Kegetiran yang Indah

lukni maulana
Kegetiran dunia seni
Ilustrasi

Film Late Fame menguliti kegetiran dan kekejaman dunia seni yang membuai seorang penyair tua dengan harapan palsu dan validasi semu.

Oleh: Beno Siang Pamungkas

Aku seniman. Dan aku bukan milik siapa pun, hanya milik seniku.

KALIMAT tersebut diucapkan oleh Gloria seorang aktris teater dan seniman bohemian sebagai penegasan sekaligus kalimat perpisahan kepada Ed Saxberger penyair paling berbakat dari kota New York, namun karena permainan tangan nasib yang kejam dan dingin, akhirnya beralih profesi menjadi tukang sortir di kantor pos.

Dalam film berjudul Late Fame tersebut Saxberger yang menulis buku puisi berjudul Way Past Go diperankan secara apik oleh Willem Dafoe.

Late Fame bukan berasal dari kisah nyata. Ia adalah sebuah fabrikasi, sebuah cerita rekaan yang ditenun dari benang-benang kegetiran namun hasilnya menawan. Film ini membisikkan sebuah kebenaran pahit yang kejam tentang bagaimana dunia seni memperlakukan para penciptanya yang telah usang, seolah-olah mereka hanyalah barang antik yang bisa dipajang dan dibuang sesuka hati.

Late Fame diadaptasi dari sebuah novella karya Arthur Schnitzler, penulis asal Wina, Austria, yang dituliskan sekitar tahun 1894–1895. Naskah itu sempat terkubur selama lebih dari seabad, dan baru diterbitkan secara resmi pada tahun 2014. Ada sebuah ironi di sini. Karya tentang ambisi yang tertunda, kini harus menunggu lebih dari seratus tahun untuk sekadar diakui ada oleh dunia yang cepat lupa.

Untuk menerjemahkan melankolia ini ke layar lebar, penulis naskah Samy Burch dan sutradara Kent Jones memindahkan latar cerita tersebut ke era modern di New York City. Mereka melukis potret kota dan dinamika komunitas seninya dengan pendekatan yang begitu natural, sehingga penonton dibuat terkecoh bahwa ini hanyalah panggung sandiwara yang sejak awal dirancang untuk menertawakan kesia-siaan.

Di tengah panggung seperti inilah kita menemukan Ed Saxberger, mantan penyair tahun 1970-an yang telah lama mengubur ambisi sastranya. Selama puluhan tahun, ia memilih menjadi pegawai kantor pos, menyortir surat-surat orang lain sementara jiwanya sendiri mati perlahan di bawah tumpukan amplop yang tak pernah ia buka. Ia cuma menampilkan ekspresi getir saat melihat surat dengan perangko bergambar Emily Dickinson.

Ketenangan hidup Saxberger yang rudin dan hambar itu terusik ketika sekelompok anak muda pencinta sastra menemukan buku lamanya. Mereka tidak sekadar membaca bukunya namun memujanya bak dewa.

Mereka membentuk sebuah klub penggemar bernama Perkumpulan Antusias dan menilai Saxberger sebagai seorang jenius yang terlupakan, yang harus diberi kesempatan untuk tampil kembali.

Seolah-olah mereka membutuhkan mayat seorang penyair untuk menghangatkan tangan-tangan pretensi mereka yang kosong dan memvalidasi eksistensi mereka di kancah sastra.

Di sinilah letak kegetiran berlangsung. Sebuah upaya kejam untuk membangkitkan orang yang sudah lama berdamai dalam kuburan ambisinya. Anak-anak muda itu menyuntikkan racun berupa harapan palsu ke nadi Saxberger.

Mereka memaksanya untuk kembali bermimpi, tanpa peduli bahwa mungkin tulang-tulang kreativitasnya mungkin sudah terlalu rapuh untuk menanggung beban ekspektasi yang mereka ciptakan sendiri.

Saxberger pun terbangun. Ambisi yang ia kira sudah mati kini menyala kembali. Api semangatnya berkobar nyaris membakar sisa-sisa kewarasannya.

Ia mulai percaya bahwa ia masih memiliki suara, bahwa kata-katanya masih memiliki bobot di dunia yang terus berputar dan tidak pernah benar-benar peduli padanya.

Namun, ilusi memiliki cara licik untuk mengatakan kebenaran. Saxberger akhirnya tersadar bahwa anak-anak muda itu tidak mencintainya apalagi memujanya.

Mereka hanya mencintai ide tentang dirinya. Mereka mendewakan hantu dari masa lalunya di tahun 1970-an, sementara pria tua yang duduk di hadapan mereka dengan seragam kantor pos yang lusuh hanyalah sebuah ketidaknyamanan bagi narasi romantis yang mereka bangun.

Kehancuran pun tiba ketika topeng kepalsuan tersingkap. Pimpinan Perkumpulan Antusias hanyalah seorang pemuda manja anak orang kaya yang egois dan memperalat kawan-kawannya. Ternyata komunitas tersebut tak ada satu pun yang pernah membaca buku Way Past Go karya Ed Saxberger sebagaimana selama ini mereka klaim.

Ed Saxberger ditinggalkan di tengah keramaian, terpuruk kembali ke dalam jurang rutinitasnya. Ia kembali ke kantor pos, menyortir surat-surat dan bercengkrama dengan kawan-kawannya, orang biasa yang tak tahu apa-apa tentang sastra.

Film Late Fame menyodorkan kenyataan pahit bahwa keterkenalan itu sendiri seringnya hanyalah sebuah lelucon yang dimainkan oleh mereka yang bahkan tidak pernah benar-benar membaca bukunya, melainkan hanya membaca sampulnya. Film ini juga menjadi pengingat bahwa kekejaman dunia seni adalah fakta yang tak perlu lagi dicari kebenarannya.

Dan sekarang coba jawab pertanyaan berikut ini: Manakah yang lebih menyakitkan, membiarkan sebuah impian mati dalam kesendirian, atau menghidupkannya kembali hanya untuk menyadari bahwa dunia tidak pernah benar-benar membutuhkannya? Sang penyair mungkin telah mati, namun abunya akan terus menyesakkan paru-paru siapa pun yang mencoba menghirupnya. []