Pahlawan

beno siang pamungkas
pahlawan
Ilustrasi/Zonasi.id

Bagaimana kita menghormati pahlawan yang rela berkorban demi Indonesia, di tengah godaan kekuasaan yang sering disalahgunakan?

DALAM imajinasi saya pahlawan adalah mereka, sosok tak berwajah dan tanpa nama serta terkubur entah di mana, persis seperti yang ditulis oleh Chairil Anwar dalam puisi Karawang-Bekasi:

Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
Tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.

Ya, mereka adalah bunga-bunga bangsa yang baru mekar, segar namun segera berguguran demi membela keyakinannya. Tentunya anak-anak muda tersebut tidak pernah berniat menjadi hero.

Dalam bayangan saya mereka seperti remaja dan pemuda pada umumnya yang punya beragam cita-cita indah bahkan beberapa di antaranya mungkin sedang belajar menulis surat cinta kepada kekasihnya.

Namun nasib memerangkap mereka semua dalam sebuah momentum sehingga mereka harus menjawab panggilan sejarah demi mempertahankan sebuah utopia rasa cinta kepada ibu pertiwi, sadumuk bathuk, sanyari bumi.

Mereka mungkin tidak menduga bakal segera menyetorkan nyawa mereka yang sangat berharga.

Kami mati muda. Yang tinggal
Tulang diliputi debu.
…
Kami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai.

Lantas, langkah apakah yang sepadan guna membalas pengorbanan mereka yang sungguh tidak ternilai tersebut?

Tentu saja dengan meneruskan nilai-nilai perjuangan yang telah mereka mulai, yaitu kemerdekaan, keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh anak bangsa.

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu.
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan.

Mereka yang sudah mati mendelegasikan perjuangan tersebut kepada kita yang masih hidup hari ini. Apakah amanat tersebut akan kita tunaikan atau justru kita khianati?

Kami sekarang mayat.
Berilah kami arti
Berjagalah terus di garis batas
Pernyataan dan impian.

Sebuah tugas yang berat. Mengingat rakusnya mereka-mereka yang punya kuasa dan kedudukan terus memanfaatkan jabatannya untuk memuaskan kerakusan dan keserakahan mereka yang tak ada habisnya.

Seperti temuan uang hampir Rp 1 triliun dan emas seberat 51 kilogram di rumah mantan petinggi Mahkamah Agung yang diduga untuk mengurus kasus, atau penangkapan sejumlah orang yang bekerja di Kementerian Komunikasi dan Digital yang diduga terkait kasus judi online, misalnya. []