi.

Kondisi serupa, kata dia, terlihat dalam aktivitas ekonomi warga Nahdliyin yang tersebar di berbagai sektor.

Karena itu, tantangan bagi calon Ketua Umum PBNU bukan sekadar mengelola struktur organisasi, tetapi juga mengonsolidasikan potensi ekonomi warga NU agar dapat menjadi kekuatan bersama.

“Modal sosial utama yang wajib dimiliki oleh calon Ketua Umum PBNU mendatang adalah kemampuan mengonsolidasikan dan menggerakkan potensi ekonomi anggotanya,” katanya.

Ia mencontohkan pembentukan jaringan koperasi yang disesuaikan dengan jenis kegiatan ekonomi masing-masing warga sebagai salah satu bentuk konsolidasi tersebut.

3. Tata Kelola NU Harus Transparan dan Berbasis Meritokrasi

Catatan berikutnya berkaitan dengan tata kelola organisasi.

Prof. Siti Zuhro menilai prinsip sami’na wa atho’na atau “kami dengar dan kami taat” perlu ditempatkan secara proporsional.

Menurutnya, prinsip tersebut dapat diterapkan dalam hubungan sosial dan personal antara guru dan murid sebagai bentuk penghormatan. Namun, dalam proses belajar-mengajar dan tata kelola organisasi, sikap kritis yang santun tetap diperlukan.

Ia mendorong agar sistem birokrasi dan tata kelola NU terus beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Prinsip transparansi, akuntabilitas, dan meritokrasi, menurutnya, perlu menjadi bagian penting dalam pengelolaan organisasi NU ke depan.

Prof. Siti Zuhro juga menyebut empat karakter kepemimpinan Islam yang ideal, yakni Siddiq atau jujur dan benar, Amanah atau terpercaya, Fathonah atau cerdas, serta Tabligh yang berarti informatif, komunikatif, dan transparan.

4. NU Perlu Dorong Umat Beragama Secara Cerdas

Catatan terakhir berkaitan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tantangan dakwah di era digital.

Prof. Siti Zuhro menilai Islam tidak membedakan secara dikotomis antara ilmu agama dan ilmu umum. Menurutnya, seluruh ilmu pada akhirnya bersumber dari Tuhan dan dapat digunakan untuk memahami kebenaran ciptaan-Nya.

Ia juga berpandangan bahwa sanad atau rujukan keilmuan dapat berasal dari siapa saja, termasuk dari kalangan non-Muslim, sepanjang pengetahuan tersebut memenuhi prinsip kebenaran.

Pandangan tersebut menjadi penting di tengah maraknya penceramah instan di era digital.

Prof. Siti Zuhro mengimbau NU untuk semakin aktif menyampaikan fatwa dan narasi edukatif agar masyarakat mampu “beragama secara cerdas”.

Umat, lanjutnya, tidak seharusnya mudah terbuai oleh popularitas penceramah semata. Kedalaman ilmu, nalar kritis, dan kebenaran substansial perlu menjadi pertimbangan dalam memahami dan menjalankan ajaran agama.

Empat catatan tersebut menjadi bagian dari pandangan Prof. Siti Zuhro mengenai arah NU ke depan, terutama ketika organisasi tersebut memasuki momentum Muktamar ke-35 yang akan digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada 27-31 Agustus 2026. []