MEDIA PROGRESIF

beno siang pamungkas
Media alternatif sebuah pilihan (ilustrasi: Pixabay)

Media yang bisa mengusung keaslian suara masyarakat dan memperoleh kepercayaan dari komunitas yang merasa terwakili aspirasinya. Media tersebut harus memberikan ruang bagi suara yang tidak terwakili oleh media arus utama. Ia harus berani membuka mata dunia pada kenyataan yang selama ini tidak diliput.

ZONASI.ID– Di saat berita viral menjadi clickbait dan narasi didikte oleh kepentingan korporasi dan oligarki, hak masyarakat untuk memperoleh berita dan informasi yang berimbang melalui media mainstream menjadi terpinggirkan.

Kebebasan pers dan partisipasi publik dalam mengulik masalah kerusakan lingkungan, kesejahteraan buruh, penegakan hukum dan HAM, serta pembagian kue ekonomi secara adil dan merata, kian lirih dan nyaris tidak terdengar. Pers sebagai pilar keempat demokrasi, sepertinya sudah mulai dilupakan dan kita memasuki era senjakala media idealis yang dulu pernah kita bangga-banggakan.

Di saat seperti itu keberanian untuk membuat media online seperti Zonasi.id ini adalah sebuah langkah yang akan dengan gampang dinilai sebagai perbuatan orang kurang waras dan pekerjaan yang sia-sia.

Benarkah demikian? Apakah kondisi saat ini sudah benar-benar parah, gelap, gawat dan tanpa harapan?

Beberapa waktu lalu dunia dikejutkan oleh postingan Instagram dan TikTok yang dibuat oleh Lama Jamous, jurnalis cilik pemberani dari Gaza Palestina, yang waktu itu baru berusia 9 tahun. Sesaat setelah militer Israel menyerang pada 7 Oktober 2023, dan masyarakat dunia hanya disodori oleh berita yang timpang, mata kita dicelikkan oleh keberanian seorang bocah yang memberi tahu dunia apa yang dialami warga Palestina akibat kekejaman Israel.

Beberapa tahun lalu, sebuah radio komunitas di Bolivia, Amerika Latin, menjadi alat advokasi bagi petani dan masyarakat adat dan akhirnya bisa berfungsi sebagai mesin revolusi dalam menggulingkan rezim. Selain menyiarkan berita, radio komunitas tersebut juga menjadi forum diskusi tentang HAM, lingkungan dan akses petani dan masyarakat adat terhadap tanah yang selama ini dikuasai negara demi kepentingan pemilik modal.

Di Indonesia, beberapa waktu setelah Tempo, Detik dan Editor dibreidel, majalah bawah tanah Suara Independen yang diedarkan dari tangan ke tangan para aktivis dan pejuang demokrasi, menjadi media yang ditakuti oleh rezim Orde Baru.

Dari sejumlah contoh di atas, sebenarnya masih tersedia sebuah ruang kecil bagi media alternatif yang mau mereformasi dirinya sebagai media yang progresif. Yaitu sebuah media yang bisa mengusung keaslian suara masyarakat dan memperoleh kepercayaan dari komunitas yang merasa terwakili aspirasinya. Media tersebut harus memberikan ruang bagi suara yang tidak terwakili oleh media arus utama. Ia juga harus berani membuka mata dunia pada kenyataan yang selama ini tidak diliput.

Dengan kata lain, media tersebut tidak sekedar memberitakan namun harus mendefinisikan ulang makna kebebasan pers dan partisipasi publik serta memperjuangkan keadilan sosial dengan cara memiliki sudut pandang keberpihakan kepada kaum yang miskin dan lemah agar menggalang solidaritas. Jurnalisme progresif sejak awal harus memikirkan dampak sosial dalam setiap kontennya. Karena jika setiap liputannya hanya sekedar melaporkan tanpa bisa mendorong perubahan yang nyata di masyarakat, ia akan kehilangan inti dari profesi mulia tersebut dan cepat atau lambat akan ditinggalkan orang.

Setiap jurnalis yang progresif dituntut untuk independen dan berintegritas. Namun bila ia dituntut untuk berpihak, maka ia harus berpihak kepada mereka yang selama ini lemah dan dilemahkan serta terpinggirkan secara sistematis oleh mereka-mereka, manusia serakah haus darah, yang perut dan hasratnya tidak pernah kenyang.(Ok))