Hidup Tanpa Uang

beno siang pamungkas
hidup tanpa uang
Ilustrasi/Zonasi.id

Hidup tanpa uang bukan berarti tanpa kenyamanan, melainkan hidup dengan kesadaran akan apa yang benar-benar dibutuhkan

Oleh: Beno Siang Pamungkas

KESERAKAHAN dan rasa cinta berlebihan kepada uang–dan segala kemudahan serta rasa aman yang diilusikan melekat di dalamnya–membuat semua orang berlomba-lomba mengejar dan menimbun uang dengan mempergunakan segala cara. Uang menjadi salah satu benda yang paling banyak dibutuhkan.

Uang akhirnya menjadi berhala dan terbukti memakan korban dengan memicu perang, kejahatan, kerusakan alam, dan beragam konflik lainnya.

Dapatkah kita melepaskan diri dari jerat dan ketergantungan kepada uang?

Mark Boyle, pria Irlandia, pada akhir November 2008, melakukan eksprerimen sosial demi melawan konsumerisme dan melepaskan diri dari ketergantungan terhadap uang.

Dia yang sebelumnya hidup nyaman dan cukup mapan sebagai pekerja kelas menengah, mengumumkan tekadnya untuk hidup tanpa uang sama sekali selama setahun, namun praktek tersebut akhirnya berlanjut hingga tiga tahun. Mark Boyle bisa bertahan hidup dengan cara bertani organik, berburu di alam, dan bergantung pada barter serta kemurahan hati komunitas. Melalui gaya hidupnya, Mark Boyle menunjukkan bagaimana hidup sederhana dapat mengajarkan nilai-nilai mendalam tentang hubungan manusia dengan alam dan sesama.

Mark Boyle menyadarkan banyak orang tentang dampak negatif uang terhadap hubungan sosial dan lingkungan.

Mark Boyle menuliskan eksperimen sosialnya dalam sebuah buku berjudul “The Moneyless Man, A Year Freeconenomic Living”, terbit tahun 2010, dan buku tersebut mendapat respon positif dari seluruh penjuru dunia sehingga membuatnya termasyur dan mendapat julukan sebagai The Moneyless Man.

Kisah hidup Mark Boyle yang merasa mendapatkan kebahagiaan dengan cara tak terduga saat berani menghadapi tantangan utama berupa ketidakpastian hidup tanpa uang, ternyata menginspirasi banyak orang untuk memikirkan tujuan hidupnya kembali. Semua orang ternyata bisa menemukan kebahagiaan dalam hal-hal kecil. Dan yang utama akan muncul kesadaran bahwa hidup tanpa uang bukan berarti hidup tanpa kenyamanan, melainkan hidup dengan kesadaran yang lebih besar akan apa yang benar-benar dibutuhkan.

Bila nantinya RUU Perampasan Aset jadi disahkan, para koruptor yang dimiskinkan perlu belajar kepada Mark Boyle agar tetap bisa bahagia tanpa uang. [Luk]