Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengikuti Ngaji Bandongan Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim di Wisma Perdamaian, Semarang, sebagai pembuka rangkaian peringatan Hari Santri Nasional 2026.
ZONASI.ID (Semarang) – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menggelar rangkaian kegiatan peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 selama sepekan, mulai 15 hingga 22 Oktober 2026.
Agenda tersebut meliputi pengajian kitab kuning, kegiatan sosial di pondok pesantren, layanan kesehatan gratis, gerakan literasi Al Quran, hingga Jateng Bersholawat.
Rangkaian kegiatan diawali dengan Ngaji Bandongan Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim bersama KH Ubaidullah Shodaqoh di Wisma Perdamaian, Semarang, Senin (19/10/2026).
Kegiatan tersebut diikuti aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemprov Jateng, akademisi, serta sejumlah organisasi masyarakat.
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengatakan, tradisi Ngaji Bandongan tidak hanya diperuntukkan bagi santri, tetapi juga terbuka bagi masyarakat umum untuk memperdalam ilmu agama dan membangun akhlak.
“Ini yang memang hari ini kita butuh, pelajaran-pelajaran yang sifatnya seperti ini,” kata Taj Yasin.
Menurut pria yang akrab disapa Gus Yasin itu, kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim karya KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, masih relevan untuk dipelajari di tengah berbagai persoalan sosial. Kitab tersebut memuat nilai-nilai adab dan akhlak, termasuk dalam hubungan antara murid dan guru serta kehidupan bermasyarakat.
Ia menekankan, pembelajaran agama tidak cukup hanya dilakukan sekali. Tradisi keilmuan pesantren perlu dijaga keberlangsungannya agar materi yang dipelajari dapat dipahami secara mendalam dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim yang berjumlah 110 halaman tidak mungkin diselesaikan pada hari ini saja. Maka memang ilmu itu harus berkesinambungan,” ujarnya.
Gus Yasin berharap kajian kitab tersebut dapat dilanjutkan di masjid milik Pemprov Jawa Tengah dengan melibatkan takmir masjid dan pihak terkait.
Ia juga mengajak masyarakat untuk menghormati ulama, menghargai ilmu pengetahuan, serta menjadikan nilai-nilai keagamaan sebagai landasan dalam kehidupan dan pelayanan publik.
“Ini bagian dari tarbiyah. Kalau belajar itu hanya pengetahuan saja, tetapi kalau yang bernama tarbiyah itu sampai ke hati,” tuturnya.
Pemprov Jateng mengusung tema Hari Santri Nasional 2026, yakni “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Melalui rangkaian kegiatan tersebut, pemerintah daerah berharap nilai-nilai pesantren dapat memperkuat karakter generasi muda sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat dalam pembangunan.
Sejumlah agenda juga dijadwalkan berlangsung di Kabupaten Pemalang. Kegiatan tersebut antara lain resik-resik pondok pesantren melalui tradisi ro’an atau kerja bakti, serta program Santri dan Pesantren Sehat yang mencakup Cek Kesehatan Gratis, layanan Dokter Spesialis Keliling (Speling), dan edukasi pola hidup bersih dan sehat.
Selain kegiatan sosial dan kesehatan, peringatan Hari Santri di Jawa Tengah turut diisi gerakan literasi dan budaya membaca Al Quran selama sepekan. Program ini melibatkan peserta didik di satuan pendidikan formal, mulai tingkat SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/SMK/MA.
Puncak peringatan Hari Santri Nasional 2026 tingkat Jawa Tengah dijadwalkan berlangsung di Kota Tegal pada 22 Oktober 2026. Agenda tersebut meliputi sarasehan santri, Jateng Bersholawat, dan upacara peringatan Hari Santri Nasional.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Pemprov Jateng mendorong peringatan Hari Santri tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat tradisi keilmuan, kepedulian sosial, kesehatan pesantren, serta pembentukan karakter generasi muda. []











