Sastra  

Penjahat – Cerpen Zakita Maulida M- Semarang

icon zonasi
penjahat cerpen
Ilustrasi

Penjahat punya alasan lain untuk bertindak. Meski salah, sepertinya baik tidak selamanya menjadi acuan hidup bagi setiap orang

KISAH ini milik pasienku. Tidak pernah sebelumnya dengan kesediaanku sebagai kosnseling, aku terbuai dalam cerita, mengubah caraku memandang dunia dari sisi yang berbeda.

Sejujurnya, ia menolak kisah inspiratif ini dituliskan. Mengapa? Karena baginya cerita ini adalah aib yang harus dikubur dalam-dalam. Tetapi aku memberi pengertian, hingga lambat laun ia mulai mengikhlaskannya dengan syarat namanya harus disamarkan. Aku menyetujuinya. Begini ceritanya…

Aku seorang penulis. Tak bisa dipungkiri, profesi ini tidak bisa menjadi acuan utama aku merajut kehidupan. Meski begitu, suamiku adalah seorang mayor di profesinya sebagai polisi.

Hal ini,bukan jadi masalah besar dalam keluarga. Kami dianugerahi buah hati kecil, anak laki-laki kami yang kemarin telah merayakan ulang tahun kelimanya. Masalah kehidupan keluarga kecil kami bukan mengenai finansial. Melainkan….

Tengah malam.

Aku mengerjapkan mataku berkali-kali. Meniliki jam dinding sembari menatap naskah dalam laptopku secara bergantian. Jam satu kurang.

Suamiku belum juga kembali. Aku membalikkan badanku, menatap ranjang. Si jagoanku tidur pulas. Setidaknya ia tidak terbangun kali ini.

Kuputuskan menyudahi imajinasiku dalam projek naskah ini. Kututup laptopku dan berjalan menuju ranjang menyusul anakku untuk tidur.

Kala selimut kutarik perlahan, suara decitan pintu terdengar dari bantingan pintu begitu keras. Aku mengelus si kecil karena ia tiba-tiba menggeliat.

 “wid…widya”. Suamiku menyeru.(nama ini samaran). Aku mengendap – endap beranjak dari ranjang,menyusulnya.

“Mas…”. Aku memekik kala pangkal hidungku menangkap bau menyengat dari tubuhnya. Wajahnya lusuh dan langkahnya sempoyongan. Lagi – lagi….

“ Ayo kita…”. Suaranya parau,dan ia melantur. Aku menghindar saat ia berusaha memelukku.

“Mas mandi dulu…” Aku memapahnya untuk masuk ke kamar mandi. Dia sangat bau alkohol,aku menahan mual.

Hal ini bukan terjadi satu atau dua kali. Bahkan sebelumanak kami hadir, ia sudah benari menyentuh minuman memabukan itu meski tidak separah sekarang ini.

Siang hari, saat aku mencuci pakaian sekeluarga. Aku mendapati kaos putih suamiku, terdapat bercak merah merona berbentuk bibir dibagian kerah.

Hatiku gundah saat mengucek kaos itu. Kendati demikian, aku tetap menahan untuk tetap diam hingga puncak dimana di suatu sore di hari minggu.

Aku lelah, benar-benar lelah. Kualahan menyelesaikan urusan rumah, anak,bahkan kerjaku sendiri. Semenjak kejadian kejadian kaos putih itu ,aku bahkan tidak peduli kedatangan atau kepergian suamiku. Semuanya terasa begitu berat dari pada sebelum-sebelumnya.

Suamiku melenggang dari kamar kami. Tangannya membawa amplop. Aku menghampirinya.

“itu apa mas?” ia menoleh sekilas.

“yang… aku pinjem perhiasan kamu dulu ya?”katanya.

“lhoh…perhiasan mahar aku mas?”ujarku panik. Ia mengangguk santai.

“tenang pasti aku balikin kok…” Ia mengecup keningku.

“tapi ini buat apa mas?,kok tiba-tiba banget.”sergahku. Raut wajahnya berubah seketika.

“UDAH AKU BILANG BAKAL AKU BALIKIN!”

“Tapi mas, buat apa?”

“BUKAN URUSANMU!”

“Jelas ini urusanku dong, inikan punya aku….” Ia mendorongku hingga aku terhuyung kebelakang. Pertengkaran pun terjadi, bahkan aku tidak peduli anak kami menyaksikannya. Aku benar-benar tidak bisa tinggal diam. Setelah pertengkaran itu terjadi, aku diam-diam menguntitnya dari belakang menggunakan taxi. Setelah 45 dari rumah kami,motornya melipir  kesebuah caffe berkedok dugem tersembunyi di antara ruko-ruko.

