Kepemimpinan profetik menjadi sorotan dalam diskusi terbaru dari The Lead Institute. Apakah konsep ini akan melahirkan pemimpin yang diidamkan masyarakat dalam Pilkada serentak tahun depan?
ZONASI.ID (Jakarta) – Suasana Pilkada serentak yang semakin mendekat, diskusi tentang arah kepemimpinan di Indonesia semakin relevan. Universitas Paramadina, melalui The Lead Institute, menghadirkan forum diskusi yang membahas gagasan besar tentang Kepemimpinan Profetik dan Pilkada 2024, Senin (15/10/2024).
Bukan sekadar diskusi biasa, tema ini menggarisbawahi pentingnya moralitas dan keadilan sebagai fondasi dalam membangun masa depan daerah.
Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, membuka acara dengan sebuah pernyataan yang langsung menggugah.
“Desentralisasi memang menjadi mimpi besar, tetapi dalam praktiknya, masih ada ketimpangan yang harus kita benahi,” ucap Didik
Baginya, masalah ini hanya bisa diatasi melalui kepemimpinan profetik sebuah gaya kepemimpinan yang tidak hanya mementingkan hukum, tetapi juga nilai-nilai moral dan keadilan sosial.
Seolah memberikan angin segar di tengah kompleksitas politik daerah, Prof. Didik tidak hanya berbicara tentang masalah, tapi juga solusi.
Ia menekankan pentingnya menggabungkan kepemimpinan transformasional yang proaktif dan inovatif untuk membawa perubahan nyata. Ini bukan hanya soal siapa yang memimpin, tapi bagaimana mereka memimpin.
“Kita butuh pemimpin yang mampu menciptakan dampak positif, bukan sekadar memegang tampuk kekuasaan,” ujarnya.
Diskusi ini juga mempertemukan berbagai tokoh berpengaruh yang berbicara tentang tantangan dan peluang dalam Pilkada 2024. Dr. phil. Suratno Muchoeri, Ketua The Lead Institute, membawa warisan pemikiran Cak Nur ke panggung utama.
Ia mengutip gagasan Nurcholish Madjid, yang menekankan pentingnya keadilan sosial dalam kepemimpinan.
“Kepemimpinan profetik tidak sekadar berwacana, tapi harus terefleksi dalam kebijakan yang nyata, kebijakan yang berpihak pada rakyat,” jelasnya.
Baginya, Pilkada 2024 menjadi momentum bagi daerah untuk bangkit melalui pemimpin yang benar-benar berkomitmen pada nilai-nilai moral.
Chusnunia Chalim, mantan Bupati Lampung Timur yang kini dikenal sebagai Wakil Gubernur Lampung, berbagi kisah pribadinya yang inspiratif.
Ia menyampaikan bahwa perjalanan politiknya tidak dimulai dengan modal finansial yang besar, tetapi dengan tekad dan kerja keras.
“Berpolitik tanpa mahar itu bukan mimpi. Jika kita punya rekam jejak dan kontribusi nyata, kita bisa menang,” katanya dengan penuh semangat.
Kisahnya menjadi pengingat bahwa perempuan juga punya peran besar dalam politik, dan mampu mendobrak sistem yang seringkali dianggap tidak ramah bagi kaum perempuan.
Tak hanya berbicara soal perjuangan pribadi, Chusnunia juga menyoroti permasalahan resentralisasi di Indonesia.
“Puluhan tahun desentralisasi ternyata belum optimal. Kewenangan daerah banyak yang kembali ke pusat, dan itu menghambat potensi daerah berkembang,” tambahnya.
Pandangannya memperkuat bahwa reformasi dalam kebijakan otonomi daerah masih sangat dibutuhkan, dan ini hanya mungkin dilakukan jika pemimpin daerah memiliki visi yang jelas dan moralitas yang kuat.
Dalam diskusi yang dipandu oleh Maya Fransiska, S.Ag., isu kepemimpinan hikmah juga diangkat oleh Dr. M Subhi Ibrahim.
Ia menekankan bahwa seorang pemimpin yang baik harus bijak, tidak hanya dalam mengikuti aturan, tetapi juga dalam memimpin dengan hati. Kepemimpinan profetik, menurutnya, adalah tentang tanggung jawab moral dan sosial untuk membuat perubahan yang positif.
“Kepemimpinan bukan sekadar jabatan, tapi amanah yang harus diemban dengan penuh kebijaksanaan,” katanya.
Di penghujung diskusi, Dr. rer. pol. Mada Sukmajati menegaskan bahwa Pilkada 2024 harus menjadi ajang lahirnya pemimpin yang benar-benar berintegritas.
Ia menyoroti pentingnya pendidikan politik dan partisipasi aktif masyarakat untuk memastikan bahwa pemimpin yang dipilih adalah mereka yang memiliki visi jangka panjang.
“Kita harus mulai dari sekarang, membangun politik yang bersih dan berkeadilan untuk semua lapisan masyarakat,” ujarnya.
Diskusi ini tidak hanya menjadi ajang pertukaran gagasan, tetapi juga sebuah seruan untuk mewujudkan kepemimpinan yang berpihak pada nilai-nilai luhur.
Di tengah hiruk-pikuk politik, harapan untuk masa depan yang lebih baik kembali menyeruak melalui kepemimpinan profetik sebuah konsep yang mengedepankan moralitas, keadilan, dan kebijaksanaan sebagai dasar utama. [Luk]











