Update  

Agustina Wilujeng Dorong Semarang Berpuisi Digelar Rutin, TBRS hingga Kota Lama Jadi Alternatif Lokasi

lukni maulana
Semarang Berpuisi 2026
Budayawan Eko Tunas membawakan puisi dengan gaya stand-up dalam perhelatan Semarang Berpuisi: Dari Kata Menjadi Karya di Balai Kota Semarang, Kamis (5/11/2026).

Agustina Wilujeng mendorong kegiatan Semarang Berpuisi digelar rutin di ruang publik, termasuk TBRS dan Kota Lama, untuk memperluas ruang ekspresi seniman dan sastrawan.

ZONASI.ID (Semarang) – Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti mendorong kegiatan seni dan sastra, khususnya pembacaan puisi, digelar secara rutin di berbagai ruang publik Kota Semarang. Upaya tersebut diharapkan membuka ruang ekspresi lebih luas bagi sastrawan, seniman, pegiat literasi, hingga generasi muda.

Dorongan itu disampaikan Agustina saat menghadiri perhelatan bertajuk “Semarang Berpuisi: Dari Kata Menjadi Karya” di Hall Balai Kota Semarang, Kamis (5/11/2026).

Menurut Agustina, kegiatan sastra tidak harus selalu dikemas dalam acara berskala besar. Pertunjukan sederhana yang diselenggarakan secara berkala justru dapat menjadi ruang pertemuan, pembelajaran, sekaligus apresiasi bagi para pelaku seni.

Ia bahkan mengusulkan sejumlah lokasi strategis dan ikon kebudayaan di Kota Semarang menjadi tempat penyelenggaraan kegiatan serupa, di antaranya Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), kawasan Jalan Ki Narto Sabdo, dan Kota Lama Semarang.

“Tidak hanya di sini. Saya juga tadi minta di TBRS, di Kota Lama mungkin dibuatkan berkala. Tidak usah acara yang wow, tapi kalau ini menjadi sebuah hal yang rutin, saya kira menarik,” kata Agustina.

Ia berharap semakin banyak kegiatan pembacaan puisi dapat memberikan kesempatan kepada masyarakat, terutama anak-anak yang sedang belajar menulis dan membaca puisi, untuk mengembangkan kemampuan serta menampilkan karya mereka.

Agustina menilai puisi memiliki kekuatan untuk menyampaikan gagasan dan merespons berbagai persoalan sosial. Karya sastra yang dibuat berdasarkan tema maupun momentum tertentu juga dinilai mampu menghadirkan pemaknaan yang lebih mendalam.

Karena itu, Pemerintah Kota Semarang berencana mendorong integrasi kegiatan sastra dengan agenda seni, kebudayaan, serta peringatan hari-hari tertentu.

Dalam kesempatan tersebut, Agustina juga mengajak lebih banyak kalangan untuk terlibat dalam kegiatan sastra, termasuk wartawan yang ingin mencoba membacakan puisi. Ia mengaku sempat merasa canggung ketika tampil karena tidak memiliki latar belakang sebagai sastrawan.

Meski demikian, pengalaman tersebut menurutnya menunjukkan bahwa seni dapat dinikmati dan dipelajari oleh siapa saja.

“Dan seni itu menghaluskan budi. Saya yakin itu,” tuturnya.

Perhelatan Semarang Berpuisi sendiri diinisiasi Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang sebagai bentuk apresiasi terhadap seniman dan karya sastra sekaligus mempererat jejaring komunitas sastra, pegiat literasi, serta penikmat seni.

Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang, Nur Huda Iskandar, mengatakan kegiatan tersebut menjadi wadah pertemuan bagi berbagai komunitas dan pelaku seni untuk saling mengenal, berinteraksi, serta mengembangkan ekosistem sastra di Kota Semarang.

Rangkaian acara diawali dengan pertunjukan tari Semarangan oleh Sanggar Seruni Dance Semarang. Setelah itu, panggung diisi penampilan budayawan Eko Tunas dan pembacaan puisi oleh Beno Siang Pamungkas yang membawakan karya berjudul Negeri Abrakadrabra.

Sejumlah penyair dan sastrawan turut tampil membacakan karya mereka, di antaranya Triyanto Triwikromo, Sulis Bambang, Budi Maryono, Timur Sinar Suprabana, Adhitia Armitrianto, Tegsa, Jinawi Rana, Fitriyani, Arif Fitra, Salma Ibrahim, Sandra Palupi, Titis Widjayanti, dan Imaniar.

Penampilan para penyair menghadirkan beragam tema, mulai dari ekspresi personal hingga kritik sosial dan persoalan perkotaan. Salah satunya disampaikan Timur Sinar Suprabana melalui puisi yang menyoroti kondisi Kota Semarang, termasuk persoalan fasilitas bagi pejalan kaki di sejumlah wilayah.

Suasana pertunjukan semakin kuat dengan kehadiran instalasi seni karya Konde yang memadukan material bambu dan kain hitam sebagai bagian dari elemen artistik panggung.

Agustina juga turut memberikan sambutan dengan nuansa sastra melalui pembacaan teks pidato yang dirangkai dalam bentuk bait-bait puitis.

Kegiatan tersebut dihadiri ratusan penikmat seni dan sastra dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, seniman, sastrawan hingga jajaran pejabat Pemerintah Kota Semarang.

Melalui Semarang Berpuisi, Pemerintah Kota Semarang berharap kegiatan sastra tidak berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi berkembang menjadi aktivitas kebudayaan yang berkelanjutan dan dapat diakses masyarakat luas. []