Saat jabatan runtuh dan nama tercoreng, mungkinkah itu bukan akhir—melainkan tarbiyah Ilahi yang sedang bekerja?
Oleh: Beno Siang Pamungkas
SAYA punya seorang kawan yang namanya hari-hari ini ramai diperbincangkan. Secara beruntun ia mengalami peristiwa yang menurut ukuran orang awam bakal tak tertahankan.
Pertama partainya tidak lolos ke Senayan. Kedua ia sendiri gagal terpilih sebagai wakil rakyat. Ketiga jabatannya sebagai ketua dicopot. Dan yang terakhir ia dilaporkan ke polisi oleh mantan anak buahnya.
Terhadap peristiwa beruntun tersebut saya cuma bisa berempati dan berharap semoga kawan tersebut bisa melalui tahapan krusial dalam hidupnya.
Karena saya sepenuhnya percaya bahwa setiap peristiwa yang terjadi di dunia ini bukan kebetulan, tapi adalah cara Allah menumbuhkan kesadaran hambanya agar selalu teringat kepada-Nya.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menyebut semua peristiwa sulit sebagai musibah. Padahal dalam pandangan tasawuf, tidak setiap kesulitan semata-mata musibah.
Ada yang disebut ujian atau cobaan, ada pula yang benar-benar musibah. Perbedaannya tidak terletak pada berat-ringannya peristiwa, melainkan pada makna batin dan arah didikannya bagi jiwa manusia.
Ujian atau cobaan adalah cara Allah menguji kualitas batin seorang hamba. Ujian bisa datang dalam bentuk kesempitan, tetapi juga dalam bentuk kelapangan berupa jabatan, pujian, rezeki, bahkan ketenaran.
Lewat ujian, seseorang digembleng apakah ia tetap jujur, rendah hati, bersyukur, dan sadar batas dirinya. Ujian bekerja seperti cermin yang akan memantulkan siapa sebenarnya ia ketika diberi kesempitan atau kelapangan.
Musibah, sebaliknya, biasanya hadir sebagai pukulan telak terhadap ego yang berdampak terhadap kehilangan, kegagalan, sakit, atau duka. Orang-orang arif merespon musibah tidak semata sebagai hukuman, tetapi sebagai peringatan dan penyingkap.
Musibah akan meruntuhkan rasa mampu, merasa berkuasa, dan ilusi kemandirian. Musibah memaksa manusia kembali pada kesadaran mendasar bahwa seorang hamba senantiasa rapuh, rentan, terban, dan serba terbatas kemampuannya, sehingga sepenuhnya bergantung pada Allah.
Baik ujian maupun musibah, keduanya harus dipahami sebagai jalur yang sama, yaitu pendidikan langsung dari Allah (tarbiyah Ilahi). Hidup menjadi ruang belajar, dan peristiwa menjadi guru. Nikmat mengajarkan syukur dan amanah.
Kesulitan mengajarkan sabar dan tawakal, dan kehilangan membuat seseorang belajar ikhlas dan ridha. Sehingga setiap kejadian mengandung hikmah yang dapat dipetik, dan bukannya netral.
Bila mampu berada di tahapan yang seperti itu tak bakal lagi ada pertanyaan gugatan “mengapa ini terjadi?”. Yang muncul justru rasa ingin tahu seperti seorang anak kecil yany penasaran, “apa yang sedang Allah didik dalam diriku?”
Bila hidup dibaca seperti ini, tak ada lagi penderitaan yang tak tertahankan. Tak ada lagi kebahagiaan yang membuat seseorang terbuai dan lalai.
Keduanya adalah jalan pulang yang sama, menuju sebuah rumah bernama jiwa yang tercerahkan. Terhadap kawan yang saya sebut di awal kalimat di atas, saya pun berharap demikian. []






