Seratus Tahun Kesunyian

beno siang pamungkas
Seratus Tahun Kesunyian
Ilustrasi/Zonasi.id

Seratus Tahun Kesunyian berhasil menghidupkan kompleksitas keluarga Buendia dan Macondo dengan sentuhan visual yang memukau, menawarkan pengalaman baru tanpa kehilangan esensi karya Gabriel Garcia Marquez.

Oleh: Beno Siang Pamungkas

SEANDAINYA Gabriel Garcia Marques masih hidup dia mungkin akan tersenyum bahagia saat menonton tayangan serial Netflix yang merupakan alih wahana (ekranisasi) dari novelnya yang paling banyak dibicarakan orang yaitu Cien Anos De Soledad (Seratus Tahun Kesunyian).

Tidak semua ekranisasi berjalan mulus dan memuaskan pengarangnya. Proses adaptasi karya sastra seperti novel, cerita atau drama menjadi film layar lebar atau televisi, bukannya tanpa risiko.

Ernest Hemingway dikabarkan sangat kecewa saat cerpennya yang mengangkat namanya ke kancah dunia The Oldman and The Sea (Laki-laki Tua dan Laut) difilmkan.

Saat novel Pramudya Ananta Toer Bumi Manusia diangkat ke layar lebar, mayoritas kritikus menilai keindahan dan kehebatan gaya bertutur Pram kurang muncul dalam film yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo tersebut.

Seratus Tahun Kesunyian yang terdiri dari dua serial dan masing-masing terdiri dari delapan episode, serial pertamanya sudah bisa kita nikmati bersama.

Kisah tentang keluarga besar Buendia yang membangun Macondo dengan segala kompleksitasnya dapat kita nikmati seperti kita membaca novelnya.

Peran narator yang menjadi penghubung antar peristiwa membuat tayangan Netflix ini seperti lembar-lembar buku yang dibacakan langsung oleh pengarangnya serta dilengkapi gambar-gambar yang luar biasa.

Proses pembuatan film ini di tahap awal berjalan alot, karena Marques khawatir hasilnya akan mengecewakan.

Genre realisme magis yang menjadi kekuatan dan tulang punggung novel ini memang berpotensi menjadi dangkal saat dialihwahanakan.

Namun sang sutradara mampu menterjemahkan novel tersebut seperti gaya orang yang sedang membacakan dongeng dan kita para penonton menjadi anak-anak yang terpukau dengan karakter tokoh-tokohnya yang luar biasa.

Termasuk kisah-kisah mistis dan sihir yang berkelindan dengan sains seperti magnet, pianola, dan fotografi serta penemuan es batu yang dibawa oleh rombongan gipsi pengembara yang dipimpin oleh Melquiades.

Gabriel Garcia Marques, sastrawan kelahiran Aracataca, Kolombia, berhasil mengangkat pamor kesusastraan Amerika Latin sehingga bisa dikenal dan dihargai di seluruh dunia.

Bersama Jorge Luis Borges dari Argentina, satu angkatan di atasnya (1899-1986), mereka adalah dua raksasa sastra yang banyak mengangkat kisah-kisah kelam dari khasanah lama Amerika Latin dan gayanya kemudian diadopsi dan menginspirasi para pengarang besar dunia yang lahir belakangan.

Sejumlah peristiwa besar dan tragedi yang terjadi di Indonesia seperti peristiwa tahun 1965, Petrus, Tanjung Priok, Kerusuhan Mei, Fredy Sambo, Penembakan Siswa SMK, dan sejumlah pelanggaran HAM lainnya, serta kasus-kasus mega korupsi dan penodaan demokrasi tentu bisa menjadi bahan mentah yang siap diolah oleh para kreator sehingga menjadi karya yang menginspirasi bahkan memicu perubahan.

Mungkin kita perlu tujuh turunan atau seratus tahun untuk menjadi lebih baik. Atau malah berputar-putar tanpa arah dan terpuruk dalam keputusasaan dan tiada harapan bersama. [bsp]