Update  

Porprov Jateng XVII Resmi Ditutup di Kendal, Semarang Juara Umum, Dua Atlet Meninggal Jadi Catatan Duka

Kandungan Al-A’raf Ayat 179
Gemerlap pesta olahraga Porprov XVII Jawa Tengah 2026 resmi berakhir di Kabupaten Kendal. Kota Semarang tampil sebagai juara umum dengan raihan 177 medali emas, sementara Kendal mencatat kebanggaan tersendiri sebagai tuan rumah. Namun, di balik keberhasilan tersebut, meninggalnya dua atlet saat mengikuti pertandingan menyisakan duka sekaligus menjadi pengingat pentingnya keselamatan dalam dunia olahraga.


Zonasi.id (Kendal )-– Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVII Jawa Tengah 2026 resmi berakhir di Kabupaten Kendal. Di balik sukses penyelenggaraan dan dominasi Kota Semarang sebagai juara umum, pesta olahraga empat tahunan tersebut menyisakan duka atas meninggalnya dua atlet saat mengikuti pertandingan.
Penutupan Porprov yang berlangsung di Stadion Madya Kebondalem, Kabupaten Kendal, Jumat (30/10/2026) malam, sekaligus menjadi momentum evaluasi penyelenggaraan dan persiapan atlet Jawa Tengah menghadapi Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028.
Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari mengaku bangga daerahnya dipercaya menjadi salah satu tuan rumah pertandingan sekaligus lokasi upacara penutupan Porprov XVII.
Bupati yang akrab disapa Tika itu menyampaikan apresiasi kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah, KONI Jawa Tengah, para kepala daerah, serta seluruh pihak yang telah bersinergi menyukseskan ajang tersebut.
“Suatu kebanggaan dan kehormatan bagi kami, Pemerintah Kabupaten Kendal, dipercaya menjadi salah satu tuan rumah beberapa cabang olahraga sekaligus tempat pelaksanaan closing ceremony Porprov XVII Jawa Tengah 2026,” ungkapnya.
Tika juga memberikan penghargaan kepada seluruh atlet, pelatih, ofisial, dan kontingen kabupaten/kota yang telah berjuang menunjukkan kemampuan terbaik dengan menjunjung tinggi sportivitas.
Menurutnya, Porprov bukan sekadar agenda rutin olahraga empat tahunan, tetapi juga menjadi ajang silaturahmi antardaerah sekaligus wadah menjaring atlet potensial untuk mengharumkan nama Jawa Tengah di tingkat nasional maupun internasional.
Dia berharap prestasi yang diraih para atlet menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kemampuan melalui latihan dan persiapan yang lebih matang.
“Pencapaian dalam Porprov ini diharapkan menjadi motivasi seluruh atlet untuk terus berlatih dan mempersiapkan diri menghadapi Porprov berikutnya maupun ajang yang lebih tinggi,” tegasnya.
Kota Semarang Juara Umum
Ketua Umum Panitia Besar (PB) Porprov XVII Jawa Tengah, Sujarwanto Dwiatmoko, menyampaikan bahwa kompetisi tersebut mempertandingkan 58 cabang olahraga dan delapan cabang olahraga ekshibisi dengan total 810 nomor pertandingan.
Ajang ini melibatkan 7.999 atlet, 1.910 ofisial, serta 3.571 perangkat pertandingan.
Berdasarkan klasemen akhir, Kota Semarang keluar sebagai juara umum dengan raihan 177 medali emas, 121 perak, dan 112 perunggu atau total 410 medali.
Kota Surakarta menempati posisi kedua dengan 79 emas dan total 221 medali. Posisi ketiga ditempati Kota Salatiga dengan 41 emas dan total 144 medali.
Kabupaten Grobogan berada di peringkat keempat dengan 38 emas dan total 150 medali, disusul Kabupaten Banyumas di posisi kelima dengan 35 emas dan total 156 medali.
Adapun Kabupaten Kendal sebagai tuan rumah berada di peringkat ke-12 dengan perolehan 24 emas, 38 perak, dan 64 perunggu atau total 126 medali.
Sujarwanto mengapresiasi seluruh kontingen yang telah berpartisipasi. Menurutnya, keberhasilan Porprov tidak hanya diukur dari dominasi daerah tertentu, tetapi juga dari keterlibatan seluruh kabupaten/kota dalam menyumbangkan prestasi.
Dua Atlet Meninggal, Jadi Evaluasi Keselamatan
Di balik persaingan memperebutkan medali, Porprov XVII juga diwarnai kabar duka atas meninggalnya dua atlet.
Sujarwanto menyampaikan belasungkawa kepada keluarga Syabilaris Pia Putri Graharja, atlet selam asal Kabupaten Jepara, yang meninggal dunia pada 25 Oktober 2026 setelah mengalami musibah saat bertanding.
Sebelum meninggal, Syabilaris telah menyumbangkan dua medali emas dari nomor 100 meter dan 200 meter bifin putri.
Atlet kedua adalah Ayudia Fitana Tijanindita, atlet asal Kota Semarang, yang meninggal dunia pada 28 Oktober 2026 saat menjalani perawatan setelah mengikuti pertandingan.
Keduanya dikenang sebagai patriot olahraga yang telah berjuang membawa nama daerah masing-masing.
Peristiwa tersebut menjadi pengingat pentingnya keselamatan atlet dalam setiap penyelenggaraan kompetisi. Evaluasi terhadap standar pertandingan, kesiapan medis, dan penanganan atlet menjadi bagian yang perlu mendapat perhatian.
Wakil Gubernur Jawa Tengah KH Taj Yasin Maimoen mengatakan, berbagai dinamika dan protes selama pertandingan merupakan hal yang dapat terjadi dalam kompetisi. Namun, seluruh persoalan harus diselesaikan melalui mekanisme yang baik dengan mengedepankan sportivitas dan keterbukaan.
“Yang paling utama adalah sportivitas dan keterbukaan dalam penyelenggaraan Porprov. Semua masukan menjadi bahan evaluasi bersama, khususnya untuk pelaksanaan Porprov ke-18 tahun 2030,” tegasnya.
Taj Yasin juga meminta KONI Jawa Tengah mulai mempersiapkan atlet potensial untuk menghadapi PON 2028 di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Menurutnya, pembinaan harus dilakukan sejak dini, termasuk memperkuat kemampuan individu, kekompakan, dan kerja sama antaratlet.
“Kita perlu mempersiapkan para delegasi dari Jawa Tengah nanti supaya chemistry terbangun, semangat semakin kuat, sehingga kita bisa maksimal pada PON mendatang,” ujarnya.
Dia berharap Porprov tidak hanya melahirkan prestasi olahraga, tetapi juga mempererat persaudaraan antaratlet dan daerah.
Taj Yasin mengucapkan selamat kepada para peraih medali emas, perak, dan perunggu. Dia juga mengajak masyarakat mendoakan dua atlet yang meninggal dunia serta atlet yang masih menjalani perawatan agar segera pulih.