Melalui pembahasan tentang Sartre dan novel Anne of Green Gables, kita diajak memahami bahwa eksistensi bukanlah tentang sekadar ada, tetapi bagaimana kita menyatakan diri sebagai subjek yang bebas dan berani menolak tunduk pada penilaian orang lain.
Oleh: Imaniar Yordan Christy
(Anggota Arti Indonesia dan Pengurus Dewan Kesenian Semarang)
PADA 26 Juni 2024, Dewan Kesenian Semarang dan Alliance Francaise de Semarang mengadakan acara Bincang Buku & Penulis Jean-Paul Sartre. Donny Danardono, dosen FHK dan FITL Universitas Katolik Soegijapranata, sebagai narasumber membuat makalah berjudul “Sartre: Ada sebagai Peniadaan.”
Narasumber dan peserta saling berbicara tentang eksistensi manusia. Donny mencoba menjelaskan kepada peserta bincang buku:
“Menjadi adalah masalah utama filsafat eksistensialisme yang populer di Eropa pada masa 1930-an sampai 1960-an.
Eksistensi yang berarti cara mengada sebagai sosok tertentu menunjukkan bahwa manusia berbeda dari benda atau makhluk hidup non-manusia tak berkesadaran. Benda dan makhluk hidup non-manusia berada atau bereksistensi seturut hakekat (esensi) atau kodratnya.
Sebaliknya, karena manusia berkesadaran, maka kesadaran itu senantiasa menuntutnya untuk menyatakan dirinya.” Ini merupakan sebuah pembahasan yang sangat berat walaupun hanya tentang keberadaan dan kesadaran diri manusia untuk menyatakan diri di dunia ini.
Ada sebuah novel anak yang berjudul Anne of Green Gables gubahan Lucy M. Montgomery (2009) yang bisa mengingatkan tentang eksistensi diri manusia. Matthew Cuthbert dan Marilla adalah pasangan suami-istri yang tidak memiliki anak.
Mereka berdua berniat untuk mengadopsi seorang anak laki-laki agar bisa membantu mereka bekerja di peternakan. Sebab, Matthew sudah tua dan mulai kewalahan dalam bekerja. Namun, yang dikirim oleh pihak panti asuhan adalah seorang anak perempuan bernama Anne.
Sepasang suami-istri tersebut kebingungan dan berniat untuk mengembalikan Anne ke panti asuhan: “…gadis itu mengangkat kepala dengan cepat, memperlihatkan wajah penuh air mata berlinang dan bibir gemetar.
‘Anda juga akan menangis, jika Anda seorang anak yatim piatu yang datang ke sebuah tempat yang Anda pikir akan menjadi rumah Anda, dan menemukan bahwa mereka tidak menginginkan Anda karena Anda bukan anak lelaki. Oh, ini adalah hal paling tragis yang pernah terjadi di dalam hidupku!’”
Tokoh Anne kehilangan eksistensi diri. Keberadaannya tidak dibutuhkan hanya karena dia perempuan. Secara esensi, laki-laki dan perempuan memang sama yaitu sebagai manusia.
Namun secara eksistensinya, Anne sebagai perempuan keberadaannya tidak dapat menggantikan anak laki-laki yang diharapkan oleh Matthew dan Marilla.
Anne tidak menyerah untuk terus menyatakan diri bahwa dirinya pun bisa mengerjakan hal lain untuk membantu Matthew dan Marilla meskipun ia anak perempuan: “…sejak pagi hingga tengah hari, dia membuat anak itu sibuk dengan berbagai tugas dan mengawasinya dengan teliti ketika gadis kecil itu melakukannya.
Pada tengah hari, dia memutuskan bahwa Anne adalah anak cerdas dan patuh, bersedia bekerja dan cepat mempelajari segala sesuatu…”
Cara Anne bersikap membuat eksistensi dirinya diakui oleh Marilla. Akhirnya, Anne boleh tinggal di rumah itu:
“Kupikir aku akan mengatakannya kepadamu. Matthew dan aku memutuskan untuk memeliharamu Tentu saja, hanya jika kau mau mencoba untuk menjadi gadis kecil yang baik dan menunjukkan rasa terima kasihmu…”
Jika Anne adalah seorang anak laki-laki, keberadaannya langsung akan diakui. Anne adalah anak perempuan yang untuk membuat keberadaan dirinya bisa diterima ia harus melakukan syarat-syarat yang harus dipenuhi.