Aku menggigit bibir. Marah, sedih, kecewa menyeruak menjadi satu dalam tangisku yang tak berhenti.  Aku memutuskan pulang dari pada harus menciptakan keributan disana. Hiruk piruk sore yang indah ini terasa kelabu. Pikiranku melayang ke udara. Aku memukul dadaku yang sesak berulang kali. Rasanya rumah tangga ini berantakan sudah.

Dia kembali lebih awal kali ini, pukul sepuluh malam. Ia melirikku sekilas dan melenggang menuju kamar mandi. Aku menghela napas kasar. Saat ia keluar dan hendak pergi, aku menghadangnya

“habis dari mana?”. Ia sama sekali tak mengubris, melewatiku begitu saja. Aku menarik rambutku, frustasi.

“uang itu buat kamu ndugemkan?!”.langkahnya tercekat.ia memutar balikan badannya sempurna kearahku. Emosinya memuncak.

“jaga omonganmu ya!”. Ia melotot.

“uang pernikahan kita malah buat kamu seneng-seneng sementara aku disini kualahan nggak ada yang bantu mas”. Aku tersedu sedan, memukul dadanya berkali-kali.

“kamu malah ngelonte sementara kamu udah punya aku sama Sena”.

PLAKK!.

Satu tamparan keras mendarat ke pipi kiriku yang kini memerah.

“MULUTMU!”

“APA?! EMANG KAN?!”.

Pertikaian kali ini bukan sekedar adu mulut. Kami saling memukul bahkan tidak segan-segan meninju. Ia mendorongku hingga taka da satupun celah untukku berlari. Diraihnya gelas di atas meja, bermaksud mendaratkannya ke kepalaku.

Sungguh, benar-benar gila. Tetapi aksi gila itu terhenti kala tubuhnya tiba-tiba menegang, Seketika itu juga mulutnya mengeluarkan cairan darah dalam jumlah banyak. Ia tumbang detik itu juga.

Aku membeku beberapa detik itu juga. Aku membeku beberapa detik. Menutup mulutku yang bersimbah darah. Aku menatap tangan dan wajahku secara bergantian dari pantulan kaca. Aku penjahat sekarang….

“mamah…” anakku ternyata menyaksikan pertikaian kami sejak tadi. Aku menghampirinya, bermaksud memeluk.

“jangan kesini…” ia memeluk dirinya sendiri dan mundur perlahan. Wajahnya pucat menahan isak. Dadanya menderu.

“aku takut”.

“nak…”. Tubuhku melemas. Sekedar bernapas pun tak kuasa.

“maafin mamah nak..” Ucapku patah-patah. Aku jatuh terduduk.

Kini.

Aku adalah penjahat. Seorang yang tidak berdaya, dan berakhir di dalam jeruji besi. Hidupku hancur.

 Saat persidangan, pengacaraku mengajukan banding. Bukti bahwa dokter mendiagnosisku terkena bipolar pasca peristiwa itu terjadi. Dengan mantap, aku menolaknya. Memang sudah sepantasnya, pendosa sepertiku berada diruang sempit dan lembab seperti ini. Aku gila. Percobaan mengakhiri sudah kulakukan lebih dari tiga kali, aku berantakan. Tapi, lagi-lagi Tuhan menyuruhku tetap bertahan hidup di dunia dan takdir keparat ini. Persetan dengan gonggongan orang lain.

Sebenarnya aku hidup ini untuk apa?. Menikah dan mengakhiri hubungan dengan cara yang menurutku, ini adalah suatu keterpaksaan yang aku ambil dengan bijak. Setelah menjadi bagian dari penjahat.

       Aku rasa…

Penjahat punya alasan lain untuk bertindak. Meski salah,sepertinta baik tidak selamanya menjadi acuan hidup bagi setiap orang. Ada kalanya, kita perlu jahat untuk bertahan dari kefanaan hidup.

Penjahat tidak selamanya buruk.

Anakku… tetap hidup dengan bayang- bayang itu. Redamlah, dan timbun dengan kepergianku…

Suatu hari,kau akan tahu apa yang di maksud dari penjahat penyayang ini. Jadilah kuat. Layangkan semua terkaanmu dilangit malam.

Ketahuilah..

Ibu tetap menyayangimu bagaimanapun itu. []

Zakita Maulida M-Gunungpati, XII-3 MA Darul Muqorrobin