Keramat
Di tengah kabut pagi,
sebuah bisikan lembut menari,
kata-kata yang tak terucap,
membelah keheningan yang keramat.
Pohon tua meranggas,
memeluk rahasia seribu tahun,
akar-akar menjalar dalam diam,
menyimpan kenangan yang abadi.
Batu-batu berbisik,
meluk paduan cinta dan kesedihan,
setiap goresan menuntun jiwa,
menuju tempat suci yang tak terlihat.
Di bawah langit yang bergetar,
jiwa-jiwa menari dalam cahaya,
mencari tanda, mencari arti,
menemukan keramat dalam setiap detak.
Kelebihan waktu
Di sudut ruangan, mesin berdesir,
jarum menari di antara benang halus,
setiap tusukan menyimpan cerita,
melodi yang menggugah jiwa lama.
Kain tenun, warna-warni impian,
bertemu dengan tangan yang terampil,
mengukir harapan dalam setiap jahitan,
jejak kasih yang takkan pudar seiring waktu.
Dalam kesunyian, suara bergetar,
membawa ingatan tentang masa lalu,
ramalan masa depan dalam setiap pola,
sebuah ritual yang tak lekang oleh usia.
Mesin jahit, jantung kehidupan,
menghubungkan rasa dan realita,
di balik setiap kain, hidup tercipta,
sebuah karya seni yang berlanjut abadi.
Bapak
Dalam hening malam, suara langkahmu,
membawa harapan bergetar di udara,
tatapanmu, yang penuh makna,
seperti bintang yang menuntun di gelap.
Keringatmu menetes, seperti hujan di tanah gersang,
setiap titisan menyirami impian kami,
di balik senyummu, ada cerita tak terungkap,
bapak, pelindung yang merangkai cahaya dalam hidup.
Rindu
Rindu terukir dalam bayang malam,
seperti cahaya rembulan mencuri wajahmu,
setiap detik bergetar di udara,
menyusup dalam celah-celah kesunyian.
Kau adalah aroma hujan yang menyejukkan,
membawa riuh daun yang berguguran,
aku mendengar bisikan angin,
seolah mengulang namamu berulang kali.
Dalam lukisan langit senja,
kilau warna mengingatkan akan tawa kita,
setiap jarak adalah jembatan penuh harap,
menuju pelukan yang tak kunjung tiba.
Dan saat embun pagi menyapa,
aku merasakan kehadiranmu, meski jauh,
rindu adalah bagian dari kasih,
yang abadi, takkan pudar oleh waktu.
Sendu
Malam sepi menyelimuti kota,
gelap menyapa lembut,
angin berbisik pada dedaunan,
rahasia yang terpendam dalam sunyi.
Bintang-bintang terjaga,
menyaksikan kesunyian dengan sabar,
satu per satu mereka menghilang,
seolah menghindar dari cahaya bulan.
Langkah kaki terhenti,
suara detak jantung menggema,
seperti orkestra sunyi,
menyusun melodi dalam keheningan.
Dalam kegelapan, aku merenung,
mencari jejak yang hilang,
di antara bayang-bayang,
aku menemukan diriku, sendiri.
Fierda Soraya, lahir pada 6 Juli 1984, merupakan warga Desa Rejosari, RT 01 RW 02, Brangsong, Kendal. Ia dapat dihubungi melalui email di fierdasofiyan@gmail.com.





