Sastra  

Kembali – Cerpen Zakita Maulida

icon zonasi
cerpen kembali
Ilustrasi

Satu tahun setelah kematian sahabatnya, Thomas didatangi sosok misterius yang membawa kembali luka, tanya, dan ketakutan.

SIANG ini begitu terik. Entah karena pikiranku yang tengah kelabu, panas menyengat itu terasa abu-abu bagiku. Bukan karena hampa, melainkan karena hari ini adalah hari kepergiannya. Namun sepertinya… aku mulai berdamai. Mulai terbiasa dengan kepergiannya.

Udara panas, asap knalpot kendaraan yang beterbangan liar, serta hiruk pikuk jutaan manusia berhasil kuterjang. Aku mengembuskan napas lega ketika kakiku akhirnya melangkah masuk ke toko bunga langgananku.

“Hai!” sapa si pemilik toko seperti biasa.

Aku mengangguk pelan, menjelajahi tiap sudut rak bunga segar. Aku tahu wanita itu terang-terangan memperhatikanku.

“Sudah aku persiapkan sebelum kedatanganmu,” katanya sambil mengangkat tas kertas berisi mawar putih. Ia memang mengenalku terlalu baik.

“Hm, kau menantikanku ternyata?” ujarku jenaka.

Ia mendelik lalu terkekeh. “Bukannya ini hari kepergian sobatmu, Thom?”

Aku menoleh. “Kau mengingatnya….”

Aku mengulum bibir. Dia hanya pemilik toko bunga, tetapi hampir tahu semua tentangku. Mengesankan.

“Tentu saja. Kau meragukanku?” katanya sambil menopang dagu.

Aku terdiam sejenak. “Mau menemaniku?”

“Ke mana?”

“Ke tempat Rudy bersemayam.”

Oh ya, namanya Julie. Ia mengangguk mantap, seolah memang sudah lama menunggu tawaran itu.

Sore yang hangat. Kami berjalan beriringan menuju makam Rudy. Aku menahan isak, Julie meraih tanganku, menguatkan.

“Rud….” Setangkai mawar putih kuletakkan tepat di depan nisannya. Perlahan, pertahananku runtuh.

“Hari ini tepat satu tahun kematianmu, sobat,” gumamku lirih. “Hari-hari setelah kepergianmu terasa berat. Aku mengelola usaha kita kewalahan. Banyak kritik. Usaha kita menurun setelah kau pergi.”

Aku tertawa masam.

“Kuakui, aku bukan apa-apa tanpa campur tanganmu. Kau puas?” Senyum sendu terukir di bibirku.

Julie menepuk bahuku pelan.

“Oh ya, ini Julie, temanku….”

Raut wajah Julie berubah masam. Aku tertawa kecil.

“Jangan kira kami berpacaran, Rud. Dia pemilik toko bunga ini. Kalau bau, salahkan dia saja.”

Julie balas meninjuku pelan.

Setelah beberapa menit berdoa, kami pun pergi.

Langit malam tak berbintang. Sepertinya akan hujan. Aku berjalan menuju apartemen dengan langkah lelah bercampur sendu. Kenangan-kenangan indah membuatku tersenyum kecil. Namun memori saat kematian Rudy justru membuatku ingin segera sampai rumah.

Di tengah perjalanan, seorang kakek tua berjas kusam berdiri sendirian. Di tangannya ada payung kuning.

“Hei, Tuan. Hendak ke mana malam-malam begini?” sapaku.

Tatapannya dingin.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanyaku lagi.

Ia menepis tanganku. “Bukan urusanmu,” ujarnya ketus lalu berlalu cepat—terlalu cepat untuk lelaki setua itu.

Aku mengangkat bahu. Kebetulan, tepat di seberang tempatnya berdiri adalah apartemenku.

Hujan turun deras saat aku menyesap kopi hangat. Setelah mandi, tubuhku terasa lebih ringan. Malam ini seharusnya aku bisa tidur nyenyak.

Namun ketika hendak mengganti handuk dengan piyama, terdengar ketukan di pintu.

Aku mengintip melalui lubang gagang. Tidak ada siapa-siapa.

Kubuka pintu, menoleh ke kanan dan kiri kosong.

Saat hendak menutupnya, seseorang menahannya dari luar.

“Permisi.”

Aku terkejut. Kakek berpayung kuning tadi.

“Ya?” tanyaku gugup. Tubuhnya basah kuyup. Padahal tadi ia membawa payung. Ke mana benda itu?

“Boleh aku menghangatkan diri di sini?” pintanya. “Maafkan perlakuanku tadi. Aku menyesal.”

Aku ragu. Bukan tak ingin membantu, hanya saja ada yang ganjil.

“Ah, kau terlalu lama berpikir,” katanya lalu menerobos masuk.

Aku terhuyung. Astaga, selain aneh, kakek ini menyebalkan.

Ia sudah duduk santai di ruang tengah, bahkan menyeduh teh sendiri.

“Hei! Kau ini siapa?!” Aku menarik kerah bajunya.

“Tenang. Akan kujelaskan setelah kuhabiskan secangkir teh ini.”

Entah mengapa aku menurut.

“Ah, lega….” Ia menyeka mulutnya lalu menatapku lekat-lekat. “Apa kabar, sobat?”

Aku membeku.

Ia tertawa melihat wajah bingungku. “Sayang sekali kau melupakanku….”

Dahiku berkerut.

Tiba-tiba ia tersenyum. Wajah keriput itu semakin mengerut. Aku bergidik.

Lalu—dengan satu tarikan—ia menarik wajahnya seperti melepas topeng.

Aku terbelalak.

Jantungku seperti merosot ke lutut.

“Ha… hai, kawan….” Ia tertawa.

Itu wajah Rudy.

Aku mundur perlahan. Barang-barang jatuh berserakan. Telingaku berdenging.

Siluetnya semakin kabur seiring kesadaranku memudar.

“Thomas!” serunya samar.

Aku tak tahu pasti apakah itu benar-benar Rudy… atau hanya imajinasiku.

Dan setelah itu, semuanya gelap. []

Zakita Maulida M-Gunungpati, XII-3 MA Darul Muqorrobin