Paus Fransiskus telah pergi, tetapi suaranya untuk bumi yang terluka tetap bergema di hati umat manusia.
ZONASI.ID — Paus Fransiskus, pemimpin Gereja Katolik Roma, meninggal dunia dalam usia 88 tahun di kediamannya di Casa Santa Marta, Vatikan, pada Senin (21/04/2025) pukul 07.35 waktu setempat.
Kabar duka ini disampaikan secara resmi oleh Kardinal Kevin Joseph Farrell dalam pernyataan yang menggambarkan “kesedihan yang mendalam” atas kepergian tokoh penting dalam sejarah Gereja dan dunia.
Kepergian Paus Fransiskus terjadi hanya sehari setelah ia menyapa ribuan umat Katolik di Lapangan Santo Petrus dalam kesempatan menyampaikan ucapan “Selamat Paskah”.
Meskipun usianya telah lanjut dan kesehatannya menurun dalam beberapa tahun terakhir, beliau tetap aktif menyampaikan pesan-pesan moral dan spiritual bagi dunia.
“Seluruh hidupnya didedikasikan untuk melayani Tuhan dan Gereja-Nya,” ujar Kardinal Farrell.
Namun di luar pelayanannya terhadap Gereja, Paus Fransiskus juga dikenal sebagai tokoh moral dunia yang lantang bersuara tentang isu-isu kemanusiaan, keadilan sosial, dan terutama perlindungan terhadap lingkungan hidup.
Warisan Pemikiran Ekologis: Laudato Si’
Salah satu warisan intelektual dan spiritual terpenting dari Paus Fransiskus adalah ensiklik berjudul Laudato Si’: Tentang Perawatan Rumah Kita Bersama, yang diterbitkan pada 24 Mei 2015.
Ensiklik ini merupakan seruan profetik tentang krisis ekologi yang tengah melanda umat manusia. Ia tidak hanya berbicara kepada umat Katolik, melainkan ditujukan kepada seluruh manusia di planet ini—tanpa memandang agama dan bangsa.
Dalam pengantar Laudato Si’, Paus Fransiskus mengangkat suara alam yang “menjerit” akibat kerusakan yang dilakukan oleh manusia:
“Saudari ini sekarang menjerit karena segala kerusakan yang telah kita timpakan padanya, karena tanpa tanggung jawab kita menggunakan dan menyalahgunakan kekayaan yang telah diletakkan Allah di dalamnya.”
Baginya, bumi adalah saudari dan ibu yang memelihara kita, namun kini sedang sakit parah karena keserakahan manusia modern yang melihat alam hanya sebagai objek eksploitasi ekonomi.
Dalam Laudato Si’, Paus Fransiskus memperkenalkan konsep ekologi integral, yakni pendekatan yang menyatukan antara lingkungan, ekonomi, sosial, budaya, dan kehidupan sehari-hari.
Ia tidak hanya mengkritik polusi, limbah, dan perubahan iklim, tetapi juga menggarisbawahi bahwa krisis ini berakar pada krisis spiritual dan moral manusia modern.
“Iklim merupakan salah satu sisi kesejahteraan umum, milik semua dan untuk semua,” tulisnya.
Ia menegaskan bahwa pemanasan global yang terus meningkat, naiknya permukaan laut, dan cuaca ekstrem bukanlah kebetulan belaka.
Tindakan manusia yang tanpa kontrol, termasuk ketergantungan pada bahan bakar fosil dan eksploitasi hutan tropis, adalah penyebab utama.
Namun Laudato Si’ tidak berhenti pada kritik. Ia mengajak seluruh umat manusia untuk bertobat secara ekologis, mengubah gaya hidup dari konsumtif menjadi sederhana, dari keserakahan menjadi kemurahan hati, dari pemborosan menjadi kepedulian.
Menurutnya, solusi terhadap krisis ini tidak cukup hanya dengan teknologi, tetapi harus diawali dari transformasi hati.
Kutipan Sufi dalam Dokumen Katolik
Yang menarik dan unik, Laudato Si’ juga menampilkan suara dari luar tradisi Katolik. Paus Fransiskus mengutip penyair sufi Mesir, Syekh Ali Al-Khawas, dalam sebuah kutipan indah yang menekankan kehadiran Tuhan dalam segala sesuatu:
“Ada makna mistis dalam sehelai daun, dalam sebuah lintasan alam, dalam embun, dalam wajah orang miskin… Orang yang sudah diinisiasi mulai menangkap apa yang dikatakan angin yang bertiup, pohon yang bergoyang, air yang mengalir, burung yang bernyanyi…”
Dengan mengangkat pemikiran sufi Islam dalam dokumen Katolik, Paus Fransiskus menunjukkan bahwa cinta terhadap ciptaan adalah nilai universal lintas agama.
Ia menyampaikan pesan bahwa pengalaman spiritual tidak terbatas dalam dinding gereja, melainkan juga ditemukan dalam keheningan alam, dalam kesederhanaan hidup, dan dalam penderitaan orang miskin.
Dalam kehidupan sehari-hari, pesan Laudato Si’ sangat relevan. Ia mengajak manusia untuk: Mengurangi limbah dan polusi, menghemat air dan energi, menghormati kearifan lokal dan budaya ramah lingkungan, mendukung kebijakan publik yang adil bagi lingkungan dan melindungi keanekaragaman hayati
Laudato Si’ mengubah cara kita memandang bumi: bukan sekadar sumber daya ekonomi, tetapi rumah yang harus dijaga bersama. Ia adalah dokumen yang merangkul sains, agama, dan etika dalam satu napas.
Kini, Paus Fransiskus telah pergi. Namun warisan pemikirannya tetap hidup, terutama dalam Laudato Si’, yang telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk Indonesia.
Ensiklik ini bukan hanya teks keagamaan, tetapi juga manifesto moral untuk masa depan umat manusia.
Di tengah krisis lingkungan yang semakin parah, seruan Paus Fransiskus tetap relevan dan mendesak. Dunia memerlukan suara nurani yang tegas, dan dalam Laudato Si’, dunia telah menerima suara tersebut.
Maka, meski tubuhnya telah kembali ke tanah, suara Paus Fransiskus masih menggema di udara, di sungai, di pepohonan, dan dalam setiap hati yang peduli pada bumi. Sebab, seperti yang ia tulis:
“Dunia, lebih dari sekadar masalah yang harus dipecahkan, adalah misteri yang menggembirakan untuk direnungkan dengan sukacita dan pujian.” []