Dalam buku Kata-Kata yang ditulis oleh Sartre dan dialihbahasakan oleh Jean Couteau (2001) di bagian kata pengantar yang disusun oleh Alex Lanur, terbaca:
“Sartre mengatakan bahwa eksistensi mendahului esensi. Dengan ini, ia mau mengatakan bahwa subjektivitas manusia merupakan sesuatu yang orisinal dan tidak dapat diberlakukan sebagai entre-en-soi (ada-begitu-saja). Jelaslah bahwa tekanan pada eksistensi ikut menempatkan subjektivitas pada posisi utama sebagai sesuatu yang orisinal, khususnya dalam pemahaman tentang manusia.”
Anna dapat menunjukkan esensi (hakikat) dirinya sebagai manusia yang memiliki kedudukan yang setara dengan laki-laki melalui caranya berada atau bereksistensi.
Ada bagian dalam kisah Anne yang bisa membuat pembaca teringat pada Sartre yaitu pada saat Anne marah kepada Mrs. Rachel karena ia mendapatkan perundungan secara fisik. Mrs Rachel mengatakan pada Anne:
“Dia sangat kurus dan biasa-biasa, Marilla. Kemarilah Nak, dan biarkan aku melihatmu. Ya ampun, apakah ada orang yang pernah memperhatikan bintik-bintik di wajah itu? Dan rambut yang semerah wortel! Kemarilah Nak, ayolah.”
Dalam makalah Donny Danardono, ia mengutip buku The Words (Sartre, 2000) tentang kisah Sartre yang berumur 7 tahun harus kehilangan rambut panjangnya karena kakeknya mengajak ke pemangkas rambut. Menurut sang kakek, rambut Sartre terlalu panjang mirip rambut perempuan.
Sayangnya, setelah rambut panjang berombaknya itu terpangkas, tersingkaplah mata juling dan wajah buruk Sartre. Sejak saat itu, Sartre sangat membenci tatapan mata (le regard):
“Baginya eksistensi ditentukan oleh seberapa mampu ia menolak tatapan mata orang lain yang terkesan mau menyingkap dan memastikan eksistensinya sebagai si buruk dan kesepian. Tatapan mata orang lain bagi Sartre, adalah cara orang lain itu menundukkan atau menguasainya.”
Anne juga seperti Sartre, ia benci ditelanjangi oleh tatapan mata orang-orang yang melihat bintik-bintik di wajahnya, rambut merahnya dan tubuh kurusnya.
Dalam novel ini, Anne selalu menunjukkan eksistensi dirinya dengan cara tidak mau diperlakukan sebagai objek yang ditundukkan oleh orang lain.
Anne melakukan perlawanan pada orang-orang yang mengejek melalui tatapan maupun kata-kata. Anne menempatkan diri sebagai subjek yang mempunyai sikap untuk membenci dan melakukan perlawanan. Ia menunjukkan eksistensi diri melalui kesadaraan diri untuk melawan.
Saat teman sekolah Anne yang bernama Gilbert Blythe mengejek rambutnya dengan sebutan wortel, Anne marah dan melawan.Namun, justru ia yang diberi hukuman untuk berdiri di podium depan papa tulis di sepanjang sisa waktu sebelum pulang sekolah.
Anne berdiri di bawah tulisan gurunya yang berbunyi: “Ann Shirley memiliki tabiat yang sangat buruk. Ann Shirley harus belajar untuk mengendalikan amarahnya.”.
Tentunya Anne sangat marah. Gurunya salah menulis ejaan namanya yang artinya melukai eksistensi diri Anne.
Belum lagi tatapan para murid yang membaca tulisan tersebut dan memandang Anne yang dihukum membuat Anne sangat sakit hati. Ia dihukum atas perbuatan jahat teman sekelas pada dirinya dan bukan kebalikannya.
Lalu, Anne memutuskan tindakan untuk mempertegas keberadaan dirinya. Ia tidak mau lagi bersekolah di sana:
“Tidak ada yang bisa mengubah pendirian Anne. Dia sudah meneguhkan hatinya. Dia tidak akan bersekolah di bawah ajaran Mr. Phillips lagi lagi. dia mengatakan hal itu kepada Marilla setibanya di rumah. “Omong kosong,” komentar Marilla. “Sama sekali bukan omong kosong,” sahut Anne, menatap Marilla dengan tatapan sungguh – sungguh dan penuh pembelaan diri…”
Prinsip Anne dalam bersikap membuat eksistensi dirinya menjadi orisinal. Hanya dia yang memiliki. Anne memiliki kebebasan untuk bersikap.
Menurut Alex Lanur: “Ia (Sartre) memahami kebebasan sebagai kesadaran yang menindak. Manusia sendiri merupakan kebebasan. Pada manusialah eksistensi itu mendahului esensi. Sebab, manusia selalu berhadapan dengan kemungkinan untuk mengatakan tidak.” []






