Kolom  

Ungaran, Ketika Panas Bumi Menghidupi Otak AI

icon zonasi
panas bumi ungaran ai Tjecep
Tjetjep Witjahjono

Merancang pusat data kecerdasan buatan yang tidak rakus listrik fosil dan tidak menyedot air warga

Oleh: Tjetjep Witjahjono
(Kopi Pak Dhe Lab’s)

Setiap kali kita bertanya pada chatbot, ada ribuan chip yang bekerja keras di sebuah gedung entah di mana. Chip itu butuh listrik besar, dan panasnya harus dibuang. Pertanyaannya sederhana: kalau Indonesia ingin punya “pabrik AI” sendiri, di mana tempat yang paling masuk akal? Salah satu jawabannya ternyata ada di lereng Gunung Ungaran, Kabupaten Semarang.

AI itu haus: listrik dan air

Satu rak server AI generasi terbaru, NVIDIA GB200 NVL72, berisi 72 GPU dan menyedot sekitar 120 kW. Itu setara listrik puluhan rumah tangga, hanya untuk satu lemari setinggi orang dewasa. Pusat data AI skala besar bisa berisi ratusan rak seperti itu.

Masalah kedua jarang dibicarakan: air. Pusat data konvensional mendinginkan servernya dengan menara pendingin yang menguapkan air. Pusat data 10 MW saja bisa menghabiskan 40–50 juta galon air segar per tahun. Kalau dibangun di daerah resapan, warga sekitar yang menanggung akibatnya.

Jadi tantangannya ganda: listrik harus bersih dan stabil 24 jam, dan pendinginan sebisa mungkin tidak memakai air.

Ungaran punya dua modal sekaligus

Modal pertama adalah panas bumi. Wilayah Kerja Panas Bumi Gunung Ungaran seluas 29.800 hektare sudah ditetapkan pemerintah sejak 2007. Dalam RUPTL 2025–2034, PLTP Ungaran direncanakan berkapasitas 55 MW, dengan pengeboran eksplorasi sekitar 2028–2029 dan target operasi komersial 2031. Panas bumi adalah listrik beban dasar: menyala siang-malam, tidak tergantung matahari atau angin.

Modal kedua adalah udara sejuk pegunungan. Ini kelihatannya sepele, padahal sangat menentukan. Udara yang sejuk bisa langsung dipakai membuang panas server tanpa menguapkan air.

Idenya: bangun pusat data AI langsung di dekat mulut sumur (wellhead co-location). Listrik tidak perlu menempuh jalan jauh lewat jaringan, dan panas sisa pembangkit pun bisa ikut dimanfaatkan.

Rancangannya: 336 rak, nol menara pendingin

Dalam rancangan yang kami susun di Kopi Pak Dhe Lab’s, PLTP 55 MW memakai kondensor berpendingin udara, bukan menara pendingin basah. Setelah dikurangi kebutuhan internal pembangkit, tersisa daya bersih sekitar 50 MW.

Daya itu menghidupi 336 rak GB200 NVL72 dengan total beban komputasi 40,32 MW, dibagi ke empat ruang server. Infrastrukturnya juga disiapkan untuk generasi berikutnya, GB300.

Kuncinya ada di cara membuang panas. Kira-kira 85% panas server diambil langsung dari chip memakai pelat pendingin berisi cairan (direct-to-chip). Cairan ini cukup “hangat”, sekitar 32°C, lalu didinginkan oleh dry cooler di atap — semacam radiator raksasa yang ditiup udara pegunungan. Tidak ada air yang menguap.

Sisa 15% panas masih dibuang lewat udara ruangan. Untuk itu dipakai absorption chiller yang digerakkan oleh air panas sisa (brine) dari PLTP, bukan oleh kompresor listrik. Analoginya seperti kulkas yang bekerja dengan api, bukan dengan listrik. Panas yang tadinya terbuang ke perut bumi kini dipakai untuk mendinginkan.

Angka yang berbicara

Hasil hitungannya cukup mencolok. Efisiensi energi (PUE) desainnya 1,088, artinya hampir semua listrik benar-benar dipakai untuk komputasi, bukan untuk pendingin. Sebagai pembanding, pusat data pendingin cair biasa berada di kisaran 1,10–1,25.

IndikatorRancangan Ungaran
Total kebutuhan listrik pusat data43,86 MW
Surplus listrik hijau ke jaringan PLN 150 kV6,19 MW
PUE (efisiensi energi)1,088
WUE operasional (air untuk pendinginan)0 liter/kWh
Kebutuhan air total (perawatan + 60 personel)3,25 m³/hari
Surplus air hujan diresapkan ke tanah± 24.300 m³/tahun

Soal air, ceritanya malah terbalik. Seluruh sirkuit pendingin tertutup rapat, jadi penguapannya nol. Kebutuhan air hanya untuk penggantian kecil dan keperluan karyawan. Dengan curah hujan Ungaran 2.300–2.500 mm per tahun, atap gedung seluas 12.000 m² bisa memanen air hujan jauh melebihi kebutuhan. Kelebihannya dikembalikan ke tanah lewat sumur resapan. Pusat data ini bukan sekadar hemat air, tapi water-positive.

Sebagai pengaman, pusat data tetap tersambung dua arah ke jaringan PLN dan dilengkapi baterai LFP 25 MW/50 MWh. Baterai ini meredam lonjakan daya mendadak saat pelatihan AI, supaya turbin PLTP tidak “kaget”.

Tidak semudah di atas kertas

Tentu ada catatan yang harus jujur disampaikan. Pertama, cadangan panas bumi Ungaran belum dibor secara penuh. Ada dua skenario reservoir, dan rancangan ini sengaja dihitung pada skenario yang konservatif. Kepastian baru datang setelah eksplorasi.

Kedua, Ungaran punya Candi Gedong Songo dan hutan lindung. Karena itu, sumur ditempatkan di luar zona penyangga dengan pengeboran berarah (directional drilling), dan gedung pusat data dipisah dari area sumur.

Ketiga, fluida panas bumi mengandung gas hidrogen sulfida (H₂S) yang bisa merusak sirkuit halus di server. Gedung dirancang bertekanan udara positif dengan filter kimia khusus. Ini detail kecil yang, kalau terlewat, bisa membuat server senilai triliunan rupiah cepat rusak.

Keempat, waktu. PLTP baru ditargetkan beroperasi 2031. Jalan tengahnya, separuh pusat data (168 rak) bisa jalan lebih dulu sekitar 2029–2030 dengan listrik PLN bersertifikat energi terbarukan, lalu beralih penuh ke panas bumi begitu PLTP siap.

Kedaulatan komputasi dimulai dari gunung

Selama ini kita terbiasa membayangkan pusat data di kawasan industri dekat kota. Ungaran menawarkan cara pandang lain: bawa komputasi ke sumber energinya, dan rancang sejak awal agar ramah air dan ramah warga.

Indonesia punya potensi panas bumi termasuk yang terbesar di dunia. Jika satu gunung bisa menghidupi “otak AI” sekaligus menyumbang listrik dan air bagi sekitarnya, gunung-gunung lain bisa menyusul. Kedaulatan digital tidak cukup dengan memakai AI buatan orang lain. Kita perlu juga punya pabriknya, dan pabrik itu sebaiknya hijau. []