Refleksi puisi Doa karya Chairil Anwar mengajak memahami cinta bukan sekadar perasaan, tetapi perjalanan menuju kesadaran Ilahi.
Oleh: Beno Siang Pamungkas
SAYA penasaran mengapa Chairil Anwar dalam hidupnya yang singkat dapat menghasilkan puisi berjudul Doa yang menurut saya sangat sufistik. Mungkin saja dia sempat mengakses karya sejumlah ahli tasawuf terkemuka seperti Al-Ghazali yang banyak mengupas konsep rasa cinta kepada Allah (mahabbah). Bahwa cinta merupakan kecenderungan hati yang lahir dari pengenalan (ma’rifah) terhadap keindahan dan kesempurnaan, yang puncaknya adalah cinta kepada Allah.
Semakin seseorang mengenal dan menyadari sumber segala kebaikan, semakin cintanya murni, sehingga ia mencintai bukan karena hasrat, melainkan karena kesadaran akan hakekat Ilahi itu sendiri.
Sebagian besar orang masih percaya bahwa cinta itu peristiwa, sesuatu yang datang tiba-tiba, seperti hujan yang tidak meminta izin kepada langit. Ia jatuh, membasahi, lalu selesai. Kita diajarkan untuk menunggu cinta sebagaimana kita menunggu takdir. pasif, diam, dan sedikit pasrah. Padahal mungkin sejak awal kita telah salah mengerti. Mengira cinta adalah kejadian, bukan kemampuan. Dari sinilah mungkin lahir istilah jatuh cinta.
Demi kejujuran, seringkali cinta justru hadir sebagai ketekunan yang nyaris tak terlihat. Ia bertahan untuk memahami, memilih untuk peduli, dan tetap menghormati meski hasrat ingin menguasai diam-diam menyelinap. Cinta bukan sekadar rasa yang menyala, melainkan disiplin yang dijaga agar tidak padam oleh ego sendiri.
Namun di titik ini, kita kerap terjebak pada satu pertanyaan yang jarang terucap. Jika cinta adalah kemampuan, dari mana ia belajar arah?
Sebab kemampuan tanpa orientasi hanya akan menjadi keterampilan kosong yang tidak bermakna. Kita bisa saja ahli mencintai, tetapi tidak tahu untuk apa atau kepada siapa cinta itu seharusnya berlabuh.
Di sanalah barangkali cinta mulai berubah wajah. Ia tidak lagi sekadar tindakan ke luar, melainkan perjalanan ke dalam. Sebab untuk mencintai dengan benar, seseorang terlebih dahulu harus mengenal apa yang layak dicintai.
Dan pengenalan itu tidak lahir dari permukaan, melainkan dari kesediaan untuk melihat keindahan dan kesempurnaan yang lebih dalam daripada sekadar bentuk.
Kita hidup di zaman yang gemar mencintai karena manfaat. Kita menyukai karena memberi rasa nyaman, kita bertahan karena ada keuntungan, kita setia selama tidak dirugikan.
Tanpa sadar, cinta kita menjadi transaksional. Seolah tulus, padahal diam-diam bersyarat. Dan ketika syarat itu hilang, cinta pun ikut pergi tanpa banyak perlawanan.
Padahal cinta yang bertumbuh dari pengenalan sejati tidak mudah goyah oleh kehilangan. Ia tidak bergantung pada apa yang diberikan, melainkan pada apa yang disadari. Semakin seseorang mengenali sumber kebaikan, semakin ia memahami bahwa yang dicintainya bukan sekadar wujud, tetapi makna di baliknya. Dari sana, cinta menjadi lebih tidak tergesa, tidak menuntut, dan tidak mudah padam.
Mungkin itu sebabnya cinta yang dewasa tidak selalu terlihat romantis. Ia justru tampak seperti tanggung jawab yang dijalani tanpa keluhan.
Ia hadir dalam perhatian kecil yang konsisten, dalam kesediaan memahami tanpa harus selalu disepakati, dan dalam keberanian menjaga jarak agar tidak melukai. Cinta seperti ini tidak meledak-ledak, tetapi bertahan lebih lama dari yang disangka.
Namun ada satu hal yang sering luput dari pandangan. Semakin tinggi cinta seseorang, semakin ia tidak sibuk berusaha memiliki.
Ia justru sibuk merawat bahkan jika itu berarti tidak menggenggam sepenuhnya. Sebab ia tahu, mencintai bukan tentang menguasai yang lain, melainkan menjaga dirinya sendiri agar tetap utuh saat berhadapan dengan yang dicintai.
Ini sejalan dengan konsep Seni Mencintai ala Erich Fromm, seorang filsuf yang menulis kajian khusus dalam bukunya The Art of Loving.
Di titik tertentu, cinta bahkan berhenti mencari balasan. Ia menjadi semacam kesadaran yang jernih. Bahwa mencintai adalah cara manusia mendekati sesuatu yang lebih tinggi dari dirinya sendiri.
Maka ketika cinta diarahkan pada sumber segala keindahan, ia tidak lagi gelisah oleh perubahan, karena yang dicintainya tidak berubah.
Dari sana, cinta kepada manusia menemukan tempatnya yang lebih wajar. Ia tidak lagi menjadi pusat, melainkan pantulan.
Kita mencintai sesama bukan karena mereka sempurna, tetapi karena kita belajar melihat sesuatu yang lebih dalam daripada kekurangannya. Dan anehnya, justru dengan cara itu cinta menjadi lebih manusiawi dan masuk akal.
Barangkali selama ini kita terlalu sibuk mencari siapa yang tepat untuk dicintai, sampai lupa menyiapkan diri untuk mencintai dengan tepat.
Kita mengukur orang lain dengan harapan kita, tetapi jarang mengukur diri dengan kedalaman yang kita tuntut dari cinta itu sendiri. Akibatnya, cinta selalu terasa kurang, bukan karena objeknya, tetapi karena subjeknya belum selesai.
Cinta pada akhirnya bukan soal menemukan, melainkan menjadi. Menjadi cukup dewasa untuk memberi tanpa kehilangan diri, cukup sadar untuk mencintai tanpa pamrih, dan cukup jernih untuk mengetahui ke mana cinta itu harus kembali.
Dan puncak dari perjalanan cinta manusia adalah mengenal dan mencintai penciptapnya, yaitu Allah Sang Maha Agung dan Maha Indah. Di sinilah puisi Doa karya Chairil Anwar menemukan relevansinya.
Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk
Tuhanku
aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling. []






