Update  

Sejarah Masjid Agung Kendal

Kandungan Al-A’raf Ayat 179
Wali Joko, ketika membangun mesjid Agung Kendal , mendapat bantuan dari empat soko guru ( tiang utama) sesuai dengan hasil musyawarah waktu pendirian Masjid Agung Demak, yaitu masing – masing, Sunan Bonang ,soko /tiang utama yang berada di sisi Barat Laut, Sunan Gunungjati, soko/tiang utama yang berada di sisi Barat Daya, Sunan Kalijaga, soko/tiang utama yang berada di sisi Timur Laut, dan Sunan Ampel, soko/tiang utama yang berada di sisi Tenggara.



Zonasi.id (Kendal)-Masjid Agung Kendal Jawa Tengah, adalah salah satu masjid tertua yang ada di Kabupaten Kendal. Dibangun sekitar tahun 1493 Masehi oleh Wali Joko, yang merupakan salah satu murid Sunan Kalijaga, masjid Agung Kendal terletak di pusat kota Kendal, sekitar alun -alun. Hingga kini, Masjid Agung Kendal ini terlah mengalamai beberapa kali pemugaran atau renovasi di antara nya pada , sekitar tahun 1967 – 1970, tahun 1981 -1995 yang di resmikan oleh Gubernur Jawa Tengah H. Soewardi pada tanggal 24 April 1995, pembangunan Menara Masjid tahun 2004-2007, penyempurnaan dan penataan Menara Masjid tahun 2021, serta yang terahir renovasi Masjid Agung Kendal secara besar-besaran ,yang pelaksanaannya di mulai pada tanggal 24 Desember 2022. Khusus ruang utama Masjid Agung Kendal selesai renovasinya pada akhir bulan Januari 2025 , dan diresmiakan penggunaan nya pada tanggal 31 Januari 2025 oleh Bupati Kendal Dico M. Ganindito.
“Ruang tengah sudah jadi. Saat ini renovasi masjid sudah selesai 60 persen lebih,” kata ketua takmir masjid Agung Kendal, Asroi Tohir, Selasa (4/03/2025).
Asroi mengatakan, meskipun saat ini bangunan masjid Agung Kendal sudah tampak modern, namun 4 Soko atau tiang dari Sunan Kalijaga, Sunan Ampel, Sunan Bonang dan Sunan Gunungjati, masih tetap dipertahankan. Demikian juga dengan makam Wali Joko, lokasinya masih di samping kanan masjid. Menurut Asroi, saat renovasi, sebenarnya ada rencana masjid Agung Kendal mau dibuat 3 lantai. Lantai bawah untuk perkantoran, lantai 2 dan 3 untuk sholat. Namun setelah melakukan komunikasi spritual dengan leluhur, tidak diperbolehkan. Lantai 1, tetap untuk sholat.
“Sebab lantai satu ini, dulunya digunakan untuk sholat para wali. Jadi tidak boleh diubah,” ucapnya.
Pada bulan Ramadhan, masjid Agung Kendal, seperti halnya dengan masjid lainnya. Ada tadarusan, dan baca Alquran. Namun yang spesial dari Masjid Agung Kendal ini, adalah takjil bubur lodeh untuk masyarakat yang mau buka puasa di masjid yang berada di pinggir jalan Pantura Kendal tersebut.
“Ada sekitar 200 porsi bubur lodeh yang kami siapkan untuk masyarakat yang mau buka puasa. Ini tradisi lama di masjid ini. Bubur sayur lodeh ini, menimbulkan kesederhanaan,” terang Asroi.
Siapakah Wali Joko
Menurut Asroi Tohir, Raden Joko Suwiryo/Pangeran Panggung ( adik seayah dari Raden Patah ) atau yang sekarang dikenal Wali Joko, menjadi murid Sunan Kalijaga atas suruhan Raden Patah. Setelah nyantri kepada Kanjeng Sunan Kalijaga ( salah seorang Wali Songo ),nama pangeran panggung diberi laqob oleh Kanjeng Sunan Kalijaga dengan nama Syekh Rofi’udin yang nama nya penegak syari’at agama islam. Setelah beberapa tahun nyantri pada Kanjeng Sunan Kalijaga dipandang ilmunya sudah mumpuni dan sudah mendapat pengakuan (wisuda) serta di ijinkan mengembangkan ilmu yang telah diperolehnya melalui dakwah. Syekh Rofi’udin ( Wali Joko ) bersama Sunan Katong (saudara kandungnya) di tugaskan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga berdakwah menyebarkan Agama Islam pada wilayah bagian barat Semarang. Sunan Katong di wilayah Kaliwungu dan Wali Joko ( Syekh Rofi’udin ) di wilayah kendal. Sesampainya di Kendal dan sebelum memulai berdakwah Syekh Rofi’udin ( Wali Joko ) mengawali dengan membangun tempat tinggal, menciptakan lingkungan yang teduh dan nyaman di sekitar rumah tempat tinggalnya. Diharapkan masyarakat atau para santri yang berkunjung di rumahnya merasa senang, nyaman dan kerasan.
Setelah santri-santrinya bertambah banyak dan rumah pondokan yang relatif kecil serta sederhana tidak lagi mampu menampung para santri, satu-satunya jalan harus membangun masjid yang mampu menampung banyak santri.
“Maka dibangunlah masjid pada tahun 1493 M bertepatan dengan tanggal 17 Shofar 899 H. Kala itu usia Wali Joko sekitar 30 tahun. Bangunan masjid yang pertama kali berukuran 27m x 27m = 729m2, terdiri 16 saka ( tiang ), atapnya bersusun 3 (tiga) dibuat dari sirap, lantai plester, tempat wudhu berupa kolah/kolam pendem yang mendapat aliran air sungai dari Kali Kendal yang di buat sendiri oleh Wali Joko dari Kedung Pengilon,” terang Asroi.
Asroi, menambahkan ketika membangun mesjid Agung Kendal , mendapat bantuan dari empat soko guru ( tiang utama) sesuai dengan hasil musyawarah waktu pendirian Masjid Agung Demak, yaitu masing – masing, Sunan Bonang ,soko /tiang utama yang berada di sisi Barat Laut, Sunan Gunungjati, soko/tiang utama yang berada di sisi Barat Daya, Sunan Kalijaga, soko/tiang utama yang berada di sisi Timur Laut, dan Sunan Ampel, soko/tiang utama yang berada di sisi Tenggara.
“Empat Soko atau tiang utama itu, masih bagus, dan masih kita pasang,” pungkas Asroi Tohir.