Kesunyian bukan lagi ancaman, melainkan jalan terang menuju kedamaian, keikhlasan, dan perjumpaan paling intim dengan Sang Pencipta.
Oleh: Beno Siang Pamungkas
PERALANAN panjang yang saya lakukan dengan langkah-langkah kecil ini kian menemukan iramanya. Dari estafet pertama bernama kesadaran, saya menyelesaikan tahapan yang sedikit menanjak bernama harapan.
Dan kini saya telah tiba di tahap ketiga, sebuah hamparan luas, tempat yang tak lagi perlu diberi nama. Di sana tidak ada hiruk pikuk ambisi, tidak ada bayang-bayang masa lalu yang menuntut diingat.
Hanya ada kesunyian semata. Sebuah ruang tempat jiwa yang bebas bisa sejenak beristirahat dari segala keinginan yang bikin penat.
Aura kesunyian ini akan muncul dari kedalaman batin seperti permukaan danau yang tenang sehingga seseorang bisa mengaca dan melihat wajahnya sendiri yang tersenyum dengan damai. Saya memang tidak harus lari dari dunia berisik yang sumbernya dari pikiran saya sendiri.
Di tengah kediaman ini ada sesuatu yang sukar dijelaskan. Semacam rasa tenang yang tidak tergantung pada keadaan, dan rasa damai yang tidak bisa diambil siapa pun.
Mungkin beginilah hakikat hidup yang sesungguhnya saya cari selama ini. Terlepas dari belenggu waktu dan irama kerja yang menguras energi.
Bisa berdamai dengan segala keadaan dan tidak lagi sibuk menyesali yang lewat, maupun mencemaskan pada apa yang belum tiba. Fokus pada hidup yang berada di sini dan sekarang.
Saya mulai memahami bahwa sunyi tidak identik dengan kesepian. Sunyi justru bisa menjadi perjumpaan paling intim dengan Sang Pencipta.
Dalam sunyi, saya tak perlu banyak kata untuk berdoa. Bisa merasakan keintiman dan kehadiran entitas adi kodrati dalam kondisi terjaga tentu bernilai setara dengan ibadah yang khusyuk, bahkan mungkin lebih.
Ini adalan keindahan sederhana yang dicari oleh banyak orang. Sebuah kerelaan, seperti daun yang rela melayang dan jatuh dan tanpa menyesal, karena lewat kesunyian saya juga belajar tentang kehilangan dan siklus kehidupan yang melingkar tanpa putus.
Semula saya sempat merasa takut dengan kesendirian. Seolah diam itu tak berarti. Tapi kini saya tahu, diam yang disertai dengan kesadaran adalah bahasa yang paling jernih. Di sanalah saya mendengar bisikan batin yang paling jujur.
Kesunyian juga mengajari saya tentang batas. Tidak semua hal harus dijelaskan dan butuh pembuktian. Ada kebenaran yang hanya bisa dirasakan, ada kedamaian yang hanya bisa dimengerti dalam hening. Dan mungkin, di sanalah letak kemerdekaan sejati.
Dalam kesunyian, saya juga belajar mendengarkan dunia. Suara burung di pagi hari, desir angin di antara pohon, bahkan suara detak jantung sendiri.
Semua suara itu menjadi pengingat bahwa hidup ini masih berjalan. Bahwa keberadaan adalah anugerah, bukan kewajiban.
Kadang saya tersenyum sendiri, mengingat betapa dulu saya sering merasa tak punya arah. Tapi kini saya tahu, arah bukan sesuatu yang selalu terlihat.
Arah bisa berupa rasa tenteram yang muncul tanpa alasan. Arah bisa jadi langkah yang ringan meski jalannya panjang.
Kesunyian membuat saya punya waktu lebih berdialog dengan diri sendiri. Tidak berjarak, tapi juga tidak melekat berlebihan pada apa pun.
Saya belajar mencintai tanpa syarat. Memberi tanpa menunggu balasan. Hidup tanpa takut kehilangan. Karena segala yang datang, datang dengan izin; dan segala yang pergi, pergi dengan maksud.
Jika hidup ini ibarat sungai, maka saya tidak lagi ingin melawan arusnya. Saya hanya ingin mengalir dengan tenang, menjaga kejernihan air di dalam jiwa, sehingga suatu saat bermuara pada samudra yang abadi. Di situlah mungkin saya akan benar-benar pulang ke rumah kebahagiaan.
Bila seseorang bertanya di mana kebahagiaan itu kini berada, saya hanya akan menjawabnya dengan senyuman kecil tanpa perlu berkata apa-apa lagi. []






