Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar mengingatkan warga Nahdliyin agar mengedepankan tradisi tabayun dan menyudahi budaya saling merundung di media sosial.
ZONASI.ID (Tuban) – Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar mengingatkan warga Nahdlatul Ulama (NU) agar tidak terjebak dalam budaya saling merundung, menghina, dan membuka kesalahan orang lain di ruang digital tanpa melakukan klarifikasi terlebih dahulu.
Menurutnya, perilaku tersebut justru dapat menggerus kebesaran NU. Karena itu, warga NU, termasuk para kiai dan kalangan terpelajar, perlu mengedepankan tabayun atau klarifikasi sebelum menyebarkan informasi maupun menilai kesalahan seseorang.
Pesan itu disampaikan Kiai Miftachul Akhyar dalam acara Kick Off Hari Santri 2026 yang diselenggarakan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur di Pondok Pesantren Sunan Bejagung, Tuban, Ahad (11/10/2026).
Ia menyoroti kebiasaan menjadikan kesalahan seseorang sebagai bahan ejekan di media sosial, bahkan dengan dalih memiliki data atau jejak digital. Padahal, menurutnya, persoalan yang beredar semestinya terlebih dahulu diklarifikasi agar tidak menimbulkan fitnah dan memperkeruh keadaan.
“Beruntunglah kita semuanya diberi amanat untuk terus menjaga Nahdlatul Ulama. Jangan coba-coba kita bilang membesarkan Nahdlatul Ulama. Justru kita ini lebih banyak mengecilkan,” ujarnya.
Kiai Miftach menilai, menjaga NU bukan sekadar mempertahankan organisasi, melainkan juga merawat perilaku dan tradisi keilmuan yang menjadi fondasinya. Karena itu, setiap warga NU memiliki tanggung jawab untuk memastikan sikap dan tindakannya tidak merusak persaudaraan di dalam organisasi.
Ia juga mengingatkan para ulama dan orang berilmu agar tidak tinggal diam ketika muncul persoalan di tengah masyarakat. Ilmu yang dimiliki, kata dia, semestinya digunakan untuk memberikan penjelasan, meluruskan kesalahpahaman, dan membimbing umat.
Kiai Miftach mengutip hadis tentang kewajiban orang berilmu untuk menampakkan ilmunya ketika bidah dan tindakan mencela sahabat Nabi mulai bermunculan. Pesan tersebut, dalam konteks kehidupan saat ini, menjadi pengingat agar kalangan berilmu mengambil peran dalam menjernihkan persoalan, bukan memperburuknya.
Ia menyadari upaya meluruskan keadaan tidak selalu mudah. Penjelasan seseorang bisa dipelintir atau menjadi bahan perbincangan. Namun, kondisi tersebut tidak seharusnya membuat orang berilmu mengabaikan tanggung jawabnya.
Dalam ceramahnya, Kiai Miftach juga mengingatkan tentang situasi ketika seseorang melakukan kekerasan tanpa memahami alasan tindakannya, sementara pihak yang menjadi korban pun tidak mengetahui mengapa dirinya diserang. Ia mengaitkan gambaran tersebut dengan pentingnya kewaspadaan terhadap konflik dan hilangnya batas-batas moral dalam kehidupan bermasyarakat.
Menurutnya, warga NU perlu menjaga kejernihan berpikir dan tidak mudah mengikuti perilaku yang berkembang di lingkungan sosial apabila bertentangan dengan nilai-nilai agama.
Kiai Miftach menegaskan, ilmu harus menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memberikan manfaat bagi sesama. Ia mengingatkan agar penguasaan ilmu tidak membuat seseorang merasa paling benar atau menggunakan pengetahuannya untuk merendahkan orang lain.
Melalui momentum Kick Off Hari Santri 2026, ia berharap warga NU terus menjaga amanah organisasi dengan mengedepankan akhlak, kehati-hatian dalam menerima informasi, serta tanggung jawab untuk meluruskan persoalan melalui cara yang tepat. []











