Haul ke-51 KH Abdul Fattah Hasyim, KH Ubaidullah Shodaqoh Tekankan Tarekat Mengajar dan Menuntut Ilmu sebagai Jalan Meneruskan Perjuangan Ulama.
ZONASI.ID (Jombang) – Gelaran acara Haul ke-51 Keluarga Besar Al-Maghfurlah KH Abdul Fattah Hasyim berlangsung di Ndalem Kasepuhan PP Al-Fathimiyyah Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Kamis (22/10/2026) malam.
Selain mendoakan para masyayikh dan keluarga besar yang telah wafat, haul ini juga menjadi ruang untuk mengenang perjuangan serta meneruskan nilai-nilai keilmuan yang diwariskan para pendahulu.
Doa dalam haul tersebut dipanjatkan untuk KH Bisri Syansuri ke-48, KH Hasyim Idris ke-85, Nyai Hj. Khodijah Hasbullah ke-74, Ny. Hj. Fathimah Hasbullah ke-91, KH Abdul Fattah Hasyim ke-51, Ny. Hj. Musyarrofah Bisri ke-18, KH M. A. Sahal Mahfudz ke-12, Ny. Hj. Nafisah Fattah ke-4, KH Djamaluddin Achmad ke-4.
Ny. Hj. Churriyah Abd. Fattah ke-26, KH Moh. Shulton Abd. Hadi ke-8, Ny. Hj. Muthmainnah Fattah ke-8, KH Hubbi Syauqi Fattah ke-42, Ny. Hj. Rohmah Arwanie ke-5, KH Masduqi Amin ke-12, KH Abdul Nashir Fattah ke-4, KH Taufiqurrahman Fattah ke-18, Dr. Hj. Syafiyah Fattah ke-1, serta H. M. Abdulloh Najib ke-8.
Rangkaian acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh KH Muhammad Rofi’an, S.Pd.I. Acara dilanjutkan dengan pembacaan tahlil dan doa yang dipimpin KH Abd. Jabbar Hubbi.
Sambutan keluarga disampaikan KH Mohammad Idris Djamaluddin. Dalam sambutannya, ia mengajak hadirin memahami kembali kedudukan orang-orang saleh serta hubungan mereka dengan keluarga dan murid-muridnya.
Ia merujuk keterangan dalam kitab Sirajut Thalibin yang menjelaskan bahwa orang-orang saleh semasa hidupnya membimbing dan mengasuh keluarga serta para murid. Setelah wafat, perhatian dan bimbingan mereka disebut semakin kuat dalam dimensi spiritual.
“Inda dzikris shalihin tanzilur rahmah,” yang berarti ketika orang-orang saleh disebut atau diingat, rahmat Allah turun,” tuturnya.
Haul juga menjadi kesempatan untuk mendoakan mereka, mengingat jasa-jasanya, dan mengambil pelajaran dari kehidupan yang telah dijalani.
KH Idris menyampaikan bahwa KH Abdul Fattah Hasyim telah wafat selama 51 tahun. Seiring berjalannya waktu, orang-orang yang pernah menyaksikan langsung kehidupan dan perjuangan Mbah Fattah semakin berkurang.
Karena itu, ia menilai penting adanya upaya untuk mendokumentasikan riwayat hidup beliau agar tetap dikenal oleh generasi berikutnya.
Ia berharap pada haul tahun mendatang keluarga dapat menghadirkan manakib atau riwayat hidup KH Abdul Fattah Hasyim. Menurutnya, Gus Rifan tengah menyusun riwayat singkat Mbah Fattah yang diharapkan dapat disampaikan secara ringkas, jelas, dan runtut.
“Harapannya, generasi berikutnya bisa mengenal siapa Mbah Fattah, bagaimana perjalanan hidup beliau, serta perjuangan yang telah dilakukan,” terang KH Idris.
Selanjutnya, mauizah hasanah disampaikan KH Ubaidullah Shodaqoh, pengasuh Pondok Pesantren Al-Itqon, Bugen, Kota Semarang.
Dalam tausiahnya, Kiai Ubaidullah menyoroti pentingnya menjaga hubungan batin dengan guru dan meneruskan tradisi keilmuan melalui tarekat mengajar dan menuntut ilmu.
Tarekat Mengajar dan Menuntut Ilmu
KH Ubaidullah Shodaqoh mengajak hadirin melihat hubungan antara guru dan murid sebagai ikatan yang tidak semata-mata berhenti pada pertemuan fisik. Ketika seorang guru telah wafat, ilmu, ajaran, dan keteladanan yang pernah diberikan tetap dapat diteruskan melalui murid-muridnya.
Hubungan tersebut perlu dijaga dengan doa, penghormatan, serta kesungguhan dalam mengamalkan ilmu. Seorang murid tidak cukup hanya mengenang nama gurunya, tetapi juga perlu menjaga warisan keilmuan yang telah diterima.
Pesan itu mengajak para santri dan generasi penerus untuk tidak berhenti pada kegiatan mengenang. Mereka juga memiliki tanggung jawab meneruskan perjuangan para masyayikh, terutama melalui kegiatan belajar, mengajar, dan membimbing masyarakat.
