Tulisan Jelek

beno siang pamungkas
Tulisan Jelek
Ilustrasi

Di zaman ketika hampir setiap tulisan tampak rapi, sempurna, dan berstruktur, kita justru mulai kehilangan jejak tulisan yang benar-benar “manusiawi.”

Oleh: Beno Siang Pamungkas

SAAT ini semakin sulit menemukan tulisan (sebagai buah karya) yang jelek. Setiap orang nyaris semuanya dapat memproduksi tulisan, seperti artikel, cerita, puisi, atau esai dengan kualitas tertentu yang bisa disebut mendekati sempurna. Dalam waktu yang belum begitu lama, sebelum seseorang memiliki kemampuan untuk menghasilkan tulisan yang jelas dan efektif dalam menyampaikan pesan atau ide, perlu latihan dan jam terbang yang lama. Belum lagi membuat tulisan memiliki struktur yang logis dan koheren, menggunakan bahasa secara efektif dan persuasif, tulisan memiliki kedalaman dan analisis yang memadai serta memiliki gaya penulisan yang unik dan menarik.

Untuk menghasilkan tulisan dengan kualifikasi semacam itu bagi mayoritas penulis merupakan jalan terjal berliku dan harus diasah dan dilatih setiap hari, sepanjang hidupnya. Apakah semuanya berhasil? Tentu saja tidak. Sehingga yang muncul kemudian adalah kebanyakan tulisan kurang jelas dalam menyampaikan pesan atau ide, tidak memiliki struktur yang logis atau koheren, menggunakan bahasa yang tidak efektif atau tidak persuasif, kurang memiliki kedalaman atau analisis yang memadai dan tidak memiliki gaya penulisan yang unik atau menarik.

Mengapa mayoritas tulisan yang dihadirkan hari ini nyaris sempurna? Karena sebagian besar penulis memanfaatkan jasa kecerdesan buatan (AI) untuk memproduksi tulisan apa saja. Bila seseorang bisa memasukkan input yang tepat berupa pertanyaan, instruksi atau contoh yang tepat (prompt) dalam tempo sekian detik sudah tersaji tulisan yang setara dengan kemampuan seorang penulis yang di era sebelumnya membutuhkan ketekunan bertahun-tahun.

Tanpa harus membaca buku, saat ini kita bisa membuat ringkasan bahkan menulis ulasan buku secara komprehensif dengan berbagai latar belakang keilmuan. Kita tidak perlu dipusingkan urusan menyusun kalimat dan argumentasi yang kokoh. Sekarang semuanya bisa dilakukan hanya dengan satu klik. Sejumlah kecakapan dasar yang harus dikuasai oleh seorang penulis menjadi tidak penting dan dapat dilupakan.

Menurut AS Laksana, ChatGPT, atau AI generatif lainnya, menghasilkan kalimat dengan cara menebak kata apa yang paling cocok untuk dimunculkan setelah kata sebelumnya, berdasarkan pola-pola dari miliaran contoh bahasa yang sudah dilatihkan kepadanya. Jadi, ia menirukan bahasa manusia, dan untuk tahap sekarang ia adalah peniru yang membosankan.

AS Laksana menambahkan, yang membuatnya membosankan adalah ia mengulang dirinya sendiri terus-menerus. Ia memakai gaya yang sama, frase yang sama, struktur kalimat yang sama, dan itu dilakukannya dari satu jawaban ke jawaban berikutnya dan dari satu pengguna ke pengguna lainnya.

Ia melakukan plagiarisme terhadap dirinya sendiri. Kita bisa melihat hasilnya pada tulisan-tulisan di media sosial, blog, naskah iklan, caption instagram, atau cerita-cerita yang dibantu AI—sebuah monotoni yang menjemukan.

Mungkin suatu saat orang akan merindukan lagi tulisan-tulisan yang jelek, tulisan yang tidak terlalu sempurna, tulisan dengan sejumlah kesalahan tanda baca, struktur yang kacau dan amburadul dan sejumlah cacat lainnya yang menunjukkan bahwa karya tersebut benar-benar ditulis oleh manusia, bukannya oleh mesin yang membuatnya seragam dan membosankan. []