IPLM Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, masih rendah dengan skor 20,1. Minimnya koleksi buku bacaan dan keterbatasan tenaga pengelola perpustakaan, terutama di sekolah dasar (SD), menjadi kendala peningkatan literasi masyarakat, meski tingkat kegemaran membaca warga Kendal disebut tertinggi di Jawa Tengah.
Zonasi.id (Kendal)-Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, masih tercatat rendah dengan skor 20,1. Keterbatasan sumber daya manusia (SDM) pengelola perpustakaan dan minimnya koleksi buku bacaan di sekolah dasar (SD) menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi capaian tersebut.
Pustakawan Ahli Madya Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah (Dinarpus) Kabupaten Kendal, Asriningrum, mengatakan, kondisi perpustakaan di tingkat sekolah dan desa masih menjadi tantangan dalam meningkatkan pembangunan literasi masyarakat.
Hal itu disampaikan Asriningrum saat menjadi narasumber dalam kegiatan sosialisasi IPLM kepada guru dan kepala sekolah di Aula Kecamatan Kangkung, Rabu (14/10/2026).
Menurut Asriningrum, penilaian IPLM mencakup sejumlah indikator, mulai dari pemanfaatan koleksi bacaan, ketersediaan SDM, jangkauan layanan, hingga kualitas pengelolaan perpustakaan.
Penilaian tersebut meliputi perpustakaan SD dan sekolah menengah pertama (SMP), Taman Bacaan Masyarakat (TBM), perpustakaan desa, perpustakaan khusus organisasi perangkat daerah (OPD), hingga perpustakaan madrasah.
“Tujuan IPLM adalah untuk melihat seberapa jauh pembangunan literasi telah berjalan di masyarakat,” kata Asriningrum.
IPLM rendah, tingkat kegemaran membaca tertinggi
Rendahnya skor IPLM Kendal berbanding terbalik dengan Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) masyarakat yang disebut berada di peringkat pertama se-Jawa Tengah.
Asriningrum menjelaskan, perbedaan tersebut terjadi karena IPLM dan TKM memiliki indikator penilaian yang berbeda.
Selain itu, kondisi fasilitas perpustakaan daerah dinilai belum bisa disamakan dengan perpustakaan di tingkat sekolah maupun desa.
“Kalau di Perpusda sarana dan fasilitasnya sudah lengkap. Namun, di sekolah-sekolah, khususnya SD, memang masih menghadapi kendala pada ketersediaan SDM pengelola dan koleksi buku bacaan,” jelasnya.
Dia mengatakan, sebagian besar perpustakaan SD masih didominasi buku paket pelajaran. Sementara itu, koleksi buku bacaan umum untuk mendukung pengembangan wawasan dan minat baca siswa masih terbatas.
Kondisi tersebut membuat pemanfaatan perpustakaan sekolah sebagai sarana pengembangan literasi belum optimal.
Asriningrum menyebutkan, dari sekian banyak perpustakaan di Kendal, baru sekitar 64 perpustakaan yang merupakan gabungan dari tingkat SD, SMP, dan desa tercatat memenuhi kriteria sesuai standar.
Dinarpus dorong pengembangan perpustakaan
Untuk meningkatkan capaian IPLM, Dinarpus Kendal terus melakukan pembinaan dan sosialisasi kepada pengelola perpustakaan, baik secara langsung maupun daring.
Khusus perpustakaan desa yang telah menerima bantuan dan bimbingan teknis dari Perpustakaan Nasional (Perpusnas), pengelola didorong untuk mengembangkan layanan secara mandiri.
Upaya tersebut dilakukan melalui kolaborasi dengan berbagai unsur masyarakat, seperti PKK, Karang Taruna, dan pihak kecamatan.
“Bagi perpustakaan desa yang menerima bantuan dan Bimbingan Teknis (Bimtek) dari Perpusnas, kami dorong agar bisa mandiri melalui kolaborasi bersama elemen masyarakat lain, seperti PKK, Karang Taruna, hingga pihak kecamatan,” terangnya.
Selain mengembangkan perpustakaan fisik, Dinarpus Kendal menyediakan layanan buku digital melalui aplikasi iKendal. Layanan ini diharapkan dapat memudahkan masyarakat yang tinggal jauh dari pusat kota untuk mengakses bahan bacaan.
Meski demikian, Asriningrum mengakui koleksi buku digital yang tersedia masih terbatas dibandingkan koleksi fisik di Perpustakaan Daerah Kendal.
Dia berharap, pemerintah dan berbagai pihak memberikan perhatian lebih terhadap pengembangan perpustakaan, terutama dalam pemenuhan kebutuhan SDM pengelola dan penambahan koleksi buku bacaan di sekolah maupun desa.
“Harapan kami perpustakaan bisa lebih diperhatikan oleh semua pihak, karena keberadaannya sudah menjadi kebutuhan mendasar bagi pembangunan literasi masyarakat,” pungkasnya.











