Dalam Brave New World, Aldous Huxley menggambarkan sebuah dunia di mana kebahagiaan instan, teknologi, dan rekayasa sosial menggantikan cinta, kebebasan, dan makna hidup, menciptakan peradaban yang tampak sempurna tetapi kehilangan esensi kemanusiaan.
Oleh: Beno Siang Pamungkas
DALAM novelnya “Brave New World” yang terbit tahun 1932, Aldous Huxley meramalkan keruntuhan umat manusia dan peradaban yang menyokongnya bukan seperti diprediksi oleh novel “1984” yang ditulis belakangan oleh muridnya (Eric Blair, namun lebih dikenal dengan nama pena George Orwell), yaitu akibat rezim yang kejam dan totaliter, namun karena mudahnya sarana hidup dan waktu senggang yang berlebihan.
Dalam negara Utopia seluruh kebutuhan masyarakat yang dikondisikan sejak masih berupa sel telur dan spermatozoa, terdiri dari sejumlah kasta, dan mereka telah didesain seluruhnya menjadi bahagia dan menerima takdirnya masing-masing.
Di dalam novel yang ditulis pasca Perang Dunia I dan menjelang Perang Dunia II tersebut Huxley menggambarkan masyarakat Utopia yang tatanannya bersumber dari science dan penjaga moral yang konsepnya dibuat oleh Ford, seorang tokoh adi-manusia. Segala kegelisahan, kesedihan dan problematika manusia sehari-hari dapat dieliminir sejak mereka berupa janin dalam botol dengan sejumlah langkah persuasif berulang, serta dengan pil dan obat bernama soma yang bisa membuat seseorang selalu merasa bahagia.
Dalam setting novel yang bertiti mangsa di masa depan itu tak ada lagi orang-orang (dari kasta apa pun) yang merayakan Hari Kasih Sayang, yaitu hari di saat seseorang atau pasangan mengekspresikan perasaannya kepada kekasih atau pasangannya dengan saling bertukar hadiah berupa coklat, setangkai bunga atau surat dengan kata-kata romantis. Karena dengan beberapa tetes atau gram soma, seseorang di Utopia bisa seketika merasa kan limpahan kasih sayang dari orang yang diinginkannya secara instan.
Cinta dan kasih sayang, berikut rasa cemburu, dan patah hati menjadi tabu dan bahan tertawaan karena dianggap primitif dan peninggalan masa lalu, sehingga dengan berbagai cara harus disingkirkan.
Dilema mulai dihadirkan dengan munculnya tokoh Si Liar, sosok yang tidak diharapkan karena lahir secara alami berkat sebuah kecelakaan antara seorang perempuan dari kasta rendah dengan pasangannya dari golongan Alfa-Plus yang belakangan menjadi seorang direktur. Si Liar yang sejak kecil hidup bersama suku Indian di Reservasi Orang Liar hanya ditawari dua alternatif, satu kehidupan tidak waras di Utopia, atau hidup sebagai seorang primitif dalam satu desa Indian, sebuah pilihan yang tidak kalah gilanya.
Di Hari Kasih Sayang yang dirayakan setiap 14 Februari dan konon berasal dari hari kematian seorang martir bernama St. Valentine, tak ada salahnya kita bertanya kepada diri sendiri. Bila hanya ada dua pilihan yang sama-sama tidak warasnya, jalan manakah yang akan kita pilih?. [Luk]