Kiai Ubaidullah juga mengingatkan bahwa perjuangan seseorang tidak hanya berbentuk perjuangan lahiriah. Ada perjuangan lain yang berlangsung dalam diri setiap orang, yakni melawan hawa nafsu dan menjaga diri agar tetap berada di jalan yang diridai Allah.
“Perjuangan batin tersebut penting dalam proses menuntut ilmu maupun mengajar. Seseorang perlu menjaga niat agar ilmu yang dipelajari dan disampaikan tidak berubah menjadi sarana untuk mencari pujian atau meninggikan diri sendiri,” terang Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah ini.
Ia mengaitkan pembahasan tersebut dengan firman Allah SWT dalam Surah Ali Imran ayat 169: Wa lā taḥsabanna alladzīna qutilū fī sabīlillāhi amwātā, bal aḥyā’un ‘inda rabbihim yurzaqūn.
Artinya: “Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; sebenarnya mereka itu hidup dan dianugerahi rezeki di sisi Tuhannya.”
Ayat tersebut mengingatkan tentang kehidupan orang-orang yang gugur di jalan Allah. Dalam pembahasan mengenai hubungan murid dengan guru, Kiai Ubaidullah mengajak hadirin memperhatikan bahwa wafatnya seseorang tidak serta-merta menghapus nilai perjuangan dan pengaruh kebaikan yang telah ditinggalkannya.
Para ulama mewariskan ilmu dan keteladanan yang dapat terus dipelajari oleh generasi setelahnya. Warisan itu akan tetap bermanfaat ketika ada orang yang bersedia menjaga, mengamalkan, dan meneruskannya.
“Salah satu bentuk menjaga hubungan batin dengan guru atau rabithatul qalbi ialah meneruskan tradisi keilmuan. Ikatan tersebut tidak hanya ditunjukkan melalui perasaan dekat kepada guru, tetapi juga melalui kesediaan menjaga ajaran dan menerapkan ilmu yang telah diberikan,” jelasnya.
Kiai Ubaidullah menekankan bahwa kegiatan mengajar dan menuntut ilmu merupakan jalan penting untuk melanjutkan perjuangan para masyayikh. Ilmu yang diperoleh seorang murid tidak seharusnya berhenti pada dirinya sendiri. Ilmu perlu diamalkan dan disampaikan kembali agar manfaatnya semakin luas.
Keutamaan menuntut ilmu dijelaskan dalam hadis Nabi Muhammad SAW: Man salaka ṭarīqan yaltamisu fīhi ‘ilman, sahhalallāhu lahu bihi ṭarīqan ilal-jannah
Artinya: “Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya (dengan ilmu/jalan tersebut) jalan menuju surga.” (HR. Muslim)
Hadis tersebut menunjukkan keutamaan perjalanan mencari ilmu. Proses itu membutuhkan kesungguhan, kesabaran, dan ketekunan.
Menuntut ilmu bukan pekerjaan yang selesai dalam waktu singkat, melainkan perjalanan panjang yang menuntut seseorang terus belajar dan memperbaiki pemahamannya.
Namun, proses tersebut tidak berhenti ketika seseorang telah memperoleh pengetahuan. Ilmu yang diterima dari guru perlu diteruskan kepada orang lain. Di sinilah kegiatan mengajar memiliki kedudukan penting karena menjadi jalan agar ilmu tetap hidup dan tidak terputus ketika generasi berganti.
Dalam tradisi pesantren, hubungan antara menuntut ilmu dan mengajar menjadi bagian dari kesinambungan pendidikan. Seorang santri belajar kepada kiai, kemudian mengamalkan ilmu yang diperolehnya. Ketika memiliki kemampuan dan kesempatan, ia meneruskan ilmu tersebut kepada santri atau masyarakat yang membutuhkan.
Dengan cara itu, ilmu yang dahulu diajarkan seorang guru dapat terus memberikan manfaat, bahkan setelah guru tersebut wafat. Murid-muridnya menjadi bagian dari mata rantai yang menjaga agar ilmu tetap dipelajari dan disampaikan kepada generasi berikutnya.
Kiai Ubaidullah mengajak hadirin melihat perjuangan para ulama dari sisi keberlanjutan tersebut. Perjuangan seorang kiai tidak hanya berlangsung ketika ia berdiri di hadapan santri untuk mengajar.
Perjuangan itu juga berlanjut melalui murid-murid yang kelak mengajar, membimbing masyarakat, mengasuh pesantren, dan menjaga tradisi pendidikan agama.
“Ilmu yang diajarkan tidak berhenti pada orang yang menerima. Ilmu itu bisa diteruskan lagi kepada orang lain,” jelas KH Ubaid,
Karena itu, tarekat mengajar tidak dapat dilepaskan dari tanggung jawab seorang murid untuk menjaga ilmu yang telah diterimanya.
Mengajar bukan hanya menyampaikan materi, melainkan juga meneruskan amanah keilmuan. Seorang pengajar harus berusaha menyampaikan ilmu dengan baik sekaligus menjaga adab dan tanggung jawab terhadap apa yang diajarkannya.
