Seni Menata Hati

beno siang pamungkas
seni menata hati
Ilustrasi

Menata hati bukan sekadar perjalanan batin, tetapi jalan sunyi yang membimbing kita pulang kepada keteduhan Ilahi.

Oleh: Beno Siang Pamungkas

SAAT ini saya ingin menuliskan kembali apa yang terlintas saat ngaji rutinan Rabu malam lalu (3/12), yaitu Bab Hati dalam Minhajul Abidin karya Imam Ghazali yang dibabar oleh Kiai Sholah, khususnya tentang bagaimana caranya menata hati.

Imam Ghazali mengibaratkan hati manusia adalah batang pohon dan anggota tubuh lainnya ibarat cabang dan ranting-rantingnya.

Hati bisa juga diumpamakan sebagai raja dan anggota tubuh lainnya adalah tentara atau hulubalangnya. Bila hati seseorang tertata baik, organ yang lain akan turut menjadi baik, demikian pula sebaliknya.

Proses menata hati bagi setiap orang adalah pertarungan yang berlangsung seumur hidup dan tak mengenal selesai. Ada saat-saat ketika hidup terasa seperti menyeberangi padang luas tak bertepi.

Seolah sedang berjalan dan membawa beban yang tidak terlihat. Sekilas langkah kaki seseorang tampak mantap, tetapi sebenarnya bisa jadi rapuh.

Di perjalanan itu, setiap orang bisa saja merasa seperti sebutir debu yang tak berdaya dan diterbangkan oleh desir angin dunia.

Agar tidak berputus asa dan hilang arah, tentu membutuhkan sebuah pengingat berupa kesadaran bahwa satu-satunya harapan hanyalah mengharap pertolongan dari Yang Maha Penolong.

Setiap hamba selayaknya mengarahkan pandangannya kepada satu titik cahaya, yaitu kepada pengawasan Allah.

Ada satu istilah yang sempat saya catat dalam kesempatan tersebut, yaitu muraqabah, sebuah kesadaran halus yang melampaui kata-kata. Muraqabah dalam tasawuf bukan sekadar merasa ditatap oleh Allah.

Ia adalah pengalaman batin ketika seseorang menyadari bahwa dirinya senantiasa hadir di hadapan-Nya. Dalam keadaan itu, hati menjadi peka terhadap bisikan lembut yang mengajak kembali kepada-Nya.

Kecemasan manusia sering lahir dari rasa terpisah, yaitu merasa berdiri sendiri di tengah badai takdir, padahal seseorang senyatanya tidak pernah benar-benar sendirian.

Jika seseorang merasakan jarak, itu sebenarnya bukan karena Allah jauh, tetapi karena hati seseorang itu sedang menoleh ke arah lain.

Muraqabah adalah latihan untuk menoleh kembali, mengembalikan pandangan kepada Sumber Pertama yang membuat segala sesuatu hidup.

Dalam jalan sufi, berharap kepada Allah bukanlah aktivitas pikiran, melainkan gerak hati. Harapan itu bukan sekadar keinginan agar doa terkabul, tetapi rasa tawakal yang tulus bahwa apa pun yang Allah pilihkan, itulah yang paling baik bagi jiwa seorang hamba.

Ketika harapan seperti ini tumbuh, dengan sendirinya kecemasan melemah. Karena apa yang ditakuti tidak mungkin lepas dari pengaturan-Nya, dan apa yang diinginkan tidak akan datang kecuali atas izin-Nya.

Para mursyid menggambarkan hati bagaikan cawan. Bila cawan itu diisi terlalu penuh oleh ketakutan, ia tidak memiliki ruang untuk cahaya harapan.

Bila ia terlalu penuh oleh harapan kosong, ia tidak punya ruang untuk kebijaksanaan. Muraqabah mengajarkan keseimbangan, yaitu mengosongkan diri dari keterikatan agar Allah sendiri yang mengisi.

Dalam kekosongan itu, hati menjadi tenang dan jernih, setenang dan sejernih permukaan danau saat mati angin dan hanya memantulkan keindahan.

Zaman ini membuat manusia menjadi panjang angan, tergesa-gesa, sombong, dan iri hati. Manusia mengejar apa yang belum tentu hilang dan cemas terhadap apa yang belum tentu terjadi.

Para sufi mengajak untuk memperlambat langkah, mendengarkan desah napas sendiri, merasakan detak jantung, serta suara hati yang jujur. Dan itu semua adalah tanda pengawasan Allah. Setiap denyut adalah panggilan pulang, setiap napas adalah bukti penjagaan-Nya.

Harapan dalam tasawuf tidak pernah berdiri sendiri, karena selalu berjalan bersama rasa membutuhkan. Harapan hanyalah getaran halus yang lahir dari pengakuan bahwa seorang hamba bukanlah siapa-siapa tanpa rahmat Allah.

Dari getaran itu, jiwa menjadi lembut, dan kelenturan hati membuat kecemasan tidak lagi menancap sedalam sebelumnya. Ada momen dalam muraqabah ketika seseorang menyadari bahwa pertolongan Allah sering datang dalam bentuk yang tidak terduga dan dari arah yang tidak disangka-sangka.

Orang arif selalu mengatakan bahwa rahmat itu lebih dahulu daripada murka. Maka setiap kali hati diguncang cemas, sebenarnya itu adalah panggilan halus dari Allah agar hamba-Nya mendekat.

Muraqabah melatih seseorang untuk menanggung rahasia hidup dengan lapang. Tidak semua perlu dijelaskan, tidak semua harus dipahami.

Ada yang cukup diserahkan, ada yang cukup disimpan sebagai percakapan suci antara seorang hamba dan Tuhannya. Dalam percakapan yang tidak bersuara itu, seseorang belajar pasrah tanpa merasa kalah, berharap tanpa merasa menuntut.

Hati yang menjalani muraqabah adalah hati yang mengenal keheningan dan belajar memahami makna perlambang. Ia memahami bahwa kadang Allah mendidik dengan menunda, menguji dengan menahan, mencintai dengan menyembunyikan jawabannya.

Tetapi hati yang terlatih tahu bahwa penundaan itu kadang lebih baik. Dan ujian bukanlah sebuah pengabaian. Sebab Yang Maha Melihat tidak mungkin lalai, dan Yang Maha Dekat tidak mungkin menjauh.

Pada akhirnya, muraqabah adalah perjalanan menuju “kehadiran”: hadir kepada Allah, hadir kepada diri sendiri, hadir kepada kehidupan sebagaimana adanya.

Di titik itu, kecemasan tidak menghilang sepenuhnya, tetapi kehilangan kekuasaannya. Dan harapan tidak lagi menjadi bayangan rapuh, melainkan cahaya yang menuntun. Di situlah jiwa menemukan keteduhan yang tidak bisa dirampas oleh dunia.

Mungkin suatu hari nanti, ketika hati telah tertata, kita akan merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Batin dan pikiran menjadi lebih jernih. Langkah kaki menjadi lebih ringan. Sebuah keyakinan yang halus dan lembut bahwa Allah tidak pernah meninggalkan kita. []