Perbedaan paling mencolok antara eulogi dan obituari adalah keduanya diucapkan, sedangkan yang lainnya ditulis. Obituari adalah kisah tertulis tentang kehidupan mendiang, sedangkan eulogi adalah pidato yang disampaikan di pemakaman untuk menghormati orang yang telah meninggal.
ZONASI.ID – Setidaknya ada dua penulis obituari yang karyanya selalu saya tunggu-tunggu. Setiap kali ada seorang tokoh meninggal dunia, saya berharap salah satu di antara mereka yang menuliskannya.
Di tangan Hamid Basyaib atau AS Laksana, tulisan yang dibuat beberapa saat setelah kematian seseorang, tidak melulu berisi kalimat basi seperti semoga almarhum/ almarhumah husnul khotimah atau kalimat hafalan lainnya seperti, saya bersaksi bahwa dia adalah orang yang baik.
Bila dikerjakan dengan baik sebuah tulisan obituari tidak melulu bercerita tentang kehilangan dan rasa sedih akibat kematian. Obituari bahkan bisa menjadi kenangan indah dan menyentuh yang membahas sisi-sisi manusiawi serta apa yang diperjuangkan oleh orang yang baru saja pergi untuk selamanya. Obituari bisa menjadi ringkasan kehidupan seseorang yang penuh warna yang layak untuk dikenang bahkan dirayakan.
Seperti penulisan lain pada umumnya, penulisan obituari juga perlu dipelajari dan dilatih dengan sungguh-sungguh dan keras kepala. Dalam kesempatan kali ini tentu saya tidak berani mengutarakan bagaimana cara melakukannya, karena itu di luar kompetensi saya. Namun, setidaknya saya bisa menyampaikan hal-hal yang sebaiknya dihindari agar penulisan obituari tidak menjadi klise, membosankan atau terlihat menjadi ajang pansos bagi penulisnya.
Selain menghindari penggunaan kata-kata baku dan klise, sebaiknya obituari adalah tulisan mengenai interaksi yang paling berkesan dengan mendiang (jika kenal secara personal dan memang pernah bertatap muka) atau tentang sikap atau pandangan hidup almarhum/ almarhumah yang membuat hidup kita berubah. Misalnya keberpihakannya terhadap orang miskin, atau konsistensinya dalam mempertahankan prinsip tanpa mempertimbangkan risiko.
Jostein Gaarder, penulis Norwegia, menulis sebuah novel yang menyentuh berjudul The Puppeteer. Tokoh utamanya bernama Jakop Jacobsen mempunyai hobi aneh, yaitu menghadiri pemakaman orang yang tidak dikenalnya. Di dalam perayaan pemakaman tersebut Jakop selalu menyempatkan diri untuk menyampaikan eulogi, yaitu pidato pujian di hadapan keluarga dan tamu yang menghadiri pemakaman tersebut, seolah-olah dia adalah sahabat mendiang dan mengenalnya secara personal. Demi menyiapkan pidato yang menyentuh dan indah tersebut Jakop rela menggali informasi dari sejumlah sumber dan pustaka.
Saya pernah mendapat kesempatan menyaksikan eulogi menyentuh yang disampaikan oleh KH. A. Mustofa Bisri (Gus Mus) beberapa saat menjelang pemakaman kakak kandung beliau, yaitu KH. Cholil Bisri (Mbah Cholil), di Leteh, Rembang. Kata-kata dan kalimat persisnya saya sudah tidak ingat, namun dengan suara bergetar tapi jernih, di depan jenazah yang sudah dipanggul di dalam keranda dan di hadapan ribuan orang takziyah, Gus Mus menceritakan peran Mbah Cholil selain sebagai kakak, juga sebagai sahabat sekaligus pengganti ayahandanya. Eulogi yang disampaikan oleh Gus Mus tersebut membuat para pelayat terdiam dengan perasaan seperti diaduk-aduk, sehingga saat jenazah akan diberangkatkan menuju pemakaman dari depan rumah duka, pengusung jenazah sampai mengambil jalur yang keliru selama beberapa saat.
Jika ada tokoh atau pejabat yang kebijakannya ngawur dan suka menyakiti hati rakyat, tak ada salahnya mulai sekarang kita bisa mereka-reka, menyiapkan obituari untuk mereka. Bila saatnya tiba, obituari tersebut atau euloginya, jika memungkinkan, akan kita bacakan di saat upacara pemakamannya. Jika tidak bisa, setidak-tidaknya kita bayangkan saja, pengumuman kematiannya akan diumumkan lewat pelantang suara di tempat ibadah, namun yang membacakannya adalah seorang MC atau pembawa acara konser dangdut: “Telah meninggal dunia dengan tenang, siapaa lagiii kalauu bukaaan…”(OK)






