Update  

Sambil Nyanyi Darah Juang, Bedah Pemikiran Syekh Musthafa al-Ghalayaini di Semarang

beno siang pamungkas
Khataman kitab Idzatun Nasyi'in di Suruh Semarang
Suasana khidmat khataman dan diskusi kitab Idzatun Nasyi'in karya Syekh Musthafa al-Ghalayaini yang dihadiri para akademisi, mahasiswa, dan warga di Dusun Gundi, Suruh, Kabupaten Semarang, Sabtu (31/10/2026) malam.

Ratusan mahasiswa dan warga berkumpul di sebuah joglo di Kabupaten Semarang untuk mengkhatamkan kitab Idzatun Nasyi’in karya Syekh Musthafa al-Ghalayaini, sekaligus membedah relevansi karakter generasi muda di era modern.

ZONASI.ID (Semarang) – Sabtu malam (31/10), pukul sembilan lewat beberapa menit, sekitar seratus orang berkumpul di sebuah joglo di Dusun Gundi, Desa Suruh, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang.

Mereka datang dari sejumlah kampus dan lingkungan masyarakat untuk mengikuti pembacaan khataman kitab Idzatun Nasyi’in, sekaligus acara syukuran, karena jamaah pengajian yang digelar seminggu sekali itu, dalam waktu yang berdekatan ada 23 orang yang lulus dari bangku kuliah.

Menurut KH. Ahmad Dimyati yang mengasuh jamaah tersebut, untuk menyelesaikan kitab kompilasi karya Syekh Musthafa al-Ghalayaini itu memerlukan waktu sekitar lima tahun.

“Kami mengajinya pelan-pelan, tidak ngoyo, kadang dalam satu pertemuan cuma membahas satu paragraf,” tuturnya.

Dan pilihan jamaah yang mayoritas masih berstatus mahasiswa itu sebagai sebuah strategi, yaitu agar kelak mereka yang langkahnya masih panjang bisa meneruskan apa yang dipelajarinya kepada masyarakat luas.

Setelah membacakan nama-nama santri yang berhasil lulus sarjana, acara khataman dimulai dengan membaca penggalan bagian akhir kitab Idzatun Nasyi’in yang dilakukan oleh Faiz Alfa, S.Hum., dan Ulil Albab, S.Sos.

Caranya seperti ngaji di pondok yaitu membaca teks aslinya dalam aksara pegon dan menterjemahkannya kata per kata memakai bahasa Jawa.

Joglo sekaligus tempat tinggal KH Akhmad Dimyati selama ini menjadi ruang pertemuan mereka yang terdiri dari berbagai latar belakang. Mahasiswa UIN Salatiga, STIE AMA, Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Universitas Negeri Semarang (Unnes), Universitas Diponegoro (Undip), serta anggota karang taruna dan warga sekitar.

Mereka dipertemukan oleh satu tradisi yaitu membaca kitab, memahami kehidupan, dan mendiskusikan persoalan zaman, dengan menyelami pikiran Syekh Musthafa al-Ghalayaini, seorang ulama, sastrawan, sekaligus pemikir dari Beirut, Lebanon.

Lahir pada 1886 dan wafat pada 1944 (1303-1364 H), Musthafa al-Ghalayaini hidup pada masa ketika dunia Arab menghadapi pergolakan politik, kolonialisme, dan perubahan sosial.

Ia bukan hanya dikenal sebagai ulama yang menguasai ilmu agama, tetapi juga sebagai penulis dan pemikir yang menaruh perhatian besar terhadap nasib masyarakatnya.

Latar zaman itulah yang memberi warna pada Idzatun Nasyi’in. Selain berisi ajaran-ajaran kesalehan, kitab ini juga membahas berbagai kegelisahan tentang masyarakat, bangsa, pendidikan, dan masa depan generasi muda, yang dinilai masih relevan untuk konteks Indonesia hari ini.

Keistimewaan kitab ini terletak pada cara al-Ghalayaini menyampaikan gagasannya. Ia menggunakan bahasa Arab yang indah, puitis, sekaligus tajam.

“Kalimat-kalimatnya tidak berhenti sebagai petuah moral, tetapi kerap membawa pembaca berhadapan dengan kenyataan sosial,” ujar KH Ubaidullah Shodaqoh, pengasuh ponpes Al Itqon Semarang yang hadir sebagai pemantik diskusi.

