Doa adalah wujud ketundukan manusia di hadapan Tuhan, sebuah harapan yang melampaui batas keadaan, bahkan dalam keterpurukan dan kehilangan.
Oleh: Beno Siang Pamungkas
DOA seorang pelacur yang berharap mendapat seorang pelanggan adalah sebuah kondisi yang dilematis. Bila tidak terkabul, dia dan terutama anak-anaknya akan kelaparan. Bila Tuhan mengabulkan dengan mengirimkan seorang pelanggan berarti dia terjerumus ke dalam salah satu dosa besar, yaitu berzinah sekaligus memperjualbelikan tubuhnya. Iwan Fals mengangkat persoalam tersebut dalam lagunya yang berjudul “Doa Pengobral Dosa”.
Wanita pekerja seks komersial (PSK) dari kelas yang terbawah itu–mangkal di gerbong tak terpakai, bermake up tebal dan berteman nyamuk nakal–adalah potret kehidupan urban yang ingin kita sembunyikan: kemiskinan, tiadanya lapangan pekerjaan, kriminalitas dan berbagai problematika lainnya.
Karena kepepet dia tetap berdoa kepada Tuhannya agar esok hari anak-anaknya tetap dapat makan. Dan entah bagaimana cara Tuhan bekerja dia tetap berharap agar Tuhan memberi setetes rejeki. Dan tetap memberi terang kepada jalan anak-anaknya.
Dalam agama samawi, doa adalah salah satu kegiatan terpenting yang dilakukan oleh orang yang percaya dalam berbagai kondisi.
Dalam ajaran Islam, doa adalah kegiatan peribadatan berupa invokasi atau permohonan kepada Allah terhadap sesuatu hal. Doa dalam Islam merupakan bagian paling mendasar dari ibadah. Doa dipanjatkan oleh seorang muslim ketika mengalami kesusahan maupun diberi kemudahan dalam kehidupan di dunia.
Bahkan ketika seseorang telah meninggal dan urusannya dengan dunia telah terputus hanya ada tiga perkara yang masih dapat tersambung kepada arwah si fulan, yaitu amal jariyah, ilmu yang bermanfaat serta doa dari anaknya yang saleh.
Selasa malam lalu (4/2), KH. Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus bersama sejumlah seniman dan budayawan lain juga meyakini bahwa persahabatan di kalangan seniman dan budayawan itu juga tetap terjalin meski pun di antara mereka telah ada yang meninggal dunia. Untuk itu Gus Mus mengundang keluarga para sahabatnya yang telah meninggal untuk melangitkan doa bersama di Gedung Serba Guna Taman Budaya Raden Saleh Semarang untuk mengenang kebaikan dan jasa mereka dalam menghidupkan dunia seni dan kebudayaan di Jawa Tengah.
Menurut Gus Mus Allah SWT akan menerima permohonan hamba-Nya dan berjanji akan memberikan ijabahnya. Maka hadirin diajak memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa, khususnya untuk seniman dan budayawan yang telah dipanggil terlebih dahulu. Karena kepada merekalah kita banyak berutang rasa .
Sejumlah nama budayawan yang didoakan dalam acara tersebut antara lain Eko Budihardjo, Darmanto Jatman, Agus Maladi Irianto, Prie Gs, Agoes Dhewa, Handry TM, Soekamto Gullit, Djawahir Muhammad, Murtidjono, dan Slamet Gundono.
Karena acara Umbul Donga itu untuk seniman dan budayawan wujudnya tidak sekedar doa, namun dikemas dalam sajian pertunjukan yang menarik. Ada performance musik dari Tsaqiva Kinasih Gusti, pembacaan puisi karya almarhum oleh Rektor Undip Suharnomo, Kelana Siwi, Adhitia Armitrianto, Ilham Anwar, Imaniar Yordan Christy, Sosiawan Lek, serta penampilan teatrikal dari Eko Tunas, Teater Hae serta Teater Lingkar.
Doa adalah manifestasi dari sifat kehambaan seseorang, sebuah konsep bathin bahwa di hadapan entitas Yang Maha Segalanya, kita adalah makhluk hina yang tak berdaya. Dan kita hanya bisa “ndepe-ndepe”, merendahkan diri kita serendah-rendahnya dan semata berharap kepada Kemurahan Hati-Nya: berkah dan rahmat-Nya belaka yang kita harap. Seperti digambarkan dalam puisi “Doa” karta Chairil Anwar, si Binatang Jalang:
Tuhanku Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu
Biar susah sungguh
Mengingat Kau penuh seluruh
CayaMu panas suci
Tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
Aku hilang bentuk
Remuk
Tuhanku
Aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
Di pintumu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling. []






