Update  

Halaqoh Hari Santri di Kendal, Kiai Reza Tegaskan Cinta Tanah Air Bagian dari Syariat Islam

Oasis Minan Na'im
Cinta tanah air bukan sekadar semangat kebangsaan, melainkan nilai yang telah dicontohkan Rasulullah SAW dan menjadi bagian dari perjuangan umat Islam di Indonesia. Pesan itu ditegaskan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mahrusiyah, Lirboyo, Kediri, KH Reza Ahmad Zahid, dalam Halaqoh Pondok Pesantren untuk memperingati Hari Santri Nasional 2026 di Pendopo Tumenggung Bahurekso, Kabupaten Kendal.


Zonasi.id (Kendal)-Cinta tanah air bukan sekadar semangat kebangsaan, melainkan nilai yang telah dicontohkan Rasulullah SAW dan menjadi bagian dari perjuangan umat Islam di Indonesia.
Pesan tersebut ditegaskan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mahrusiyah, Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, KH Reza Ahmad Zahid, dalam Halaqoh Pondok Pesantren untuk memperingati Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di Pendopo Tumenggung Bahurekso, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Selasa (20/10/2026).
Di hadapan para peserta halaqoh, Reza mengingatkan bahwa kecintaan terhadap tanah air tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Sebaliknya, semangat tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga persatuan, mempertahankan kemerdekaan, dan membangun kehidupan berbangsa.
“Jadi kita bisa sepakat bahwa yang namanya hubbul wathan itu bukan suatu hal yang baru. Sejak dulu, ini menjadi bagian daripada syariat agama Islam,” ujar Reza.
Halaqoh yang mengusung tema “Revitalisasi Nilai Resolusi Jihad dalam Konteks Bela Negara Modern” tersebut menjadi momentum untuk mengingat kembali peran ulama dan santri dalam perjuangan kemerdekaan sekaligus memperkuat kontribusi pesantren menghadapi tantangan zaman.

Resolusi Jihad dan Perjuangan Santri

Reza menjelaskan, semangat cinta tanah air dapat ditelusuri dari keteladanan Rasulullah SAW hingga perjuangan ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Ia mencontohkan kecintaan Rasulullah terhadap Makkah, tanah kelahirannya, ketika harus berhijrah ke Madinah. Menurut Reza, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kecintaan terhadap tanah kelahiran merupakan bagian dari perjalanan hidup Rasulullah.
Nilai itu kemudian menemukan relevansinya dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, terutama melalui Resolusi Jihad yang dicetuskan KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945.
Seruan tersebut menjadi salah satu momentum penting yang mendorong umat Islam, khususnya kalangan santri, untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman kembalinya penjajahan.
Reza menyebut KH Wahab Hasbullah dan KH Bisri Syansuri sebagai tokoh ulama yang turut berperan dalam perjuangan tersebut. Para santri dari berbagai pesantren, termasuk Pesantren Lirboyo di Kediri, juga ikut bergerak mempertahankan kemerdekaan.
“Memperjuangkan kemerdekaan, semuanya itu dengan satu prinsip bersama, cinta tanah air adalah bagian daripada iman,” katanya.
Menurut Reza, semangat perjuangan tersebut tidak boleh berhenti sebagai catatan sejarah atau sekadar diperingati setiap Hari Santri. Nilai-nilai di dalamnya perlu diterjemahkan ke dalam tindakan nyata sesuai tantangan zaman.
Jika dahulu perjuangan dilakukan untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan, kini semangat bela negara dapat diwujudkan melalui kontribusi positif di berbagai bidang, menjaga persatuan, serta menjalankan tanggung jawab sebagai warga negara.

Menjadi Kiai Tetap Harus Berjiwa Santri

Dalam kesempatan itu, Reza juga mengingatkan pentingnya menjaga identitas kesantrian. Menurut dia, penetapan Hari Santri memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar penamaan sebuah peringatan nasional.
Ia menjelaskan, sejumlah tokoh yang terlibat dalam perjuangan kemerdekaan telah menyandang status kiai. Namun, penggunaan nama Hari Santri mengandung pesan bahwa kedudukan dan tingginya ilmu tidak seharusnya membuat seseorang melupakan asal-usul pendidikan serta tradisi keilmuannya.
“Ini menunjukkan bahwasanya sebagai seorang kiai, di mana pun dan kapan pun dia berada, dia pasti adalah seorang santri,” ujarnya.
Reza menilai, jiwa santri tidak hanya ditentukan oleh lamanya seseorang menempuh pendidikan di pesantren. Sikap rendah hati, menghormati guru, menjaga adab, dan mengamalkan ilmu merupakan bagian penting dari identitas tersebut.
Nilai-nilai itu, lanjutnya, perlu diwariskan kepada generasi muda agar santri tidak hanya kuat dalam pemahaman agama, tetapi juga mampu mengambil peran dalam kehidupan sosial dan kebangsaan.

Bupati Kendal Dorong Pesantren Berkontribusi

Sementara itu, Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari mengatakan, peringatan Hari Santri Nasional bukan sekadar agenda tahunan, melainkan kesempatan untuk memperkuat sinergi antara pemerintah daerah dan pondok pesantren.
Pemerintah Kabupaten Kendal, kata dia, berkomitmen mendukung pengembangan pesantren, terutama dalam pendidikan karakter, kewirausahaan santri, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
“Pemerintah Kabupaten Kendal berkomitmen untuk terus bersinergi dan mendukung program-program pengembangan pondok pesantren, seperti penguatan santripreneur dan pendidikan karakter pemuda,” ujar Dyah.
Menurut dia, pesantren saat ini tidak hanya berperan dalam pendidikan keagamaan, tetapi juga terus mengembangkan berbagai program, mulai dari pendidikan diniyah, Ma’had Aly, perguruan tinggi, hingga pelatihan keterampilan dan kewirausahaan.
Pengembangan tersebut diharapkan dapat memperluas kemampuan santri sehingga mereka mampu berkontribusi dalam berbagai sektor kehidupan, termasuk pembangunan daerah.
Dyah juga mengajak para ulama, pengasuh pesantren, dan santri untuk terus memperkuat pendidikan agama, menanamkan akidah yang benar, serta membimbing masyarakat agar tidak terpengaruh paham yang menyimpang.
“Dengan sinergi yang kuat antara ulama, umara, dan seluruh elemen masyarakat, kita dapat bersama menjaga kerukunan, memperkokoh persatuan, dan menciptakan Kabupaten Kendal yang aman, damai, dan sejahtera,” katanya.
Peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Kabupaten Kendal mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”.
Melalui kegiatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Kendal berharap pesantren dan santri terus menjadi bagian penting dalam menjaga persatuan, merawat nilai kebangsaan, serta menyiapkan generasi yang berilmu, berkarakter, dan mampu berkontribusi bagi kemajuan Indonesia.