Diungkapkan, akhlak dalam pandangan yang tercermin melalui kitab tersebut, bukan perkara yang selesai di ruang ibadah. Kejujuran memiliki konsekuensi dalam kehidupan publik.

Keberanian menentukan sikap seseorang ketika berhadapan dengan ketidakadilan. Keikhlasan menjadi fondasi pengabdian, sementara persatuan menentukan apakah masyarakat mampu menghadapi persoalan bersama.

Kitab ini, imbuh Mbah Ubaid, menawarkan cara pandang bahwa kualitas sebuah bangsa tidak semata-mata ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam, kemajuan teknologi, atau kekuatan militernya. Ada fondasi yang lebih mendasar, yakni kualitas manusia yang membangunnya.

Dunia Modern dan Islam Klasik

Dr. Ahmad Agus Suedi, dosen UIN Salatiga, merasa perlu menjelaskan relevansi kitab Idzatun Nasyi’in dengan kaum muda, khususnya mahasiswa di Indonesia saat ini.

“Pemuda berada pada persimpangan penting perjalanan masyarakat. Mereka memiliki tenaga, kesempatan, dan kemampuan untuk membawa perubahan. Namun, energi itu membutuhkan arah.

Pengetahuan tanpa tanggung jawab moral dapat kehilangan makna sosialnya. Kecerdasan tanpa kejujuran bahkan bisa menjadi alat untuk memperbesar kerusakan,” ujar Agus.

Karena itu, pendidikan dalam perspektif kitab ini tidak cukup hanya menghasilkan manusia yang pandai membaca, berhitung, atau menguasai teknologi. Pendidikan juga harus membentuk keberanian untuk membela kebenaran, kesediaan mengakui kesalahan, serta kemampuan menempatkan kepentingan bersama di atas ambisi pribadi.

Pesan tersebut terasa menarik ketika melihat siapa saja yang duduk di joglo malam itu. Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, dengan latar pendidikan dan tradisi yang berbeda, berada dalam satu majelis bersama masyarakat desa dan karang taruna.

Mereka datang dari dunia akademik yang akrab dengan teori, penelitian, dan perdebatan ilmiah. Sementara kitab yang dibaca berasal dari tradisi keilmuan Islam klasik. Pertemuan keduanya memperlihatkan bahwa pengetahuan tidak harus berjalan sendiri-sendiri. Tradisi keagamaan dan pemikiran modern dapat bertemu untuk membicarakan persoalan manusia.

Relevansi dengan Kekinian

Ada hal menarik dari kitab Idzatun Nasyi’in. Kitab ini ditulis dalam tradisi keilmuan yang telah berusia lebih dari satu abad, tetapi persoalan yang dibicarakannya masih terasa dekat dengan kehidupan sekarang.

Kemajuan teknologi tidak serta-merta menghilangkan hasud. Media sosial tidak otomatis membuat manusia lebih jujur. Pendidikan tinggi belum tentu menjamin seseorang memiliki keberanian moral.

Bahkan, semakin terbuka ruang komunikasi, semakin besar pula kemungkinan manusia terjebak dalam kemunafikan, adu domba, dan pertengkaran yang kehilangan substansi.

Menurut Ahmad Dimyati, membaca kitab ini punya dua misi yaitu menengok pemikiran masa lalu sambil berupaya menemukan kembali nilai-nilai luhurnya yang masih relevan.

Al-Ghalayaini mengingatkan bahwa masa depan harus dibangun melalui kecanggihan institusi yang diiringi dengan pembangunan karakter atau watak orang-orang yang berada di dalamnya.

Sebuah bangsa bisa memiliki gedung-gedung tinggi, universitas ternama, dan teknologi mutakhir, tetapi tanpa kejujuran dan tanggung jawab sosial di hati warganya, bangsa tersebut akan menjadi bangsa yang rapuh.

Dalam kesempatan tersebut para hadirin juga sempat bertanya jawab tentang berbagai fenomena gerakan sosial politik dan demokrasi di berbagai belahan bumi, seperti di Perancis dan Amerika Serikat. Acara ditutup dengan menyanyikan lagu “Darah Juang” secara bersama-sama. []