Kegiatan tersebut juga berkaitan dengan amal yang terus memberikan manfaat. Ilmu yang diajarkan dengan ikhlas dapat tetap hidup melalui orang-orang yang mempelajari, mengamalkan, dan mengajarkannya kembali.
Ketika seorang murid menjadi guru bagi orang lain, manfaat dari pelajaran yang dahulu diterimanya dapat menjangkau lebih banyak orang.
Dalam kaitannya dengan haul KH Abdul Fattah Hasyim, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa mengenang perjuangan seorang kiai perlu disertai usaha menjaga warisannya. Salah satu bentuknya ialah meneruskan kegiatan pendidikan dan memastikan bahwa ilmu yang diwariskan tidak berhenti sebagai cerita masa lalu.
Kiai Ubaidullah juga mengingatkan pentingnya menjaga niat dalam menuntut ilmu dan mengajar. Seseorang perlu menghindari sikap ujub, yakni merasa bangga secara berlebihan terhadap diri sendiri, serta riya, yaitu melakukan kebaikan agar mendapat pujian atau pengakuan dari orang lain.
Ilmu dan kemampuan mengajar semestinya tidak menjadikan seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain. Sebaliknya, ilmu perlu menumbuhkan kerendahan hati dan kesadaran bahwa pengetahuan yang dimiliki harus digunakan untuk memberikan manfaat.
“Jangan sampai ilmu yang kita miliki justru membuat kita merasa paling hebat. Ilmu harus menjadi jalan untuk memperbaiki diri dan memberikan manfaat,” pesannya.
Menjaga niat juga berarti menyadari bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari banyaknya pengetahuan yang dikuasai.
Seorang murid perlu berusaha mengamalkan ilmu, sedangkan seorang pengajar perlu memastikan bahwa kegiatan mengajarnya tetap berorientasi pada penyampaian ilmu dan kemanfaatan bagi orang lain.
Dalam tausiahnya, Kiai Ubaidullah menggunakan perumpamaan tanaman untuk menggambarkan perbedaan manfaat yang dapat diperoleh dalam kehidupan.
Ada tanaman yang dapat memberikan hasil dalam waktu relatif singkat, tetapi ada pula pohon yang membutuhkan waktu lama untuk tumbuh sebelum akhirnya memberikan manfaat.
Perumpamaan tersebut menggambarkan bahwa hasil pendidikan tidak selalu terlihat seketika. Ilmu yang ditanamkan seorang guru kepada muridnya mungkin baru menunjukkan hasil setelah bertahun-tahun.
Murid yang dahulu belajar dapat tumbuh menjadi pengajar, kemudian menyampaikan kembali ilmu yang diterimanya kepada orang lain.
Dengan demikian, mengajar membutuhkan kesabaran. Seorang guru tidak selalu dapat menyaksikan secara langsung seluruh manfaat dari ilmu yang telah disampaikan. Namun, selama ilmu itu terus dipelajari, diamalkan, dan diteruskan, manfaatnya dapat berkembang jauh melampaui masa hidup orang yang mengajarkannya.
Selain ilmu, adab dan keteladanan juga menjadi bagian penting dalam tradisi pesantren. Murid belajar bukan hanya dari penjelasan yang disampaikan guru, melainkan juga dari perilaku dan amaliah yang dicontohkan dalam kehidupan sehari-hari.
Menghormati guru, menjaga adab terhadap kitab, mengikuti amaliah yang baik, dan memelihara hubungan dengan sanad keilmuan merupakan bagian dari upaya menjaga tradisi tersebut. Penghormatan kepada guru tidak cukup ditunjukkan melalui ucapan, tetapi perlu diwujudkan dengan menjaga nilai-nilai yang telah diajarkannya.
Dalam proses pendidikan, keteladanan sering kali menjadi pelajaran yang melekat pada diri murid. Apa yang dilihat dan dialami selama belajar dapat membentuk cara berpikir serta perilaku seseorang ketika kelak menjalankan tanggung jawabnya sendiri. Karena itu, kesinambungan pendidikan membutuhkan ilmu sekaligus adab.
Kiai Ubaidullah mengajak hadirin memahami bahwa meneruskan perjuangan para masyayikh berarti menjaga keseluruhan warisan tersebut. Ilmu perlu terus dipelajari dan diajarkan, sementara keteladanan dan adabnya perlu dirawat agar tradisi keilmuan pesantren tetap terjaga.
Haul ke-51 KH Abdul Fattah Hasyim pun menjadi kesempatan untuk mengingat kembali tanggung jawab tersebut. Ketika orang-orang yang mengenal langsung Mbah Fattah semakin berkurang, riwayat hidup, keteladanan, dan perjuangan beliau perlu terus dikenalkan kepada generasi muda.
“Melalui tradisi menuntut ilmu dan mengajar, warisan para masyayikh dapat terus hadir dalam kehidupan pesantren dan masyarakat. Seorang murid yang meneruskan ilmu gurunya turut menjaga kesinambungan perjuangan yang telah dirintis oleh generasi sebelumnya,” jelasnya. []











